Archive for the ‘KISAH NABI AYYUB AS!’ Category

h1

KISAH NABI AYYUB AS!

1 Maret 2014

KISAH NABI AYYUB AS!

KUBURAN NABI AYYUB AS!

KUBURAN NABI AYYUB AS! 

Assalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh…

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Nabi Ayyub AS) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)!”. (QS Shad: 44).

Nabi Ayyub AS adalah putra Amush bin Tawikh bin Rum bin Al-Aish (Esau, kembaran Nabi Yaqub AS) bin Ishaq AS bin Ibrahim AS. Isteri Nabi Ayyub AS adalah bernama Rahmah.

Dahulu kala, ada seorang laki-laki bernama Ayyub; orang itu sholeh dan jujur; dia bertaqwa kepada Allah dan menjauhi kejahatan. Dia selalu memuliakan para tamu yang berkunjung ke desanya, memberikan tempat penginapan bagi orang-orang asing dan senantiasa menyedekahkan barang dagangan dan tanaman pertaniannya. Dia juga dianugerahi banyak anak. Ayyub adalah seorang nabi yang ditugaskan berdakwah kepada Bani Isra’il dan Kaum Aramin di Haran, Syam. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Dia mempunyai 26 anak dan wafat di Huran, Syam.

Nabi Ayyub dikatakan sebagai orang yang terkaya dari antara kaumnya. Dikatakan bahwa dia mempunyai!:

7000 ekor kambing domba
3000 ekor unta
500 pasang lembu
500 keledai betina
budak-budak dalam jumlah yang sangat besar.

.

NABI AYYUB AS BERQURBAN UNTUK PENGAMPUNAN DOSA ANAK-ANAKNYA! 

BERQURBAN!

BERQURBAN! 

Anak-anak laki-laki Nabi Ayyub AS biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Nabi Ayyub AS memanggil mereka, dan menyucikan mereka.

Kessokan harinya, pagi-pagi, Nabi Ayyub AS terbangun, lalu Beliau AS berqurban sebanyak jumlah anak-anaknya, sebab Nabi Ayyub AS berfikir: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan mungkin telah lupa kepada Allah di dalam hati mereka”. Maka Ayyub AS berqurban agar dosa anak-anaknya segera diampuni!

.

NABI AYYUB AS JATUH MISKIN! 

Allah SWT berfirman: “Dan ingatlah akan hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhan-nya: ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan (Iblis) dengan kepayahan dan siksaan'”. (QS Shaad: 41﴿.

IBLIS TERBANG KE ATAS LANGIT UNTUK PERGI KE 'ALAM MALAIKAT!

IBLIS TERBANG KE ATAS LANGIT UNTUK PERGI KE ‘ALAM MALAIKAT! 

Nabi Ayyub AS memiliki kebiasaan beribadah melampaui orang-orang biasa. Hal inilah yang membuat Iblis menjadi tidak senang pada Ayyub AS. Pada saat itu, Iblis belum dilarang untuk naik ke langit. Di atas sana, Iblis berbincang-bincang dengan para malaikat yang selalu memuji Nabi Ayyub AS karena kepribadiannya yang suka beribadah, dermawan dan memuliakan tamu-tamu yang datang.

Maka Iblis berkata sendiri: “Jikalau Ayyub jatuh miskin, maka dia tidak akan lagi menyembah Allah. Dan seandainya aku diberi wewenang oleh Allah untuk menguras hartanya, maka niscaya dia akan meninggalkan ibadahnya”. Kemudian Allah mewahyukan kepada Iblis: “Aku sudah memberikan wewenang padamu untuk merusak harta Ayyub”. 

Iblis -La’natullah ‘alayh- kemudian mengumpulkan prajurit-prajuritnya untuk pergi menuju ladang dan hewan ternak milik Nabi Ayyub AS. Nabi Ayyub sendiri baru menyadari adanya suatu kejanggalan setelah ada api yang berkobar dahsyat keluar dari dalam tanah untuk membakar habis tanaman-tanamannya. Kemudian api itu berhembus menerpa hewan-hewan ternaknya dan akhirnya luluh lantak habis tidak tersisa.

Setelah itu Iblis menemui Nabi Ayyub AS yang sedang berdiri sholat di mihrabnya. Dia berkata kepada Nabi Ayyub AS: “Tuhan yang kau sembah itu telah membakar semua tanamanmu dan membinasakan semua hewan ternakmu”. Nabi Ayyub AS menjawab: “Segala puji hanya bagi Allah. Dia-lah yang telah memberikanku karunia-Nya dan kemudian mengambilnya kembali dariku”. 

ANAK-ANAK NABI AYYUB AS MENINGGAL DUNIA! 

Lalu Iblis kembali terbang ke langit dan bertemu dengan para malaikat di langit. Para malaikat bertanya: “Bagaimana usahamu?!”. Iblis menjawab: “Ayyub sabar menerimanya”. 

SEMUA ANAK NABI AYYUB AS MENINGGAL DUNIA GARA-GARA ANGIN RIBUT!

SEMUA ANAK NABI AYYUB AS MENINGGAL DUNIA GARA-GARA ANGIN RIBUT!

Kemudian Iblis bergumam: “Ayyub memang telah terpaut dengan janji Rabbnya. Seandainya Allah memberikan kewenangan bagiku untuk mencelakakan anak-anaknya, maka tentu dia tidak akan tahan melihatnya”. 

Allah SWT mengizinkan Iblis untuk melakukan rencana buruknya. Lalu Iblis mendatangi kediaman keluarga Nabi Ayyub AS dan mendatangkan angin ribut dengan seizin Allah -‘Azza wa Jalla- serta menggoyahkan rumahnya dengan keras sampai roboh.

Semua isi rumah yang terdiri dari sanak famili Nabi Ayyub -‘Alayhis salam- celaka dan binasa. Seluruh anak Nabi Ayyub AS pun meninggal dunia, kecuali Basyar (alias Nabi Dzulkifli AS) yang selamat dari reruntuhan rumahnya dan meloloskan diri dari situ. Kemudian Iblis yang sedang menyamar berwujud menjadi seorang pembantu keluarga, menemui Nabi Ayyub AS yang sedang khusyu’ beribadah di ruangan mihrabnya. Iblis mendekati Nabi Ayyub AS sambil menangis terisak-isak. Nabi Ayyub AS pun berkata kepadanya: “Apa yang telah terjadi, wahai babuku?”. Dia menjawab: “Rumah tuan hancur gara-gara diterpa oleh angin ribut dan menimpa semua sanak famili tuan yang ada di dalamnya. Mereka semua menjadi korban dalam kecelakaan tersebut”. Kemudian Nabi Ayyub AS berucap: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku anugerah dan kemudian mengambil kembali pemberian-Nya dariku”. 

Iblis datang kembali, sekarang dia menyamar berwujud menjadi seorang pelayan keluarga: “Seandainya tuan menyaksikan musibah yang menimpa anak-anak tuan, niscaya tuan menyaksikan darah mereka mengalir, perut mereka pecah dan usus-ususnya keluar”. Iblis terus berkata demikian dengan nada memelas agar Nabi Ayyub AS merasa iba mendengarnya. Dan memang benar akhirnya hati Nabi Ayyub AS lemah lunglai kemudian menangis dan berkata: “Yaa Rabb (yaa Tuhan), seandainya aku tidak Engkau ciptakan”. 

Mendengar ucapan Nabi Ayyub AS tersebut, Iblis bergembira. Akan tetapi tak lama kemudian Nabi Ayyub AS langsung memohon ampun atas keteledorannya, seterusnya beliau bersikap sabar dan ikhlas menerima ketentuan Rabbnya.

NABI AYYUB AS DIBERIKAN PENYAKIT KULIT! 

Melihat keteguhan Nabi Ayyub AS tersebut, Iblis berkata sendiri: “Seandainya Allah memberikan kewenangan bagiku untuk merusak anggota tubuhnya, maka dia tidak mungkin akan sabar menerimanya”. Dan Allah mengizinkan Iblis untuk melakukan hal itu.

Maka Iblis langsung mendatangi mihrab Nabi Ayyub AS dan beliau AS ditemukan sedang khusyu’ beribadah di dalamnya. Iblis kemudian mendekat pada Nabi Ayyub AS untuk meniup hidungnya. Secara spontan, tiba-tiba sekujur tubuh Nabi Ayyub as mulai dari ujung kepala sampai telapak kaki terasa gatal-gatal. Nabi Ayyub AS lalu menggaruknya dengan batu sampai dagingnya melepuh, kuku-kukunya tercabut dari akarnya, kulitnya lepas sehingga tulang-belulangnya kelihatan.

Di samping itu, aroma tubuhnya mengeluarkan bau badan yang busuk dan hal ini membuat belatung-belatung kecil keluar dari sekujur tubuhnya. Penyakit itu dirasakan begitu pedih oleh Nabi Ayyub AS sebab penyakitnya itu menjalar pada jasadnya. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Ayyub AS mempunyai tiga orang istri. Setelah mereka melihat kondisi suaminya yang terkena penyakit kulit begitu menjijikkan, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkannya. Dan satu-satunya istri yang masih setia pada Nabi Ayyub AS hanyalah Rahmah. Tidak berhenti sampai di situ, Iblis kemudian mendatangi penduduk kampung dan berseru: “Hai saudara-saudara, kalian semua harus mengusir Ayyub dari perkampungan ini. Sebab jika dia masih berdiam diri di sini, maka kalian semua nanti akan terkena penyakitnya!”. Penduduk kampung pun ramai-ramai mendatangi Rahmah dan berkata padanya: “Hai Rahmah, bawalah suamimu pergi. Dan jika tidak, maka kami akan membunuhnya!”. 

Mendengar ancaman tersebut, Rahmah berkemas untuk memboyong Ayyub AS. Dia membawa suaminya dengan cara digendong di kedua pundaknya. Mereka berdua menelusuri perjalanan sampai berhenti di suatu retuntuhan. Di tempat itulah, Rahmah merebahkan suaminya. Dan Nabi Ayyub AS pun tidur dengan tanah sebagai alasnya. Nabi Ayyub AS terlelap tidur di atas tanah dengan belatung yang terus-menerus keluar dari sekujur tubuhnya.

Ketika peristiwa tersebut berlangsung, selain istrinya, tidak ada seorang pun yang mau mendekatinya. Hal itu dijalani mereka berdua selama tujuh tahun. Rahmah sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya sengaja pergi ke perkampungan. Dia bekerja pada mereka dan hasilnya untuk membeli roti dan makanan.

Ketika Rahmah sudah semakin jengkel pada nasib suaminya itu, maka ia pun berkata: “Hai Ayyub, masihkah engkau tekun dalam kesholehanmu? Laknatilah Tuhan mu dan bunuh dirilah engkau! Dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini, masihkah engkau mau menyembah Allah SWT?!”. Tetapi Nabi Ayyub AS menjawab kepadanya: “Hai istriku, engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita hanya mau menerima yang enak dari Allah SWT, tetapi tidak mau menerima yang tidak enak dari-Nya?!”. Dalam kesemuanya itu Nabi Ayyub AS tidak berbuat dosa dengan lisannya.

Suatu saat Iblis menemui penduduk kampung untuk menghasut mereka. Dia berseru: “Hai saudara-saudara, kalian semua jangan membiarkan Rahmah masuk ke perkampungan ini. Sebab dia nanti akan menularkan penyakit yang diderita suami nya!”. Maka ketika Rahmah datang untuk bekerja, mereka langsung menegurnya, kata mereka seraya mengancam: “Hai Rahmah, jauhkanlah suamimu dari kami. Jika tidak, maka kami akan melemparinya dengan batu sampai dia mati!”. Rahmah akhirnya mengalah dan membawa pergi suaminya dengan digendong di atas kedua pundaknya.

Dia pergi bersama Nabi Ayyub AS menuju tempat yang jauh dari perkampungan. Setelah sampai pada tempat yang dituju, Rahmah meletakkan suaminya di atas hamparan kerikil dengan batu sebagai bantalnya. Kemudian dia berkata: “Wahai suamiku, mohonlah kepada Allah agar penyakitmu sembuh!”. Tetapi Nabi Ayyub AS menjawabnya dengan penuh kepasrahan: “Hai Rahmah, Allah sengaja tidak memberikan pada kita akan nikmat-nikmat-Nya. Hal itu dimaksudkan untuk mencoba kita, apakah kita sabar dalam menghadapi musibah-Nya ataukah tidak”.

Rahmah sendiri mencoba untuk pergi dan mengetuk pintu-pintu rumah penduduk untuk meminta belas kasihan mereka. Tetapi mereka malah mengusirnya dan berkata: “Pergilah kau dari daerah kami! Janganlah kau tularkan penyakit suamimu pada kami!”. Maka tatkala Rahmah sudah kehabisan cara untuk mendapatkan makanan, sedangkan Nabi Ayyub AS, suaminya itu, sudah merasa sangat lapar, maka dia memutuskan untuk memotong gelungan rambutnya. Kemudian gelungan itu dijualnya demi sepotong roti. Setelah itu, dia pulang menemui Nabi Ayyub AS dengan membawa roti. Nabi Ayyub AS bertanya padanya: “Dari mana engkau peroleh roti ini, hai istriku?”. Dan Rahmah pun menceritakan usahanya untuk mendapatkan roti itu, yaitu dengan cara menukarnya dengan gelungan rambutnya. Begitu mendengar penuturan istrinya, Nabi Ayyub AS kontan saja menangis terisak-isak, kemudian ia bersabar dan pasrah.

Mu’adz bin Jabal RA meriwayahkan, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Jika ada nanah atau darah yang keluar dari salah seorang lelaki, kemudian istrinya mengusap (darah atau nanah tersebut) dengan jilatan lidahnya dan dia tidak ridho pada isteriya itu, maka lelaki itu nanti pada hari kiamat akan ditempatkan di dalam peti yang terbuat dari api sampai turun ke dasar Jahanam”. (Hadits Riwayah Mu’adz bin Jabal RA).

IBLIS MENGGANGGU NABI AYYUB AS!

IBLIS MENGGANGGU NABI AYYUB AS!

Kemudian, suatu saat Iblis menyamar sebagai seorang dokter bertemu pada Rahmah, istri Nabi Ayyub AS itu. Iblis berkata: “Apakah Anda benar istri Ayyub?”. Rahmah menjawab: “Ya, benar”. Kemudian Iblis melanjutkan: “Aku akan mengobati penyakit suamimu dengan syarat dia harus memotong hewan tanpa menyebut nama Allah. Di samping itu dia juga harus meminum khamr (alkohol)!”. 

Lalu Rahmah pulang dan menceritakan hal itu pada Nabi Ayyub AS. Mendengar penuturan istrinya itu, Nabi Ayyub AS marah dan berkata: “Celaka kamu, dia itu Iblis Laknatullah”. Nabi Ayyub AS marah kepada Rahmah, istrinya sendiri itu. Penyebab kemarahan Nabi Ayyub AS disebabkan karena Rahmah menerima begitu saja persyaratan dari Iblis tanpa mengatakan bahwa Allah sendiri nanti yang akan menyembuhkannya.

Selanjutnya Nabi Ayyub AS menangis dan bermunajat: “Yaa Allah, yaa Rabbku, aku tidak mungkin bisa menentukan dua pilihan kecuali di sana ada ridho-Mu. Aku tidak peduli dengan keinginanku tanpa disertai dengan ridho-Mu. Aku sama sekali tidak merasa kenyang ketika makan karena takut aku lupa pada orang yang lapar. Maka dosa apa yang aku lakukan sehingga Engkau menyiksa aku seperti ini?!”. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya: “Wahai Ayyub, apakah kesabaranmu atas cobaan ini berkat pertolongan-Ku atau keinginanmu?!”. Lalu turun lagi wahyu kepadanya: “Wahai Ayyub, seandainya aku jadikan setiap helai rambut yang ada di tubuhmu itu kesabaran, maka kamu tidak akan kuat merasakan sebagian kepedihan yang menggejala di jasadmu”.

Ketika Nabi Ayyub AS sakit, isterinya pernah lalai mengurusinya. Ketika Beliau AS sakit, Beliau AS telah menemui kepingan uang milik isterinya yang diperoleh dari hasil pekerjaannya melakukan sesuatu, sehingga Beliau AS bersumpah akan memukuli istrinya seratus kali pukulan. Kemudian Allah SWT meringankan Nabi Ayyub AS dan isterinya, seraya dikatakan kepadanya: “Hai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput, yakni seikat jerami, ilalang, tangkai atau yang lainnya sebanyak seratus biji, kemudian pukullah istrimu dengannya, dan janganlah kamu melanggar sumpahmu!”.

Allah SWT berfirman: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah (isterimu) dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpahmu. Sesungguhnya Kami dapati dia (Nabi Ayyub AS) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)!”. ﴾QS Shaad: 44﴿.

Ketika belatung itu terus-menerus  keluar dan menjalar di sekujur tubuh Nabi Ayyub AS sampai-sampai ada yang akan menyentuh lidahnya, maka Nabi Ayyub AS merasa khawatir kalau-kalau hal itu akan mengganggu kesibukannya dalam berdzikir kepada Allah SWT. Jika belatung itu terlepas atau terjatuh dari tubuh beliau AS, maka dikembalikan lagi ia ke tempatnya dan beliau AS berkata: “Makanlah dari rezeki yang diberikan Allah SWT!”. 

Maka Beliau AS berdoa: “Yaa Allah, yaa Rabbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang” (Lihat QS Al-Anbiya': 83).

Setelah Nabi Ayyub AS mengucapkan do’a di atas, maka Allah SWT mengetahui bahwa Nabi Ayyub AS memang benar-benar telah kaget menerima penyakit itu, sampai-sampai belatung itu akan merusak lisannya yang bisa-bisa akan mengganggu kesibukannya dalam berdzikir kepada-Nya. Maka datanglah malaikat Jibril AS menjenguk Nabi Ayyub AS dengan membawa buah delima serta buah kelapa dari jannah (syurga). Lalu Nabi Ayyub AS bertanya kepadanya: “Siapakah Anda, wahai orang baik yang telah membuat aku gembira tatkala para sahabat dan orang-orang yang aku cintai meninggalkanku sendirian???”. 

Kemudian Jibril AS mendekatkan buah delima itu pada Nabi Ayyub AS agar dimakannya. Begitu Nabi Ayyub AS memakannya, maka semua rasa sakit yang diderita di dalam tubuhnya hilang seketika. Malaikat Jibril AS berkata kepadanya: “Wahai Ayyub, bangunlah!!!”. Nabi Ayyub berkata: “Bagaimana aku bisa bangun, sedangkan jasadku tidak berdaya apa-apa”. Maka Malaikat Jibril AS memegang Nabi Ayyub AS dengan tangannya kemudian memapahnya sekitar dua belas langkah, lalu berkata padanya: “Coba sekarang doronglah dengan kaki kananmu untuk berjalan!”. 

Maka kembalilah Nabi Ayyub AS bisa berjalan lagi seperti sedia kala.

SAUDARA-SAUDARA NABI AYYUB AS DATANG! 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Nabi Allah, Ayyub AS, diuji dengan musibah tersebut selama delapan belas tahun, dimana keluarga dekat serta keluarga yang jauh telah menolaknya dan mengusirnya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya, dimana keduanya telah memberinya makan dan mengunjunginya. Kemudian pada suatu hari salah seorang dari kedua saudaranya itu berkata kepada saudaranya yang satu: ‘Demi Allah, perlu diketahui, bahwa Ayyub telah melakukan suatu dosa yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunya ini’. Sahabatnya itu bertanya: ‘Dosa apakah itu?’. Saudaranya tadi berkata: ‘Selama delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya, sehingga tidak menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya.’ Ketika mereka mengunjungi Ayyub AS maka salah seorang dari mereka itu tidak dapat menahan kesabarannya, sehingga ia menyampaikan pembicaraan tersebut kepadanya. Ayyub AS menjawab: ‘Aku tidak mengetahui apa yang kamu berdua bicarakan, kecuali Allah Ta’ala telah memberitahukan; bahwa aku diperintah untuk mendatangi kalian yang berselisih supaya kalian mengingat Allah. Sedangkan aku akan kembali ke rumahku dan menutup diri dari kalian, karena kalian enggan mengingat Allah dalam hal kebanaran'”. (Hadits Shahih).

Dengan adanya penderitaan yang menimpa Nabi Ayyub AS ini, semua saudara dan kerabat Nabi Ayyub AS tidak mau lagi berhubungan dengan Nabi Ayyub AS.

NABI AYYUB AS!

NABI AYYUB AS!

Ketika itu datanglah kedua orang saudara laki-laki Nabi Ayyub AS beserta sahabat Nabi Ayyub AS setelah mendengar kabar tentang segala ujian hidup yang menimpanya, mereka datang dari tempatnya masing-masing, yakni!:

  • - Ilyafaz, sahabat Nabi Ayyub AS;
  • - Bildad, orang Syuw’ah; serta
  • - Zufar, orang Na’amah.

Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepada Nabi Ayyub AS dan menghiburnya. Mereka-lah yang memberinya makan dan menjenguknya. Ketika mereka memandang Nabi Ayyub AS dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepalanya. Lalu mereka duduk bersama-sama Nabi Ayyub AS di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Selanjutnya terjadi-lah perdebatan antara Nabi Ayyub AS dan saudara-saudaranya tentang cobaan yang menimpanya itu. Dan ketika mereka berbicara, maka datanglah Alyahu untuk ikut mengobrol bersama mereka. Dan Alyahu-lah yang menyimpulkan dari pembahasan obrolan mereka itu, yakni membahas tentang penderitaan yang menimpa Nabi Ayyub AS.

Kemudian pada suatu hari salah seorang dari kedua saudaranya itu berkata kepada saudaranya yang satu: “Demi Allah, perlu diketahui, bahwa Ayyub telah melakukan suatu dosa yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunya ini”. Sahabatnya itu bertanya: “Dosa apakah itu?”. Saudaranya tadi berkata: “Selama delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya, sehingga tidak menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya”.

Ketika mereka mengunjungi Nabi Ayyub AS, maka salah seorang dari mereka itu tidak dapat menahan kesabarannya, sehingga ia menyampaikan pembicaraan tersebut kepadanya. Nabi Ayyub AS menjawab: “Aku tidak mengetahui apa yang kamu berdua bicarakan, kecuali Allah SWT telah memberitahukan; bahwa aku diperintah untuk mendatangi kalian yang berselisih supaya kalian mengingat Allah. Sedangkan aku akan kembali ke rumahku dan menutup diri dari kalian, karena kalian enggan mengingat Allah dalam hal kebanaran”. 

.

ALLAH SWT KEMBALI MEMULIHKAN KEADAAN NABI AYYUB AS! 

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia menyeru Tuhannya: ‘(Yaa Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'”. ﴾QS Al-Anbiyaa': 83﴿.

Allah SWT berfirman: “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum!”. ﴾QS Shaad: 42﴿.

Allah SWT berfirman: “Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. ﴾QS Al-Anbiyaa': 84﴿.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ketika Ayyub AS pergi menunaikan hajatnya (kencing) maka istrinya memegang tangannya hingga selesai. Suatu hari istrinya datang terlambat dan Ayyub AS menerima wahyu: ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum!’ (QS Shad: 42). Ketika istrinya datang dan bermaksud menemuinya, maka ia melayangkan pandangannya dalam keadaan tertegun, dan Ayyub AS menyambutnya dalam rupa dimana Allah telah menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dan rupanya sangat tampan seperti semula. Ketika istrinya melihatnya, seraya bertanya: ‘Semoga Allah memberkatimu, apakah engkau melihat nabi Allah yang sedang diuji? Demi Allah, bahwa aku melihatnya mirip denganmu saat ia sehat’. Ayyub AS menjawab: ‘Sesungguhnya aku ini adalah dia!’. Ketika itu di hadapannya terdapat dua buah gundukan yaitu gundukan gandum dan jelai. Kemudian Allah mengirim dua buah awan, dimana ketika salah satunya menaungi gundukan gandum, maka tercurah padanya emas hingga penuh, sedangkan pada gundukan jelai tercurah mata uang hingga penuh!”. (Hadits Riwayat Abu Ya’la, 3617, yang dishahihkan oleh Al-Hakim (2/581-582) dan Ibnu Hibban (2091) serta Al-Albani dalam kitab Shahîh-nya no. 17).

Setelah Nabi Ayyub AS menderita penyakit kronis dalam jangka masa yang cukup lama, dimana sahabat dan familinya (keluarganya) telah melupakannya, maka Beliau AS pergi untuk buang hajat (kencing) sambil ditemani oleh istrinya yang terus memegang tangannya.

Suatu hari ketika Beliau AS selesai buang hajat (kencing), istrinya datang terlambat kepada Nabi Ayyub AS. Beliau AS berkata kepada Rabb nya: “Yaa Allah, yaa Rabb ku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang!”. Lalu Allah SWT mewahyukan kepada beliau AS melalui Malaikat Jibril AS, malaikat sang penyampai wahyu.

Nabi Ayyub AS dipapah oleh Malaikat Jibril AS. Malaikat Jibril AS menyuruhnya mandi, “Mandilah dengan air hangat dan minumlah dengan air dingin!”, kata Malaikat Jibril AS. Allah SWT pun berfirman: “Hai Ayyub, hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum!”. Tentulah Nabi Ayyub AS pun menuruti perintah Allah dan Malaikat Jibril.

YANG MAHA RAHMAN LAGI MAHA RAHIIM!

YANG MAHA RAHMAN LAGI MAHA RAHIIM! 

Tiba-tiba muncul-lah keajaiban (mukjizat), setelah Nabi Ayyub AS menghantamkan kakinya, maka memancar-lah mata air yang dingin karena hantaman kakinya tersebut. Allah SWT berfirman kepadanya: “Minumlah darinya serta mandilah!”. Maka nabi Ayyub AS melakukannya, kemudian Allah SWT menghilangkan penyakit yang menimpanya baik penyakit dzahirnya maupun penyakit batinnya dengan seketika. Secara spontan kegantengan dan kemolekan Nabi Ayyub AS tampak kembali, tubuhnya bersih bagaikan perak yang bersinar.

Dan pada akhirnya, setelah Nabi Ayyub AS mandi di mata air tersebut, maka belatung yang ada pada tubuhnya menjadi bertebaran membentuk permadani emas. Kemudian belatung itu terbang di udara. Dan akhirnya apa yang tadinya sebagai musibah menjadi kenikmatan baginya.

Lalu Malaikat Jibril AS membawakan sebuah mantel dari jannah (syurga) untuk dipakaikan pada Nabi Ayyub AS. Setelah itu Malaikat Jibril AS memasangkan mahkota dari jannah (syurga) untuknya. Dengan demikian Nabi Ayyub AS menjadi sosok yang bersih bersinar bagaikan matahari yang sedang menerangi. Pada saat itu pula Nabi Ayyub AS langsung melakukan sholat dua raka’at sebagai tanda syukurnya kepada Allah SWT atas nikmat dan keridhoan-Nya yang telah diberikan kepadanya. Menurut Abu Laits As-Samarkindiy, didalam Tanbihul Ghafilin, peristiwa ini adalah terjadi pada saat tanggal 10 Muharram.

Rahmah, istri Nabi Ayyub AS, datang terlambat kepadanya. Menurut perawi, pada saat Nabi Ayyub AS sembuh, Rahmah sedang pergi mencari makanan untuk suaminya, Nabi Ayyub AS. Tiba-tiba Iblis datang menemui Rahmah di jalan. Dia berkata: “Sampai kapan sih kamu kerja keras seperti ini demi mengabdi pada suamimu yang tidak sabar menerima musibah? Bukankah dia pernah berjanji akan mencambukmu seratus kali jika ia sembuh dari penyakitnya?”. Tetapi Rahmah terus berjalan untuk menemui Nabi Ayyub AS dengan tidak mempedulikan omongan Iblis tersebut.

Sesampainya di tempat, Rahmah merasa kehilangan Nabi Ayyub AS. Dia mencari Nabi Ayyub AS ke mana-mana tetapi tidak juga ditemukan. Rahmah pun berseru-seru dan memanggil-manggil dengan hati merasa cemas: “Hai Ayyub, apakah binatang buas telah memangsamu. Atau jangan-jangan kamu telah ditelan bumi?!”. Kemudian Nabi Ayyub AS datang dan berkata pada istrinya: “Hai wanita muda, siapa yang kau cari?”. Ketika istri Nabi Ayyub AS datang kepadanya, dia tertegun (bengong) melihat wajah Nabi Ayyub AS yang sudah berubah menjadi dalam keadaan sehat seperti yang dahulu. Ia hampir-hampir tidak mengenalinya. Rahmah berkata: “Semoga Allah memberkahimu, dimanakah Nabi Ayyub AS? Apakah engkau melihat beliau AS? Sungguh, wajahmu mirip seperti wajah Nabi Ayyub AS ketika dia sedang sehat dahulu”. Pada saat itu Nabi Ayyub AS mengenakan pakaian mewah. Di atas kepalanya terdapat mahkota dan di sampingnya terlihat ada mata air mengalir. Nabi Ayyub AS memang sudah sehat wal ‘afiat dan pulih kembali seperti sedia kala. Sehingga hal itu membuat Rahmah tidak mengenalinya. Karena sebelum ditinggalkan, Nabi Ayyub AS dalam keadaan sakit parah.

Dan Nabi Ayyub AS menyadari kebingungan yang menyelimuti istrinya. Beliau AS berkata: “Apakah Anda masih ingat ciri-ciri Ayyubmu?”. Rahmah akhirnya mengerenyitkan keningnya sambil mengingat ciri-ciri suaminya itu. Maka Nabi Ayyub AS pun tersenyum. Lantas Nabi Ayyub AS menjawab: “Hai istriku, akulah Nabi Ayyub AS, akulah suamimu yang sedang sakit itu. Barusan Allah SWT telah menyembuhkan aku dengan mukjizat-Nya”. Maka bergembiralah Nabi Ayyub AS dan istrinya.

Kemudian dihadapan Nabi Ayyub AS ada dua buah gundukan yaitu gundukan gandum dan gundukan jelai. Lalu datanglah dua awan menaungi dua buah gundukan itu. Tiba-tiba saja gundukan gandum itu berubah menjadi emas, sedangkan gundukan jelai itu berubah menjadi uang.

Kemudian Ilyafaz; Bildad; and Zufar datang kepada Nabi Ayyub AS. Dan Allah SWT pun memulihkan kembali keadaan Nabi Ayyub AS setelah beliau AS mendoakan kebaikan untuk sahabat-sahabatnya, dan Allah SWT memberikan kepada Nabi Ayyub AS dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Kemudian datanglah kepadanya semua saudara laki-laki dan saudara perempuan nya yang dahulu pernah makan bersama-sama dengan Nabi Ayyub AS di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghiburnya oleh karena segala cobaan yang telah ditimpakan kepadanya oleh Allah SWT, dan mereka masing-masing memberi dia uang dan sebuah cincin emas.

Maka berkumpullah kembali seluruh keluarga Nabi Ayyub AS beserta istrinya. Sesuai sumpahnya dahulu, bahwa Nabi Ayyub AS berjanji akan memukuli istrinya apabila dia sudah sembuh dari penyakitnya, yang disebabkan karena istrinya dahulu pernah menelantarkannya. Namun Nabi Ayyub AS merasa kasihan terhadap istrinya sendiri, tapi sumpahnya itu harus dilaksanakan, maka Allah SWT mengutus Malaikat Jibril AS datang dan berkata kepada pada Nabi Ayyub AS: “Hai Ayyub, ambillah seratus dahan dari ujung tangkai pohon. Kemudian jadikan dahan itu sebagai cambuk. Dan pukulkanlah cambuk itu pada Rahmah sekali saja. Maka kamu sudah bebas dari sumpahmu!”. Nabi Ayyub AS akhirnya mengerti petunjuk tersebut dan beliau AS pun bebas dari beban sumpahnya.

Allah SWT berfirman: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah (istrimu) dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpahmu. Sesungguhnya Kami dapati dia (Nabi Ayyub AS) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)!”. ﴾QS Shaad: 44﴿.

Allah SWT memberkahi Nabi Ayyub AS dalam hidupnya yang selanjutnya lebih daripada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat!:

14000 ekor kambing domba
6000 unta
1000 pasang lembu
1000 ekor keledai betina.

Nabi Ayyub AS juga dikaruniai beberapa orang anak laki-laki dan juga beberapa orang anak perempuan; anak laki-laki Nabi Ayyub AS yang paling tua bemama Hawamil, kemudian disusul dengan Maqil, Rusyid, dan Rasyid; dan sedangkan anak perempuan beliau AS adalah bernama Yamimah, yang kedua bernama Qaziyah dan yang ketiga bernama Karanhafukh. Di seluruh negeri ketika itu tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Nabi Ayyub AS, dan mereka diberi oleh ayahandanya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudara laki-lakinya.

Nabi Ayyub AS terus-menerus merasakan kenikmatan dan kebahagiaan di atas sampai beliau AS meninggal dunia. Sesudah itu Nabi Ayyub AS masih hidup selama 140 tahun, beliau AS sempat melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Setelah itu, Nabi Ayyub AS wafat dalam keadaan tua-renta dan lansia. Setelah Nabi Ayyub AS  wafat, beliau AS dimakamkan di Hauran. Sedangkan anak-anaknya, sepeninggal Nabi Ayyub AS, mereka senantiasa meneruskan ajaran agama ayahnya, yaitu beribadah dan taat kepada Allah SWT. Ketahuilah, pada zaman Nabi Ayyub AS, raja yang berkuasa waktu itu adalah bernama Lam bin Di’am. Dia adalah salah seorang dari penguasa wilayah Syiria (atau Suriah).

Wassalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh… 

(Perlu dicamkan, sumber kisah-kisah Nabi Ayyub AS diatas, sebagian besar ana menukilnya dari riwayat Wahab bin Munabbih).

Sekian.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya.