Archive for Maret 15th, 2013

h1

JIHAD THALAB!

15 Maret 2013

JIHAD THALAB! 

JIHAD THALAB!

JIHAD THALAB!

Assalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh. 

Sesungguhnya seluruh ummat Muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh orang kafir (orang non Muslim) dan orang musyrik (Politeisme), baik mereka memerangi ummat Islam maupun tidak, tetap saja kewajiban memerangi mereka adalah wajib, itulah Jihad Fi Sabilillah. Inilah hukum final dari fase pensyari’atan Jihad Fi Sabilillah. Hukum ini menghapus seluruh fase-fase pensyari’atan jihad sebelumnya.

Jihad Fi Sabilillah (Berjihad di jalan Allah) disyari’atkan karena adanya kekafiran dan kemusyrikan. Selama di muka bumi masih ada kekafiran dan kemusyrikan, Jihad Fi Sabilillah akan tetap diwajibkan. 

Sebab sesungguhnya hubungan kaum muslimin dengan ummat non Muslim (orang kafir) pada dasarnya adalah peperangan, bukan perdamaian. Ummat Muslim disyari’atkan (diperintahkan) untuk berjihad (berperang) melawan orang-orang kafir (non Muslim), sekalipun mereka tidak memerangi ummat Islam. Salah satu tujuannya adalah mendakwahi orang-orang kafir agar masuk Islam atau tunduk kepada hukum Islam, dan apabila mereka tidak mau masuk Islam, maka mereka wajib diperangi. Jihad fi sabilillah yang bersifat ofensif ini, terkenal dengan istilah Jihad Thalab.

PENGERTIAN JIHAD THALAB! 

SELAIN JIHAD DIFA' (DEFENSIF) DALAM ISLAM DIKENAL JUGA DENGAN ISTILAH JIHAD THALAB (OFENSIF)!

SELAIN JIHAD DIFA’ (DEFENSIF) DALAM ISLAM DIKENAL JUGA DENGAN ISTILAH JIHAD THALAB (OFENSIF)!

Jihad Thalab diperintahkan kepada semua ummat Islam, yaitu kaum muslimin mendakwahi orang-orang kafir di negara mereka dan memerangi mereka kalau mereka menolak masuk Islam dan menolak membayar Pajak Jizyah. Dengan kata lain, kaum muslimin disyari’atkan untuk menyerang orang-orang kafir di negeri mereka, sekalipun mereka tidak menyerang negeri kaum muslimin.

Di antara dalil syar’i yang memerintahkan jihad jenis ini, adalah:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Apabila sudah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah di tempat pengintaian!”. (QS At-Tawbah: 5).

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Dan perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kalian secara keseluruhan!”. (QS At-Tawbah: 36).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِي
Dan perangilah mereka (non Muslim / orang kafir) sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Allah!”. (QS Al-Baqarah: 193).

عَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الْحُسَيبِ اْلأَسْلَمِي قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا, ثُمَّ قَالَ (اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ, اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ, اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا, وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ أَوْ خِلَالٍ, فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ.
ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَام,ِ فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ. فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَكُونُ لَهُمْ فِي الْغَنِيمَةِ وَالْفَيْءِ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ.
فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ. فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَقَاتِلْهُمْ. *
Dari Buraidah bin Husaib Al-Aslami -Radhiyallahu ‘anhu- (salah seorang shahabat Rasulullah): Adalah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa salam- jika mengangkat seorang amir (komandan) atas suatu pasukan atau sariyah, beliau memberinya wasiat secara khusus supaya bertaqwa kepada Allah -Ta’ala-, dan memperlakukan pasukannya dengan baik. Beliau lantas bersabda: “Berperanglah dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang yang kafir kepada Allah! Berperanglah, janganlah mencuri harta rampasan perang sebelum dibagi, jangan membatalkan perjanjian secara sepihak, jangan mencincang mayat musuh, dan jangan membunuh anak-anak! Jika kamu menemui musuh dari orang-orang musyrik, maka serulah mereka kepada salah satu dari tiga pilihan, pilihan mana saja yang mereka pilih maka terimalah dan tahanlah dirimu dari (menyerang) mereka. Serulah mereka kepada Islam. Jika mereka memenuhi seruanmu, maka terimalah dan jangan memerangi mereka. Lalu serulah mereka untuk berhijrah dari negeri mereka ke negeri hijrah, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukannya maka mereka memiliki hak seperti hak orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan mereka mempunyai kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muhajirin. Kalau mereka menolak (masuk Islam) maka serulah mereka untuk membayar jizyah. Kalau mereka menyetujui maka terimalah dan janganlah menyerang mereka. Kalau mereka menolak maka memohonlah pertolongan kepada Alllah -Ta’ala- dan perangilah mereka!”. (Hadits Shahih).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلا بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّه)
Dari Ibnu Umar -Radiyallahu ‘anhuma- bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa salam- bersabda: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat (baca: masuk Islam). Apabila mereka mengerjakan itu semua (baca: mau masuk Islam), mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku (baca: tidak akan dibunuh oleh Rasulullah), dan perhitungan (amal) mereka di sisi Allah!”. (Hadits Shahih).

KAUM YANG MENOLAK JIHAD THALAB! 

TERMASUK PERKARA BID'AH MUNKARAH BAGI BARANGSIAPA YANG MENIADAKAN JIHAD THALAB!

TERMASUK PERKARA BID’AH MUNKARAH BAGI BARANGSIAPA YANG MENIADAKAN JIHAD THALAB!

Di tengah-tengah kaum muslimin, muncul kaum sekuler, nasionalis dan murid-murid orientalis yang mengingkari Jihad Thalab. Menurut mereka, jihad yang diajarkan oleh Islam hanyalah Jihad Difa’ (defensif); apabila musuh (Kafir Harbiy) menyerang kaum muslimin, barulah ummat Islam berjihad melawan musuh. Namun bila musuh tidak menyerang ummat Islam, kaum muslimin haram menyerang musuh. Bagi mereka, Jihad Thalab tidak dikenal dalam Islam dan bertentangan dengan hukum internasional.

Ketahuilah, pendapat mereka ini adalah Bid’ah Munkarah yang menyelisihi Al-Qur’an; As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama’ salaf. Menurut penelitian Dr. Ali bin Nafi’ Al-Ulyani, pendapat ini untuk pertama kalinya muncul dari kalangan murid-murid madrasah ‘aqliyah modern (rasionalis modern) dengan tokoh-tokohnya yang terkenal seperti syaikh Muhammad Jamaludien Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha.
Banyak para ulama’ dan penulis kontemporer yang terpegaruh dengan Bid’ah Munkarah ini dan ikut-ikutan berpendapat bahwa jihad dalam Islam hanya sekedar untuk membela diri saja. Di antara para ulama tersebut adalah Dr. Abdul Wahhab Khalaf dalam bukunya As-Siyasatu Asy-Syar’iyatu; Dr. Mahmud Syaltut dalam bukunya Min Hadyil Qur’an; Dr. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Al-‘Alaqot Ad-Duwaliyah; Dr. Muhmmad Abdullah Darraz dalam bukunya Dirasat Islamiyah fil ‘Alaqat Al Ijtima’iyah wal Duwaliyah; Dr. Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al ‘Alaqot Ad Duwaliyah fil Islam; Dr. Muhammad Izzah Daruzah dalam bukunya al Jihaadu Fi Sabililah fil Qur’an wal Hadits; Dr. Hamid Sulthan dalam bukunya Ahkamul Qanun Ad Duwaly fi Syari’ah Islamiyah; Dr. Ali Ali Manshur dalam bukunya Asy Syari’ah Islamiyah wal Qanun Ad Duwaly; Jamal Al Bana dalam bukunya Hurriyatul I’tiqad fil Islam; Abdul Khaliq an Nawawi dalam bukunya Al ‘Alaqat Ad Duwaliyah wan Nudzum Al Qadhaiyah; Dr. Muhammad Ra’fat Utsman dalam bukunya Al Huquq wal Wajibat wal ‘Alaqat Ad Duwaliyah; Ahmad Muhammad Haufi dalam bukunya samahatul Islam; Dr. Sa’id Ramadhan Al Buthi dalam bukunya Al Jihadu Fil Islam Kaifa Nafhamuhu wa Kaifa Numarisuhu; dan banyak para ulama’ kontemporer lainnya.

Bid’ah Munkarah ini bahkan telah menjadi arus utama pemikiran para ‘ulama kontemporer, sehingga nyaris kebatilan pendapat mereka ini menutupi kebenaran, kalau saja Allah -Ta’ala- tidak menjaga agama Islam (dengan terjaganya Al-Qur’an dan As-Sunnah), kemudian usaha keras para ulama’ sunnah untuk menyingkap syubhat mereka.

Di antara para ulama’ kontemporer yang membongkar kesesatan bid’ah ini adalah Syaikh Sulaiman bin Samhan; Syaikh Sulaiman bin Abdurahman bin Hamdan dalam bukunya Dholalati Nushush wal Ijma ‘ala Daf’il Qital lil Kufri wad Difa; syaikh Abdurahman Ad Dausari dalam bukunya Al Ajwibah Al Mufidah fi Muhimmatil Aqidah; syaikh Abul A’la Al Maududi dalam bukunya tentang Jihad; Syaikh Sayid Quthub dalam bukunya Ma’alimu fi Thariq dan Fi Dzilalil Qur’an; Syaikh Muhammad Quthub dalam bukunya Al Musytasyriqun wal Islam; Dr. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Majmu’ah Buhuts Fiqhiyah; Syaikh Sholih Luhaidan dalam bukunya Al Jihaadu baina Thalab wa Difa'; Syaikh Muhammad Nashir Al Ju’wan dalam bukunya Al Qitaalu Fil Islam; syaikh Abid bin Muhammad as Sufyani dalam bukunya Daarul Islam wa daarul Kufri wa Ashlul ‘Alaqah Bainahuma; Dr. Abdullah bin Ahmad Qadiri dalam bukunya Al Jihaadu Fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu; Dr. Ali biin Nufai’ Al Ulyani; syaikh Dr. Abdullah Azzam dalam buku-buku beliau; syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam Al-Umdah fi I’dadil Uddah dan Al-Jaami’ fi Thalabil Ilmi Al-Syarif; syaikh Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi dalam buku bantahannya atas syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi; syaikh Harist Abdu Salam Al Mishri dalam bukunya Qaalu Faqul ‘Anil Jihad; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawi’ah; dan masih banyak lagi ‘ulama-‘ulama yang lainnya.

.

HUKUM TENTANG JIHAD THALAB! 

Imam Ibnu Nuhas Ad-Dimyathi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya berjihad melawan orang-orang kafir di negeri mereka adalah Fardhu Kifayah, menurut kesepakatan para ‘ulama!”. Dan diriwayatkan dari Ibnu Musayib dan Ibnu Syubramah bahwasanya hukumnya Fardhu ‘Ain.

Penjelasan yang singkat dari beliau ini menegaskan bahwa, memerangi seluruh orang-orang kafir (non Muslim) yang tidak memerangi kaum muslimin hukumnya wajib, Fardhu Kifayah menurut mayoritas ulama, dan Fardhu ‘Ain menurut sebagian ‘ulama.

.

JIHAD THALAB HUKUMNYA FARDHU ‘AIN!

Sebagian shahabat seperti Abu Thalhah Al-Anshari, Abu Ayyub Al-Anshari, Miqdad bin Aswad, juga ulama kibar tabi’in seperti Imam Sa’id bin Musayib, sebagian ulama madzhab Syafi’i dan Abdullah bin Hasan berpendapat bahwa Jihad Thalab hukumnya Fardhu ‘Ain.

Dasarnya adalah dalil-dalil Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah yang mewajibkan berjihad dan mengancam orang yang meninggalkannya dengan kehinaan dan azab yang pedih, seperti dibawah ini!:

  • - Menurut Al-Qur’an!:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ . فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمُُ . وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ يَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kalian berjumpa mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian dan kesyirikan itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu. Jika mereka memerangimu di tempat itu maka perangilah. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kafir. Jika mereka berhenti dari memusuhi kalian, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka sehingga tidak ada kesyirikan lagi dan agama itu semata-mata milik Allah. Jika mereka berhenti dari memusuhi kalian maka tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang yang dzalim!”. (QS Al-Baqarah: 190 – 192).

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Kalian diwajibkan untuk berperang padahal hal itu kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal hal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyenangi sesuatu padahal hal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui!”. (QS Al-Baqarah: 216).

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Apabila telah habis bulan-bulan Haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik (non Muslim / orang kafir) di manapun kalian menjumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat serta menunaikan zakat (baca: mau masuk Islam), maka berilah kebebasan kepada mereka (jaminan keamanan). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang!”. (QS At-Taubah: 5).

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (hari kiamat) dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Islam), yaitu para Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen) sampai mereka bersedia membayar Pajak Jizyah dalam keadaan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan Shaghirun (Lemah / Hina / Patuh / Tunduk)!”. (QS At-Taubah: 29).

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Dan perangilah seluruh orang musyrik sebagaimana mereka memerangi kalian semua dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang -orang yang bertaqwa!”. (QS At-Tawbah: 36).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ . إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman (orang Islam), mengapa jika dikatakan kepada kalian: “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah!” kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat mu? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunya padahal kenikmatan di dunya ini dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih (azab) dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu!”. (QS At-Taubah: 38 – 39).

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan nyawa kalian di jalan Allah. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui!”. (QS At-Tawbah: 41).

  • - Menurut As-Sunnah!:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَ لَمْ يُحَدَّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ  
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alayhi wa sallam- bersabda: “Barangsiapa yang mati dan dia belum pernah berperang (berjihad) atau belum berniat ikut perang maka ia mati dalam salah satu cabang dari kemunafikan!”.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ لَمْ يَغْزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلُفْ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ أَصَابَهُ بِقَارِعَةٍ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Dari Abu Umamah, dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang belum pernah berperang, atau menyediakan perbekalan orang yang berangkat berperang, atau menanggung (mengurus) keluarga orang yang berperang dengan baik, maka dia akan ditimpa dengan bencana dahsyat sebelum hari kiamat!”.

Imam Ibnu Hajar -Hafidzahullah- berkata: “Sebagian shahabat telah memahami perintah dalam firman Allah (Berangkatlah kalian (untuk berperang) baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat) berlaku umum, sehingga mereka tidak pernah ketinggalan dari satu peperangan pun sampai mereka meninggal dunia. Di antaranya adalah shahabat-shahabat yang bernama Abu Ayyub Al-Anshari, Miqdad bin Al-Aswad dan lain-lain, semoga Allah meridhoi mereka semua!”.

Saat menafsirkan ayat tersebut (Berangkatlah kalian (untuk berperang) baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat), Imam Ibnu Katsir berkata: “Ali bin Zaid berkata dari Anas, dari Abu Thalhah, bahwa dia berkata: “Maksud ‘merasa ringan’ adalah ‘dalam keadaan muda’, dan maksud ‘merasa berat’ adalah tua. Allah tidak akan mendengar udzur siapapun!”. Ia lalu berangkat jihad ke Syam.

.

JIHAD THALAB HUKUMNYA FARDHU KIFAYAH! 

JIHAD!

JIHAD!

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Jihad Thalab (berjihad melawan orang kafir yang tidak memerangi orang Islam) hukumnya Fardhu Kifayah. Mereka menyatakan, bahwa dalil-dalil yang menunjukkan Jihad Thalab hukumnya Fardhu ‘Ain merupakan nash-nash yang masih umum. Nash-Nash tersebut dijelaskan lagi oleh nash-nash lain yang menunjukkan hukumnya bukan Fardhu ‘Ain, namun Fardhu Kifayah seperti!:

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ 
Tidak selayaknya orang-orang yang beriman itu berangkat semua ke medan perang, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan untuk mendalami ilmu dan memberikan peringatan kepada kaumnya jika mereka kembali supaya mereka mendapat peringatan!”. (QS At-Taubah: 122).

Ayat diatas sungguh memerintahkan dari setiap jama’ah ummat Islam harus ada sebagian besar yang berangkat perang, namun menyisakan sebagian untuk mempelajari ilmu agama Islam lebih dalam lagi dan melaksanakan kemaslahatan-kemaslahatan umum lainnya. Karena bila tidak demikian, jihad justru tidak akan sempurna bahkan target tidak terpenuhi dan justru madharat-lah yang timbul.

لاَ يَسْتَوِى الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِى الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا 
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikutan berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar!”. (QS An-Nisa': 95).

Ayat barusan menegaskan bahwa mujahid (pejihad) lebih utama daripada orang yang tidak berjihad tanpa adanya udzur (halangan), dan Allah menjanjikan bagi masing-masing kelompok balasan yang baik (jannah/syurga). Orang yang tidak berjihad tanpa adanya udzur syar’i (halangan yang dibenarkan menurut syari’at Islam), tidak berdosa selama yang lain telah melaksanakan jihad dan bisa menuntaskannya.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (salah); mereka adalah orang-orang yang beruntung!”. (QS Ali ‘Imron: 104).

Jihad adalah puncak Amar Ma’ruf Nahi Munkar, sedangkan Amar Ma’ruf hukumnya Fardhu Kifayah, bukan Fardhu ‘Ain.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ بَعْثًا إِلَى بَنِي لَحْيَانَ مِنْ هُذَيْلٍ فَقَالَ لِيَنْبَعِثْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا) وَ فِي رِوَايَةٍ (لِيَخْرُجْ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ رَجُلٌ) ثُمَّ قَالَ لِلْقَاعِدِ أَيُّكُمْ خَلَفَ الْخَارِجَ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ بِخَيْرٍ كَانَ لَهُ مِثْلُ نِصْفِ أَجْرِ الْخَارِجِ.
Dari Abu Said Al-Khudri bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengutus satuan pasukan ke Bani Lihyan, dan bersabda: “Hendaklah dari tiap dua orang dikirim seorang dan pahalanya bagi keduanya!”. Dalam riwayat lain: “Hendaklah dari tiap dua orang keluar seorang!”. Lalu beliau bersabda: “Siapapun di antara kalian yang mengurusi keluarga dan harta orang yang keluar berijhad dengan baik, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang keluar berjihad“. 

عَنْ زَيْدِ ْبنِ خَالِدِ الْجُهْنِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلْفَهُ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا.
Dari Zaid bin Khalid al-Juhany, dari Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menyiapkan perbekalan orang yang berperang (berjihad di jalan Allah) berarti dia telah berperang dan barangsiapa yang mengurus harta dan keluarga orang yang berperang berarti dia telah ikutan berperang!”.

  • - Menurut Sirah Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam-!:

Terkadang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memimpin sendiri sebuah pertempuran atau pasukan jihad (ghazwah), dan terkadang mengangkat oranglain sebagai komandan dan beliau tetap di Madinah (sariyah).

Berdasar dalil-dalil ini, pendapat mayoritas ulama’ kaum Muslimin yang menyatakan bahwa Jihad Thalab hukumnya adalah Fardhu Kifayah, nyata lebih kuat daripada pendapat sebagian ulama salaf yang berpendapat bahwa hukumnya Fardhu ‘Ain.

JIHAD THALAB MENURUT PENDAPAT-PENDAPAT PARA IMAM MADZHAB! 

  • 1] Madzhab Hanafi.

Imam Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Babarty Al-Hanafi mengatakan!:

Memerangi orang-orang kafir, baik kaum musyrikin Arab yang tidak mau masuk Islam, maupun orang-orang musyrik selain mereka yang tidak mau masuk Islam dan membayar jizyah, hukumnya wajib walaupun mereka tidak memulai memerangi kita, berdasarkan dalil-dalil umum, seperti firman Allah (Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya!, QS At-Taubah: 36); (Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah!, QS Al-Anfal: 39); dan (Diwajibkan atas kalian berperang!, QS Al-Baqarah: 216).” Jika ada yang membantah dalil-dalil umum ini bertentangan dengan firman Allah (Jika mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka, QS Al-Baqarah: 191), ayat ini menunjukkan bahwa jihad hanya wajib saat mereka yang memulai memerangi kita. Maka dijawab: ayat ini telah mansukh. Penjelasannya, pada awalnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa salam- diperintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari orang-orang musyrik, kemudian diizinkan berperang jika mereka yang memulai menyerang, kemudian diperintahkan untuk memulai menyerang dalam beberapa waktu, dengan firman-Nya (Apabila telah habis bulan-bulan Haram maka bunuhlah orang-orang musyrik di manapun kalian menjumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian, QS At-Taubah: 5), kemudian diperintahkan untuk memulai memerangi secara mutlak, dalam seluruh waktu dan tempat, dengan firman-Nya (Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, QS Al-Anfal: 39) dan firman-Nya (Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar QS At-Taubah: 29).

Imam Badrudien Al-‘Aini menyatakan hal serupa. Imam Al-Kamal Ibnu Hammam berkata:

Memerangi orang-orang kafir dari kaum musyrikin Arab yang tidak mau masuk Islam, dan orang-orang musyrikin selain mereka yang tidak mau masuk Islam dan membayar pajak Jizyah, hukumnya wajib walaupun mereka tidak memulai memerangi kita. Karena dalil-dalil yang mewajibkan hal itu tidak membatasi kewajiban jihad dengan syarat mereka memulai memerangi kita. Inilah makna perkataan penulis (imam Al-Marginani) dalil-dalil secara umum”.

Dalam Tanwirul Abshar dikatakan:

وَهُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ اِبْتِدَاءً وَ فَرْضُ عَيْنٍ إِذَا هَجَمَ اْلعَدُوُّ
“Jihad hukumnya Fardhu Kifayah untuk memulai (menyerang orang kafir lebih dahulu) dan hukumnya Fardhu ‘Ain jika musuh menyerang duluan”.

Imam Fakhrudin Utsman bin Ali Az Zaila’i mengatakan:

Jihad itu hukumnya Fardhu Kifayah jika memulai perang, yaitu wajib bagi kita untuk memulai perang (menyerang duluan) orang-orang kafir sekalipun mereka tidak memerangi kita. Berdasarkan firman Allah -Suhanahu wa Ta’ala- (dan perangilah seluruh orang-orang musyrik!) & (Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir!) & (Berangkatlah untuk berperang baik dalam keadaan ringan maupun berat!) dan sabda Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam- (Jihad adalah sebuah kewajiban yang akan tetap berjalan sejak Allah mengutusku sampai akhir ummat ku akan memerangi Dajjal. Ia tidak akan digugurkan oleh kezhaliman orang yang zhalim maupun keadilan orang yang adil!) & (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersedia mengucapkan ‘Laa ilaha ilallah’!). Dan hal ini sudah menjadi ijma’ ummat Islam (kesepakatan seluruh orang Islam)!”.

Imam As-Sarakhsi berkata:

وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ مَأْمُوراً فِي ْالاِبْتِدَاءِ بِالصَّفْحِ وَاْلإِعْرَاضِ عَنِ اْلمُشْرِكِينَ … ثُمَّ أُمِرَ بِالْقِتَالِ إِذَا كَانَتِ اْلبِدَايَةُ مِنْهُمْ …ثُمَّ أُمِرَ بِالْبِدَايَةِ بِالْقِتَالِ … فَاسْتَقَرَّ اْلأَمْرُ عَلىَ فَرْضِيَّةِ الْجِهَادِ مَعَ اْلمُشْرِكِينَ
“Pada awalnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- diperintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari orang-orang musyrik, Kemudian beliau diperintahkan berperang jika mereka memulai peperangan, Kemudian beliau diperintahkan untuk memulai memerangi mereka. Maka telah tetap (final)-lah kewajiban jihad melawan orang-orang musyrikin!”.

Imam Al-Kasani berkata:

فَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَةُ لَمْ تَبْلُغْهُمْ فَعَلَيهِمِ اْلاِفْتِتَاحُ بِالدَّعْوَةِ إِلَى ْالإِسْلاَمِ بِاللِّسَانِ … وَلاَ يَجُوزُ لَهُمُ اْلقِتَالُ قَبْلَ الدَّعْوَةِ؛ ِلأَنَّ اْلإِيْمَانَ وَإِنْ وَجَبَ عَلَيهِمْ قَبْلَ بُلُوغِ الدَّعْوَةِ بِمُجَرَّدِ اْلعَقْلِ فَاسْتَحَقُّوا ْالقَتْلَ بِاْلاِمْتِنَاعِ، لَكِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ قِتَالَهُمْ قَبْلَ بَعْثِ الرَّسُولِ عَلَيهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَبُلُوغِ الدَّعْوَةِ إِيَّاهُمْ فَضْلاً مِنْهُ وَمِنَّةً قَطْعاً ِلمَعْذِرَتِهِمْ بِالْكُلِّيَّةِ وَإِنْ كَانَ لاَ عُذْرَ لَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ 
“Jika belum sampai dakwah kepada mereka, maka hendaknya kaum muslimin memulainya dengan mendakwahi mereka dengan lisan… tidak boleh menyerang orang-orang kafir sebelum mendakwahi mereka. Alasannya, sekalipun beriman itu wajib atas mereka sebelum didakwahi dengan menggunakan akal, namun Allah mengharamkan memerangi mereka sebelum diutusnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan sebelum sampai dakwah kepada mereka. Ini sebagai karunia dari Allah kepada mereka dan menutup pintu untuk beralasan bagi mereka, walaupun sebenarnya tidak ada alasan bagi mereka!”.

  • 2] Madzhab Maliki.

Imam Ibnu Rusyd berkata:

“Adapun tentang orang-orang yang diperangi, para ulama’ telah sepakat bahwasanya mereka itu adalah seluruh orang musyrik berlandaskan firman Alloh (Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Allah (QS Al-Baqoroh: 193). Kecuali sebuah riwayat dari Malik bahwasanya beliau berkata: :-D “Tidak boleh memulai untuk memerangi Habasyah dan Turki berdasarkan riwayat dari Rasulullah -Shalallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersada:  ذَرُوا الْحَبَشَةَ مَا وَذَرَتْكُمْ  ‘Biarkanlah Habasyah selama mereka membiarkan kalian!’. Imam Malik pernah ditanya tentang keshahihan atsar ini. Beliau tidak mengakui keshohihannya, namun beliau berkata: ‘Semua orang senantiasa menjauhi berperang melawan mereka’.”

Imam Al-Qarafi berkata:

“Sebab pertama yang dianggap pokok dari diwajibkannya jihad adalah menghilangkan mungkarnya kekafiran. Sesungguhnya kekafiran adalah kemungkaran yang paling besar. Barangsiapa yang melihat kemungkaran dan dia mampu untuk menyingkirkannya, maka wajib baginya untuk menyingkirkan kemungkaran tersebut! Maka telah disebutkan dalam firman Allah:    وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ     “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh!”. (QS Al-Baqarah: 193). Yang dimaksud fitnah adalah kekafiran!”.

Imam Ibnu Abdil Barr juga berkata:

يُقَاتََلُ جَمِيعُ أَهْلِ الْكُفْرِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَغَيرِهِمْ … وَسَائِرُ الْكُفَّارِ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ يُقَاتَلُونَ حَتَّى يُسْلِمُوا أَوْ يُعْطُوا اْلِجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ … وَكُلُّ مَنْ أَبَى مِنَ الدُّخُولِ فِي اْلإِسْلاَمِ أَوْ أَبَى إِعْطَاءَ اْلجِزْيَةِ قُوتِلَ, فَيُقْتَلُ الرِّجَالُ اْلمُقَاتِلَةُ وَغَيرُ اْلمُقَاتِلَةِ إِذَا كَانُوا بَالِغِينَ…, وَ إِذَا اضْطُرَّ اْلإِمَامُ إِلَى مُهَادَنَةِ اْلكُفَّارِ اْلحَرْبِيِّينَ هَادَنَهُمْ إِذَا رَأَى ذَلِكَ.  
Semua orang kafir diperangi baik ahlul kitab maupun yang lain….. semua orang kafir baik dari Arab maupun non arab wajib diperangi sampai mereka mau masuk Islam atau membayar jizyah dalam keadaan hina….. setiap orang yang tidak mau masuk Islam atau tidak mau membayar jizyah harus diperangi. Oleh karena itu laki-laki yang berperang atau tidak berperang dibunuh apabila mereka sudah baligh….. Jika terpaksa imam harus membuat perjanjian damai dengan orang-orang kafir harbiy, maka hal ini diperbolehkan jika imam berpendapat demikian!”.

Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan QS Al-Baqarah: 193 berkata:

أَمْرٌ بِالْقِتَالِ لِكُلِّ ُمْشْرِكٍ فِي كُلِّ مَوْضِعٍ … وَهُوَ أَمْرٌ بقِتَالٍ مُطْلَقٍ لاَ بِشَرْطِ أَنْ يَبْدَأَ اْلكُفَّارُ  
“Ayat ini adalah perintah untuk memerangi setiap orang musyrikin di setiap tempat….. dan ini adalah perintah perang secara mutlak, tidak disyaratkan orang-orang kafir sebagai pihak yang memulai peperangan!”.

  • 3] Madzhab Syafi’i.

Imam As-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan:

” Apabila tidak ada kemaslahatan dalam perjanjian damai, maka tidak boleh mengadakan perjanjian damai, karena Allah berfirman:

فَلاَتَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ اْلأُعْلَوْنَ وَاللهُ مَعَكُمْ  
Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang lebih tinggi kedudukannya dan Allah bersama kalian!”. (QS Muhammad: 35).

Namun jika ada kemaslahatan, seperti; diharapkan mereka masuk Islam, membayar jizyah, atau mereka membantu kaum muslimin dalam memerangi orang kafir yang lain, maka boleh mengadakan perjanjian damai dengan mereka selama empat bulan berdasar firman Allah Ta’ala (QS At Taubah: 1). Dan tidak boleh mengadakan perjanjian damai dengan mereka melebihi satu tahun karena satu tahun merupakan sebuah masa wajibnya membayar jizyah!“.

Imam Nawawi mengatakan:

“Adapun hari ini dan setelah wafatnya Nabi Muhammad -Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam-, maka orang-orang kafir ada dua kondisi. Pertama: Orang-orang kafir berada dalam negara-negara mereka, tidak menyerang satu negeri pun dari negeri-negeri kaum muslimin. Maka jihad dalam kondisi ini hukumnya Fardhu Kifayah. Jika seluruh kaum muslimin tidak mau mengerjakannya, mereka semua berdosa. Jika difardhukan atas tiap individu, tentulah penghidupan akan terbengkalai!”. 

Imam Ar Rafi’i menyatakan:

“Bab Pertama: Wajibnya Jihad. Membicarakan dua hal, pertama kewajibannya: yaitu wajib kifayah setiap tahun sekali. Adapun sesudah zaman Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam-, orang kafir mempunyai dua kondisi. Pertama: Jika mereka berada di negara mereka, tidak bermaksud menyerang kaum muslimin, tidak juga mengincar sesuatu dari harta mereka, maka jihad hukumnya Fardhu Kifayah. Jika diwajibkan atas setiap orang pasti penghidupan dan pekerjaan akan tertinggal (terbengkalai), inilah yang ditunjukkan oleh hadits: ‘Barangsiapa yang menyiapkan perbekalan orang yang berperang, berarti dia telah berperang dan barangsiapa yang mengurus harta dan keluarga orang yang berperang (jihad), berarti dia telah ikutan berperang‘!”.

Imam Ibnu Nuhas Ad-Dimyathi mengatakan:

“Ketahuilah sesungguhnya berjihad melawan orang-orang kafir di negeri mereka hukumnya adalah Fardhu Kifayah, menurut kesepakatan ulama. Dan diriwayatkan bahwa imam Ibnu Musayib dan Ibnu Syubramah berpendapat hukumnya Fardhu ‘Ain!”.

  • 4] Madzhab Hambali. 

Imam Manshur bin Yunus Al-Bahuti mengatakan:

Perjanjian damai tidak sah kecuali pada saat boleh diakhirkannya jihad karena ada kemaslahatan. Apabila imam atau wakilnya melihat ada kemashlahatan dalam perjanjian damai, disebabkan oleh kelemahan kaum muslimin untuk berperang, beratnya peperangan, diharapkan keislaman orang-orang kafir, mereka membayar jizyah atau maslahat-maslahat yang lain, maka boleh mengadakan perjanjian damai!”. 

Imam Al-Khuroqi berkata:

وَيُقَاتَلُ أَهْلُ اْلكِتَابِ وَاْلمَجُوسُ وَلاَ يُدْعَونَ ِلأَنَّ الدَّعْوَةَ قَدْ بَلَغَتْهُمْ، وَيُدْعَى عَبَدَةُ اْلأَوْثَانِ قَبْلَ أَنْ يُحَارَبُوا  
“Ahlul kitab (orang Yahudi dan orang Nasrani) dan Majusi tidak harus didakwahi terlebih dulu, karena dakwah sudah sampai kepada mereka. Sedangkan para penyembah berhala didakwahi dahulu sebelum mereka diperangi!”.

Imam Ibnu Qudamah menjelaskan perkataan Al-Khuroqi ini, dengan mengatakan:

أَمَّا قَوْلُهُ فِي أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمَجُوسِ لاَ يُدْعَونَ قَبْلَ الْقِتَالِ فَهُوَ عَلَى عُمُومِهِ، ِلأَنَّ الدَّعْوَةَ قَدِ انْتَشَرَتْ وَعَمَّتْ فَلَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ مَن لَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ إِلاَّ نَادِرٌ بَعِيدٌ، وَأَمَّا قَوْلُهُ يُدْعَى عَبَدَةُ اْلأَوْثَانِ قَبْلَ أَنْ يُحَارَبُوا فَلَيْسَ بِعَامٍ فَإِنَّ مَنْ بَلَغَتْهُ الدَّعْوَةُ مِنْهُمْ لاَ يُدْعَونَ، وَإِنْ وُجِدَ مِنْهُمْ مَنْ لَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ دُعِيَ قَبْلَ الْقِتَالِ ، وَكَذَلِكَ إِنْ وُجِدَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ لَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ دُعُوا قَبْلَ الْقِتَالِ  
“Adapun perkataan beliau bahwasanya Ahlul Kitab (orang Yahudi and orang Kristen) dan Majusi itu tidak mesti didakwahi terlebih dahulu, ini berlaku secara umum, karena dakwah telah tesebar luas dan tidak tersisa dari kalangan mereka yang belum mendengar dakwah kecuali sangat jarang sekali. Adapun perkataan beliau bahwa para penyembah berhala mesti didakwahi dahulu sebelum diserang, tidaklah secara umum, karena orang yang sudah mendengar dakwah tidaklah mesti didakwahi terlebih dahulu. Namun jika diantara mereka ada yang belum mendengar dakwah, maka harus didakwahi terlebih dahulu. Sebagaimana halnya ahlul kitab yang belum mendengar dakwah, mereka mesti didakwahi terlebih dahulu sebelum diserang!”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahumullah- berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَةٌ أُمِرَ النَّبِيُّ أَنْ يَبْتَدِيءَ جَمِيعَ الْكُفَّارِ بِالْقِتَالِ وَثَنِيَّهُمْ وَكِتَابِيَّهُمْ سَوَاءٌ كَفُّوا أَمْ لَمْ يَكُفُّوا  
“Ketika turun surah At-Taubah, Nabi -Shalallahu ‘alaihi wasallam- diperintahkan untuk memulai memerangi seluruh orang kafir (non Muslim), baik ahlul kitab maupun penyembah berhala, baik mereka memerangi ummat Islam maupun tidak!”.

Imam Al-Bulaihi berkata:

وَيَجِبُ الْجِهَادُ اِبْتِدَاءً لاَ دِفَاعاً عَلَى قَوْلِ الْمُحَقِّقِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَاْلأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ كَثِيرَةٌ جِداً لَيْسَ بِاْلإِمْكَانِ حَصْرُهَا  
Wajib melaksanakan Jihad Thalab (ofensif), bukan Jihad Difa’ (defensif), menurut pendapat para ‘ulama muhaqqiqin (peneliti). Dalil-dalil tentang hal ini (Jihad Thalab) banyak sekali, tidak bisa dihitung!”.

  • 5] Madzhab Zhahiri. 

Imam Ibnu Hazm berkata:

Semua kaum muslimin diwajibkan untuk berjihad sebab itu hukumnya wajib. Jika sudah ada sebagian kaum muslimin yang dapat mengatasi serangan musuh, menyerang negeri-negeri kaum kafir dan melindungi wilayah kaum muslimin, kewajiban berjihad gugur atas ummat Islam yang lain. Jika belum, kewajiban tidak gugur. Allah berfirman: ‘Berangkatlah kalian berperang baik dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan nyawa kalian!’. (QS At-Tawbah: 41)!”. 

  • 6] Ulama’ Kontemporer.

Imam Musthofa Al-Suyuthi berkata:

“Secara syar’i (syari’at Islam), jihad berarti memerangi orang-orang kafir dan hukumnya adalah Fardhu Kifayah; jika sebagian orang yang mengerjakanya telah menuntaskan (tujuan jihad), maka kewajiban jihad gugur atas selain mereka, tetapi kalau belum tuntas maka semuanya berdosa!”.

Syaikh Abdul Baqi Ramdhun berkata:

“Diantara hal yang disepakati fuqaha’ (ahli fiqih) empat madzhab dan mayoritas ‘alim ulama’, bahwa Jihad Thalab itu hukumnya Fardhu Kifayah atas seluruh ummat Islam minimal sekali dalam setahun. Ini jika kaum muslimin menyerang orang-orang kafir di negara mereka untuk membuka dan meluaskan daerah Islam. Adapun jika perang terjadi di negara Islam (Jihad Difa’ / Defensive), maka hukumnya Fardhu ‘Ain atas orang yang lebih dekat, kemudian yang agak dekat dari medan perang dan seterusnya sampai kecukupan itu terealisasi. Jika tidak terealisasi, maka hukumnya Fardhu ‘Ain atas seluruh ummt Islam di seluruh daerah dan negara!”. 

KESIMPULAN!: 

BERJIHAD DI JALAN ALLAH!

BERJIHAD DI JALAN ALLAH!

Yaa akhi / yaa ukhti, dari penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut!:

1] Pada dasarnya menurut hukum syari’at Islam, hubungan dengan orang kafir yang jelas-jelas kita tahu bahwasanya mereka belum pernah mendengar dakwah Islam adalah hubungan damai sampai mereka mendengar dakwah.

2] Adapun hubungan dengan orang-orang kafir yang telah sampai dakwah kepada mereka dan mereka menolak masuk Islam atau membayar jizyah, adalah hubungan perang. Orang-orang kafir (non Muslim) mempunyai salah satu dari tiga pilihan: a] masuk Islam; b] membayar pajak jizyah kepada umat Islam atau; c] berperang dengan ummat Islam. Jika mereka mau masuk Islam atau membayar pajak jizyah, maka mereka aman. Namun kalau menolak keduanya, maka hubungan dasar dengan mereka adalah hubungan perang.

3] Kaum muslimin boleh mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang kafir, dengan syarat; diadakan karena keadaan menuntut kaum muslimin untuk berdamai, merealiasikan maslahat (mewujudkan kemanfaatan) bagi kaum muslimin dan dalam masa waktu yang jelas.

4] Walaupun pada dasarnya menurut syari’at Islam, hubungan kaum Muslim dengan kaum kafir itu perang, namun yang boleh dibunuh adalah Kafir Harbiy yang mampu atau terlibat perang (muqatilah); baik laki-laki dewasa, anak-anak yang telah baligh maupun wanita yang terlibat peperangan. Adapun beberapa orang kafir harbi yang tidak mampu atau terlibat berperang, seperti anak-anak yang belum baligh, wanita, orang tua dan lainnya, maka tidak boleh dibunuh. Jadi, sebab disyari’atkannya perang itu adalah kekafiran dengan syarat orang yang diperangi tersebut adalah ahlul qital (orang yang mampu berperang).

Imam Al-Kasani berkata:

وَاْلأَصْلُ فِيهِ أَنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ اْلقِتَالِ يَحِلُّ قَتْلُهُ سَوَاءً قَاتَلَ أَوْ لَمْ يُقَاتِلْ، وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ اْلقِتَالِ لاَ يَحِلُّ قَتْلُهُ إِلاَّ إِذَا قَاتَلَ حَقِيقَةً أَوْ مَعْنًى بِالرَّأْيِ وَالطَّاعَةِ وَالتَّحْرِيضِ وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ … وَلَوْ قُتِلَ وَاحِدٌ مِمَّنْ ذَكَرْنَا أَنَهُ لاَ يَحِلُّ قَتْلُهُ فَلاَ شَيْءَ فِيهِ مِنْ دِيَّةٍ وَلاَ كَفَارَةٍ إِلاَّ التَّوْبَةَ وَاْلاِسْتِغْفَارَ ِلأَنَّ دَمَّ اْلكَافِرِ لاَ يُتَقَوَّمُ إِلاَّ بِاْلأَمَانَ وَلَمْ يُوجَدْ  
“Pada dasarnya setiap orang yang bisa berperang, halal dibunuh baik mereka ikutan berperang maupun tidak. Semua orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk berperang tidak boleh dibunuh, kecuali jika mereka nyata-nyata ikutan berperang atau secara tidak langsung terlibat perang dengan memberikan pendapat, ketaatan, motifasi atau yang lainnya ….. dan jikalau orang-orang yang tidak halal dibunuh sebagaimana yang kami sebutkan diatas terbunuh, maka tidak ada kewajiban diyat atau kafaroh kecuali taubat dan istighfar, karena darah orang kafir itu tidak dibela kecuali dengan jaminan keamanan, sedangkan jaminan keamanan dalam hal ini (dalam hal Jihad Thalab) tidak ada!”.

SYAIKH BIN BAZ!

SYAIKH BIN BAZ!

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz (Syaikh bin Bazz) -Rahimahumullah- berkata:

“Apabila bulan-bulan haram itu telah habis, maka bunuhlah orang-orang musyrik dimana saja kalian jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian!”. (QS At Taubah: 5).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk memerangi seluruh orang musyrikin secara umum. Penggantungan sebuah hukum kepada sifat ini (kesyirikan) menunjukkan bahwa sifat ini merupakan sebab alasan hukum (‘ilah). Maka ketika Allah -Tabaraka wa Ta’ala- menggantungkan hukum perang itu dengan orang-orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang yang meninggalkan Islam dan tidak beragama dengan agama yang haq (agama Islam) (kaum murtadin), hal ini menunjukkan bahwa hal-hal ini merupakan ‘ilah hukum dan hal yang menyebabkan mereka diperangi. Maka alasan disyari’atkannya perang adalah kekafiran dengan syarat dia termasuk orang yang mampu berperang, dan bukan orang selain mereka.

Jika mereka termasuk orang yang berperang, mereka kita perangi sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah jika mereka dari kalangan Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Atau mereka kita perangi sampai mereka masuk Islam saja tanpa ada pilihan yang lain, jika mereka bukan dari tiga golongan tersebut.

Jika mereka tidak mau masuk Islam, maka yang ada adalah perang. Terkecuali orang-orang yang tidak berurusan dengan peperangan seperti perempuan, anak-anak, orang buta, orang gila, pendeta, orang yang sibuk beribadah dalam tempat ibadah mereka dan orang-orang yang tidak berurusan dengan peperangan karena mereka tidak bisa berperang sebagaimana yang tersebut diatas. Begitu pula orang tua renta, mereka tidak diperangi menurut mayoritas ulama’, karena mereka adalah orang-orang yang tidak ikut campur dalam peperangan!”.

CATATAN MAKNA FARDHU KIFAYAH! 

Jihad Fi Sabilillah dengan cara memerangi orang-orang kafir di negri mereka (jihad thalab), menurut mayoritas ‘alim ‘ulama hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Apa makna Fardhu Kifayah?

Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

“Makna Fardhu Kifayah adalah jika belum ada orang yang mencukupi (menuntaskan) pekerjaan, maka seluruh manusia berdosa. Jika sebagian yang melakukannya telah bisa mencukupi pekerjaan, maka kewajiban itu gugur atas yang lain. Awalnya perintah itu mengenai seluruh orang seperti Fardhu ‘Ain, kemudian berbeda dengan Fardhu ‘Ain; dalam Fardhu Kifayah sebuah kewajiban bisa gugur bila sebagian orang telah mengerjakannya. Sedangkan Fardhu ‘Ain, kewajiban tidak bisa gugur meskipun sebagian orang sudah mengerjakannya!”. 

Para ulama’ menyebutkan syarat kifayah (kecukupan, tuntasnya amal) agar kewajiban jihad gugur atas kaum muslimin yang lain. Artinya, sekalipun sebagian kaum muslimin sudah melaksanakan kewajiban jihad, namun bila mereka belum mencukupi dan kewajiban belum tuntas (terlaksana dengan baik sesuai tuntutan syari’ah), kaum muslimin yang lain tetap berdosa dan wajib ikut berjihad.

Jadi, amal kewajiban harus terselesaikan dengan tuntas dan baik, baru bisa dikatakan ummat Islam yang lain tidak berdosa bila tidak melaksanakannya. Bila pekerjaan tidak bisa dituntaskan oleh sebagian ummat Islam, maka kewajiban meluas ke ummat Islam yang lain sampai akhirnya bisa tertuntaskan. Bila tidak bisa tuntas kecuali bila seluruh ummat Islam melakukannya, maka wajib bagi seluruh ummat Islam melakukannya tanpa terkecuali.

Di sinilah letak perbedaan antara Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah:

1] Awalnya, khitab (perintah syari’at kepada mukalaf) ditujukan kepada seluruh mukalaf. Lantas berbeda: Fardhu Kifayah tidak wajib dilaksanakan oleh setiap mukalaf bila sudah ada sebagian mukalaf yang mengerjakan dan mencukupinya (menuntaskan, kifayah), sementara Fardhu ‘Ain tidak gugur atas seorang mukalaf sekalipun mukalaf yang lain sudah mengerjakannya.

2] Dalam Fardhu ‘Ain, Pembuat syari’ah (Allah -Tabaraka wa  Ta’ala-) melihat kepada terlaksanakannya kewajiban dari setiap mukalaf, sementara dalam Fardhu Kifayah Pembuat syari’ah (Allah -Tabaraka wa Ta’ala-) hanya melihat kepada dilaksanakannya kewajiban dengan tuntas, tanpa melihat siapa yang mengerjakannya.

Karena itu, imam Fakhurdien Al-Razi mendefinisikan Fardhu Kifayah sebagai sebuah kewajiban yang dituntut terlaksananya (yuqshadu husuluhu) tanpa melihat kepada siapa yang melaksanakannya. Oleh karenanya pula, mayoritas Ulama’ Ushul, di antaranya Imam Al-Amidi, Ibnu Hajib dan Ibnu Abdi Syakur menyatakan bahwa Fardhu Kifayah wajib atas seluruh ummat Islam, namun gugur bila sebagian telah mengerjakannya sampai tercapainya kifayah.

Imam Ibnu Abidin Muhammad Amin bin Umar Al-Hanafi (1251 H) berkata:

وَإِيَّاكَ أَن تَتَوَهَّمَ أَنَّ فَرْضِيَّتَهُ تَسْقُطُ عَنْ أَهْلِ الْهِنْدِ بِقِيَامِ أَهْلِ الرُّومِ مَثَلاً , بَلْ يُفْرَضُ عَلىَ اْلأَقْرَبِ فَاْلأَقْرَبِ مِنَ اْلعَدُوِّ إِلَى أَنْ تَقَعَ الْكِفَايَةُ فَلَوْ لَمْ تَقَعْ إِلاَّ بِكُلِّ النَّاسِ فُرِضَ عَيْناً كَصَلاَةٍ وَصَومٍ  
Janganlah engkau mengira kewajiban jihad gugur atas penduduk India dengan sudah berjihadnya penduduk Romawi, tapi jihad itu diwajibkan atas yang paling dekat dengan musuh kemudian yang agak dekat sampai tercapainya kifayah. Jika jihad tidak mencapai kifayah kecuali dengan berperangnya seluruh manusia, maka jihad menjadi Fardhu ‘Ain sebagaimana sholat dan shaum!”.

Imam Al-Maidani mengomentari ucapan Al-Qoduri (“Jihad hukumnya Fardhu Kifayah dan hukum memerangi orang kafir adalah wajib meskipun mereka tidak memulainya!”) dengan mengatakan:

“Hukum tersebut di atas berlaku bila pihak yang menanganinya sudah cukup mencukupi. Namun bila ternyata tidak mencukupi, maka wajib ditangani oleh kaum muslimin yang terdekat dengan musuh hingga musuh dapat diatasi!”. 

STANDAR TERPENUHINYA KIFAYAH JIHAD THALAB! 

Berikut ini sebagian perkataan ulama’ yang menerangkan makna dan standar kifayah dalam Jihad Thalab:

1] Imam Al-Qurthubiy berkata:Imam wajib mengirim satu pasukan kepada musuh setiap tahun sekali, baik dia sendiri yang memimpin pasukan tersebut maupun dia mewakilkan kepada orang yang dia percayai untuk mengajak orang-orang kafir kepada Islam….. menahan serangan mereka, dan mengidzharkan dien Allah (menjelaskan agama Islam) terhadap mereka sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah….. Dia (seorang muslim) berperang dengan jiwa dan raganya jika dia mampu, dan jika tidak dia memberikan perbekalan kepada orang yang berperang!”.

2] Imam At-Tahaanuwiy berkata: “Mereka (para ulama’) sepakat (ijma’), apabila orang-orang kafir tinggal di wilayah mereka dan tidak menyerang Darul Islam (negara Islam), maka imam wajib untuk tidak melewatkan satu tahun berlalu tanpa peperangan, baik dia terjun langsung ikut berperang atau dia mengirim sariyah-sariyah (ekspedisi-ekspedisi) supaya jihad itu tidak terabaikan; karena Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- dan para Al-Khulafa’ Ar-Roosyiduun (keempat para shahabat Rasulullah) tidak melalaikan jihad. Apabila ada satu kelompok kaum muslimin yang telah melaksanakannya, sehingga dengan mereka tercapai penolakan kejahatan orang-orang kafir dan peninggian kalimatullah, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya. Pada saat itulah, seorang budak tidak boleh keluar (untuk berjihad) tanpa izin tuannya; seorang perempuan tidak boleh keluar tanpa izin suaminya, orang yang mempunyai hutang tidak boleh keluar tanpa izin orang yang menghutanginya, dan seorang anak tidak boleh keluar jika salah satu dari kedua orang tuanya melarangnya, karena jihad sudah dapat dicukupi oleh orang lain, sehingga tidak ada alasan yang mendesak untuk menggugurkan hak manusia. Namun jika tidak ada seorangpun yang melaksanakannya, semua orang berdosa kecuali ulidh dhoror (orang buta, pincang dan sakit) di antara mereka. Para ulama juga sepakat (ijma’), wajib atas penduduk sebuah daerah untuk memerangi orang-orang kafir yang berada di dekat (sekitar) mereka. Jika mereka tidak mampu, kaum muslimin yang paling dekat dengan mereka (harus) membantunya. Begitu pula jika penduduk daerah tersebut malalaikan jihad ini padahal mereka mampu, maka wajib bagi kaum muslimin yang berada paling dekat dengan mereka untuk melaksanakannya. Kemudian kewajiban itu meluas sampai seluruh dunia. Begitulah disebutkan dalam Kitab Al-Madzhari 2/203, dan kepada Allah-lah kita mengadukan perbuatan para penguasa Islam pada zaman kita ini, karena mereka menihilkan jihad sama sekali, mereka hanya melaksanakannya untuk mempertahankan diri saja, padahal Abu Bakar Ash-Shiddiiq -Radhiyallahu ‘anhu- mengatakan pada khotbahnya yang pertama kali:   مَا تَرَكَ قَوْمٌ اْلجِهَادَ إِلاَّ ذُلُّوا   Tidaklah sebuah kaum meninggalkan jihad kecuali mereka pasti hina!’. Dan demi Allah, sungguh beliau telah berkata benar!”.

3] Imam Ibnu An-Nuhas Al-Dimyathi mengatakan:Ketahuilah bahwa jihad (menyerang) orang-orang kafir di negeri mereka adalah Fardlu Kifayah berdasarkan kesepakatan ulama’….. minimal sekali dalam setahun….. dan tidak boleh satu tahun berlalu tanpa perang dan jihad kecuali karena dhoruuroh (Darurat). Imam Al-Haramain Al-Juwainiy mengatakan: ‘Pendapat yang terpilih bagi saya adalah jalan yang ditempuh ushuuliyyiin (ahli ushul fiqih), yang mengatakan: ‘Jihad itu adalah Da’wah Qohriyyah (dakwah dengan kekuatan atau kekerasan), oleh karena itu wajib untuk dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, sehingga tidak tersisa di atas muka bumi ini kecuali muslim atau musaalim (orang kafir yang berdamai, menyerah)!”. Jihad tidak hanya sekali dalam setahun. Bila memungkinkan lebih dari satu kali dalam setahun, jihad tidak boleh ditinggalkan!’. Imam Ibnu Qudamah mengatakan dalam Kitab Al-Mughniy: ‘Minimal jihad (perang dengan orang kafir / orang non Muslim) dilakukan sekali dalam satu tahun, kecuali jika ber’udzur (berhalangan) untuk melakukannya. Jika kebutuhan menuntut untuk melakukan jihad lebih dari satu kali dalam satu tahun, maka wajib dilaksanakan, karena jihad itu Fardlu Kifayah, dan Fardlu Kifayah itu wajib dilakukan ketika ada tuntutan kebutuhan!”.

4] Para ‘ulama Madzhab Syafi’i berkata: “Kifayah (kecukupan) tercapai bila imam telah mengisi tsughur (daerah-daerah perbatasan) dengan pasukan yang mencukupi untuk menghadapi orang-orang kafir dengan memperkokoh benteng-benteng, parit-parit perlindungan dan mengangkat para komandan perang. Atau bila imam atau wakilnya masuk Darul Kufri (Negara Kafir) dengan pasukannya untuk memerangi mereka“. 

5] Imam Al-Syarbini Al-Khatib Al-Syafi’i mengatakan: “Adapun sepeninggal Beliau -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-, maka orang-orang kafir itu keadaannya ada dua. Pertama; mereka diam di negara mereka, tidak menyerang negeri kaum muslimin. Jihad dalam kondisi seperti ini hukumnya adalah Fardlu Kifayah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sejarah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin. Al-Qodli Abdul Wahab mengatakan bahwa hal ini merupakan ijma’….. dan kecukupan (kifayah) tercapai bila imam mengisi tsughur dengan pasukan yang cukup untuk menghadapi orang-orang kafir. Dengan cara memperkokoh benteng-benteng, membangun parit-parit perlindungan, dan mengangkat para komandan perang. Atau imam atau wakilnya masuk Darul Kufri (Negara Kafir) dengan pasukannya untuk memerangi mereka (orang kafir)!”.

Dengan kembali kepada buku-buku para ulama’ Salaf dan Khalaf, yang sebagian dikutip di atas, ditemukan bahwa di kalangan ulama’ terdapat dua pendapat tentang bentuk konkrit “kifayah” dalam Jihad Thalab:

1] Menurut mayoritas ‘ulama, wajib melakukannya minimal sekali dalam setahun. Bila lebih dari sekali, hukumnya sunnah. Artinya, Jihad Thalab sudah dianggap dikerjakan dengan tuntas dan kifayah tercapai, bila seluruh daerah-daerah perbatasan telah dijaga dengan pasukan yang memadai, dan dalam setahun sekali ada pasukan Islam yang menyerang negara-negara kafir: mendakwahi mereka untuk masuk Islam, kalau mereka menolak maka mereka diperintahkan tunduk kepada syari’at Islam dan membayar jizyah, bila menolak diperangi. Dasar pendapat mayoritas ulama’ adalah: Jizyah sebagai pengganti jihad, hanya wajib dibayarkan sekali dalam setahun.

2] Beberapa ulama’ berpendapat kifayah baru tercapai bila setiap kali memungkinkan, pasukan dikirim ke negara-negara kafir. Menurut imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, pendapat ini kuat. Imam Al Qurthubi mengatakan: “Merasa berat untuk berjihad dengan menampakkan keengganan itu haram”. Imam Asy-Syairazi mengatakan: “Jika kebutuhan menuntut untuk mengirim pasukan perang dalam setahun lebih dari sekali, maka wajib hukumnya mengirim lebih dari satu kali karena jihad adalah Fardhu Kifayah, sehingga wajib dikerjakan setiap kali kebutuhan menuntut.
Pendapat kedua ini menurut DR. ‘Ali bin Nafi’ Al-Ulyani; Syaikh Murad bin Abdurahim Al-Syafi’i; Syaikh Yusuf bin Shalih Al-‘Ayiri dan beberapa ‘ulama khalaf lebih kuat dengan alasan:
a) Nash-nash yang memerintahkan jihad tidak membatasinya dengan jumlah tertentu. Adapun jizyah bukanlah sebagai pengganti jihad secara mutlak karena terkadang jihad diganti dengan As-Sulhu (perdamaian).
b) Menyerang musuh setiap kali memungkinkan merupakan hal yang sesuai dengan tujuan jihad itu sendiri. Di antara tujuan jihad adalah menghilangkan kesyirikan dan kekafiran dari seluruh muka bumi, sehingga hukum wajibnya jihad tidak akan berhenti sampai seluruh jengkal tanah di bumi ini tunduk kepada hukum Islam atau ketika kaum muslimin telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk merealisasikan jihad, bukan karena tujuan telah terealisir namun karena sudah berada di luar kemampuan, sedangkan Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali apa yang dimampuinya. Makna jihad sendiri adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir.

Semoga bermanfa’at! 

Wassalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh.

h1

PERANG KHAIBAR DAN DAGING KAMBING BERACUN!

15 Maret 2013

PERANG KHAIBAR DAN DAGING KAMBING BERACUN! 

NABI MUHAMMAD SAW MEMAKAN DAGING KAMBING BERACUN!

NABI MUHAMMAD SAW MEMAKAN DAGING KAMBING BERACUN!

Pada bulan Muharam tahun 7 Hijriah, Nabi Muhammad -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap memerangi orang Yahudi di Khaibar. Khaibar adalah benteng pertahanan kaum Yahudi yang merupakan wilayah pertanian dengan delapan atau lima benteng yang melindungi. Jaraknya kira-kira seratus mil arah barat laut Madinah.

Ketika Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam- mengepung benteng pertama milik mereka, Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam- menunggu selama enam hari tanpa melakukan apapun. Pada malam ketujuh, Umar bin Khaththab -radhiyallahu’anhu- berhasil menangkap seorang Yahudi yang tengah keluar dari benteng dan membawanya ke hadapan Rasulullah -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam-. Dalam keadaan sangat takut, orang Yahudi tersebut mengatakan:

“Jika kalian memberi jaminan keamanan kepadaku, akan aku tunjukkan kepada kalian sesuatu cara agar kalian berhasil menaklukkan mereka!”.

Selanjutnya dia mengatakan:

“Penghuni benteng ini telah diliputi rasa lelah dan jemu. Mereka mengirim anak-anak mereka ke benteng yang ada di belakangnya. Dan mereka akan keluar menyerang kalian esok hari.”

Nabi Muhammad -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

“Sungguh, besok aku akan berikan panji perang kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah akan menaklukkan musuh dengan kedua tangannya.” [1] 

Keesokan harinya, Beliau menanyakan Ali bin Abi Thâlib -radhiyallâhu’anhu-. Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- diberitahu bahwa Ali -radhiyallahu’anhu- mengalami rasa sakit di kedua matanya. Selanjutnya, Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- memanggil Ali -radhiyallahu’anhu- dan meludah di kedua matanya. Seketika itu juga Allah -Ta’ala- menyembuhkan kedua matanya; seakan-akan tidak pernah ada rasa sakit sebelumnya.

Kemudian, Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam- memberikan panji perang kepada Ali -radhiyallâhu’anhu-. Setelah itu, kaum Muslimin bergerak menyerang kaum Yahudi hingga berhasil menaklukkan benteng tersebut. Kaum Muslimin terus menaklukkan benteng demi benteng, hingga Allah -Ta’ala- menyempurnakan penaklukan Khaibar.

Alhamdulillah, Allah -Ta’ala- menghinakan kaum Yahudi dan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Mereka memperoleh harta rampasan perang yang banyak; dan mereka juga menguasai kepemilikan tanah kaum Yahudi. Tetapi, kaum Yahudi memohon kepada Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- agar mereka tetap dibiarkan tinggal di sana dan mengolah lahan pertanian dengan imbalan separuh hasil panen. Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- pun menyetujuinya, Beliau bersabda: “Kami menyetujui permohonan kalian sebatas kehendak kami!”.

Pada momentum pertempuran ini, seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- berupa daging kambing yang telah ditaburi racun. Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat di bawah ini yang artinya:

Dari Ibnu Syihab, ia mengatakan: “Dahulu Jabir -radhiyallahu’anhu- menceritakan bahwa ada seorang wanita Yahudi dari penduduk Khaibar yang meracuni seekor kambing bakar. Kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullâh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-“.

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- pun mengambil paha kambing itu dan memakannya. Beberapa Shahabat pun juga ikut makan bersama Beliau. Tiba-tiba Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- berkata kepada para Shahabat: “Jangan kalian makan!”. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang. Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- pun segera bertanya kepadanya: “Apakah kamu telah meracuni kambing ini?”

Wanita itu menjawab: “Siapa yang telah memberitahumu?”

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- menjawab: “Paha kambing ini yang telah mengabariku.”

Wanita itu berkata: “Ya (aku telah meracuninya)”.

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bertanya lagi: “Apa yang kamu kehendaki dari perbuatanmu ini?”

Wanita itu berkata dalam hati: “Jika dia seorang nabi, makanan itu pasti tidak akan membahayakannya. Dan jika dia bukan seorang nabi, maka kami akan selamat dari gangguannya.” 

Selanjutnya Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- memaafkan wanita itu dan tidak menghukumnya.

Sebagian Shahabat yang memakan daging kambing beracun itu meninggal dunia. Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- sendiri berbekam kepada Abu Hindun (bekas budak bani Bayadhah) dengan tanduk dan pisau.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa tatkala ada seorang Shahabat Rasulullah yang meninggal karena racun tersebut, maka wanita itu diperintahkan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- agar dibunuh. [2] 

Imam Nawawi rahimahullâh berkata:

“Sepertinya racun itu menyisakan tanda atau bekas, berupa warna hitam atau yang lainnya.” Nama wanita Yahudi itu adalah Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pembesar Yahudi. (Syarh Shahîh Muslim). 

Lajnah Daimah menyatakan:

“Para ‘ulama pakar Sirah Nabawiyah (Biografi Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam-) mengatakan bahwa Beliau -Shalallahu ‘alayhi wa salam- pernah menyantap daging kambing beracun pemberian wanita Yahudi Khaibar. Kemudian paha kambing tersebut berbicara, yakni memberitahu Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bahwa ia telah ditaburi racun, sehingga Beliau pun tidak melanjutkan santapannya”.

Tatkala Beliau -Shalallahu ‘alayhi wa salam- sedang sakit keras yang menyebabkannya meninggal, Beliau -Shalallahu ‘alayhi wa salam- bersabda ‘Aisyah -Radhiyallahu’anha-, istrinya:

RASULULLAH SAW BERSABDA!

“Wahai ‘Aisyah, aku masih bisa merasakan rasa sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar!”. (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no. 4512; Ad-Darimi, Al-Muqaddimah 67).

Ini merupakan mukjizat Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-. Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- selamat dari racun yang mematikan atas pemberitahuan Allah -Ta’ala- kepada Beliau bahwa daging kambing tersebut beracun, juga laporan dari organ daging kambing itu kepada Beliau.

Disebutkan pula dalam riwayat lain (selain Imam Muslim), bahwa Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

“(Bagian) kaki (daging kambing) ini memberitahuku bahwa daging kambing panggang ini beracun!”.

=======================================================

Maraji':
1. Adh-Dhiya’ul Lami’ Minal Khuthabil Jawami’ 5/218-221, karya Syaikh Ibnul-Utsaimîn.
2. Sunan Abu Dawud.

[1] Hadits Shahih Riwayat Al-Bukhari no:2847 bab Al-Jihad Was Siyar; Muslim: 2406 dalam Fadhailus Shahabah; Ahmad 5/333.
[2] Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no. 4510.

 

h1

DILARANG MENGUMPAT NYAMUK, SEBAB DIA ADALAH SEBAIK-BAIK HEWAN!

15 Maret 2013

DILARANG MENGUMPAT NYAMUK, SEBAB DIA ADALAH SEBAIK-BAIK HEWAN! 

NYAMUK ADALAH SEBAIK-BAIK BINATANG!

NYAMUK ADALAH SEBAIK-BAIK BINATANG!

Nabi Muhammad, Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam-, melarang kita mengumpat nyamuk!!!

Di dalam hadits riwayat Ahmad, Al-Bukhari dalam “Al-Adab al-Mufrad”, Al-Bazzar, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi dalam “Syu’bul Iman”; dari Anas bin Malil -Radhiyallahu ‘anhuma-, bahwa sesungguhnya Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam- mendengar seorang lelaki mengumpat nyamuk. Lalu beliau bersabda:

لَا تَسُبَّهُ , فَإِنَّهُ أَيْقَظَ نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ
Jangan kau umpat nyamuk (itu), karena sesungguhnya ia membangunkan seorang nabi dari para nabi untuk melakukan sholat fajar!”.

Dalam riwayat At-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir” dan al-Baihaqi dalam “Syu’bul Iman”, Anas bin Malik meriwayatkan:

ذُكِرَتْ الْبَرَاغِيثُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إنَّهَا لَتُوقِظُ لِلصَّلَاةِ
“Disebutkan kepada kami tentang nyamuk di hadapan Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam-. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya nyamuk membangunkan seseorang untuk sholat'”.

At-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib -Radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata:

نَزَلْنَا مَنْزِلًا فَآذَتْنَا الْبَرَاغِيثُ فَسَبَبْنَاهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لَا تَسُبُّوهَا فَنِعْمَتْ الدَّابَّةُ , فَإِنَّهَا أَيْقَظَتْكُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Kami menempati sebuah rumah, lalu kami disakiti nyamuk-nyamuk. Kami pun mengumpatnya. Lalu Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa salam- bersabda: ‘Jangan mengumpat mereka. Mereka adalah sebaik-baik hewan. Sesungguhnya mereka membangunkan kalian untuk berdzikir kepada Allah!'”.

Seorang penyair mengatakan:

لَا تَسُبَّ الْبُرْغُوثَ إنَّ اسْمَهُ * بِرٌّ وَغَوْثٌ لَك لَوْ تَدْرِي
فَبِرُّهُ مَصُّ دَمٍ فَاسِدِ * وَغَوْثُهُ الْإِيقَاظُ فِي الْفَجْرِ
Janganlah engkau mengumpat nyamuk. Sungguh! namanya ialah baik dan menolongmu, meski kau tak tahu. Kebaikannya adalah menghisap darah kotor dan pertolongannya adalah membangunkan untuk sholat Fajar (Sholat Shubuh)!”.

Menurut kalangan Hanabilah, nyamuk hukumnya sama dengan hewan-hewan lain yang tidak punya darah sendiri (ma la nafsa laha sa’ilah), seperti kutu, kalajengking, jangkrik dan lain-lain. Hukumnya adalah suci baik saat hidup atau telah menjadi bangkai. Akan tetapi haram mengkonsumsinya untuk makanan. (Ghada’ul Albab, Karya Muhammad bin Ahmad bin Salim Al-Safarayini).

.

KESIMPULAN!: 

NYAMUK ADALAH BINATANG YANG PALING BAIK, MAKA BERIKANLAH DARAH ANTUM UNTUK DIHISAP OLEH NYAMUK-NYAMUK, SEBAB NYAMUK ADALAH SEBAIK-BAIK HEWAN, ITULAH MENURUT SABDA RASULULLAH SAW!

NYAMUK ADALAH BINATANG YANG PALING BAIK, MAKA BERIKANLAH DARAH ANTUM UNTUK DIHISAP OLEH NYAMUK-NYAMUK, SEBAB NYAMUK ADALAH SEBAIK-BAIK HEWAN, ITULAH MENURUT SABDA RASULULLAH SAW!

Yaa akhi / yaa ukhti, berdasarkan hadits-hadits shahih diatas, nyamuk adalah hewan yang paling baik di mata Allah dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, janganlah sekali-kali Antum mengumpat nyamuk, sebab nyamuk adalah satu-satunya hewan yang diutamakan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Antum harus tahu, justru nyamuk adalah binatang yang suci, menurut kaum Hanbilah!

Bahkan Antum sekalian enggak boleh kesel ketika Antum digigit nyamuk sampai kulit antum bentol-bentol karena gatal. Justeru Antum harus berbahagia karena darah antum dijadikan santapan hewan kesayangan Tuhan, yakni nyamuk!

لَا تَسُبَّ الْبُرْغُوثَ إنَّ اسْمَهُ * بِرٌّ وَغَوْثٌ لَك لَوْ تَدْرِي
فَبِرُّهُ مَصُّ دَمٍ فَاسِدِ * وَغَوْثُهُ الْإِيقَاظُ فِي الْفَجْرِ
Janganlah engkau mengumpat nyamuk. Sungguh! namanya ialah baik dan menolongmu, meski kau tak tahu. Kebaikannya adalah menghisap darah kotor dan pertolongannya adalah membangunkan untuk sholat Fajar (Sholat Shubuh)!”. 

Jadi mulai dari detik ini, marilah kita berlomba-lomba untuk memperkembangbiakkan nyamuk, kemudian marilah kita beternak nyamuk sebanyak-banyaknya, sebab nyamuk adalah sebaik-baik hewan. Di dunya ini banyak sekali hewan, namun hanya nyamuk-lah satu-satunya hewan yang paling baik, itulah menurut sabda Rasulullah -Shalallahu ‘alayhi wa alihi wa salam-.

Jadi mulai dari sekarang, perbanyaklah nyamuk di rumah Antum, biar rumah Antum diberkahi oleh Allah -Tabaraka wa Ta’ala-, Tuhan semesta ‘alam! Amin, yaa Allah, yaa Rabbal ‘Alamin!

ALLAHU AKBAR!

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.