Archive for Februari 4th, 2013

h1

ASTRONOMI AL-QUR’AN DAN ASSUNNAH!

4 Februari 2013

ASTRONOMI AL-QUR’AN DAN ASSUNNAH!

USTADZ ABI FAJRY FAISOL TANTOWI!

USTADZ ABI FAJRY FAISOL TANTOWI!

By: Ustadz Abi Fajry Faisol Tantowi!

Yaa akhi / yaa ukhti, sering kali kita memandang langit dan angkasa, namun kita tidak tahu ilmu yang tersirat di dalamnya.

Dan sering kali kita membaca Al-Qur’an yang Karim, namun kita tidak tahu ilmu yang tersirat di dalamnya.

Mengapakah bintang bersinar? Mengapakah air mengalir? Dan mengapakah dunya berputar?, maka lihatlah segalanya lebih dekat, maka antum akan mengerti!

Disini ana akan memberitahukan kepada antum sekalian mengenai indahnya ajaran Islam hingga ilmu Astronomi pun dikenal didalam ajaran agama Islam

Seperti apakah ilmu astronomi Islam itu?, maka cermatilah baik-baik semua bacaan-bacaan didalam postingan ini!

TUJUH LANGIT! 

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Qs Al-Baqarah: 29).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit yang bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”. (Qs Nuh: 15-16).

TUJUH LANGIT BESERTA PARA MALAIKAT YANG MENJAGA KETUJUH PINTU LANGIT!

TUJUH LANGIT BESERTA PARA MALAIKAT YANG MENJAGA KETUJUH PINTU LANGIT!

Sebenernya banyak sekali dalil-dalil yang membahas mengenai tujuh langit, jadi barangsiapa yang meragukan adanya tujuh langit, maka sama saja dia telah meragukan ajaran Islam.

Dan dengan bodoh and tololnya banyak sekali orang-orang Islam yang mengatakan: “Tujuh langit itu adalah hanya sesuatu yang ghaib!”, ketahuilah orang-orang yang mengatakan hal seperti ini ialah orang-orang yang bodoh!

Sesungguhnya telah jelaslah ayat Allah didalam Qs Nuh: 15 dengan mengatakan: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit yang bertingkat-tingkat?”, jadi tujuh langit itu adalah hal yang kasat mata, bahkan Allah pun telah memerintahkannya kepada kita agar kita mau menatap tujuh langit itu serta memperhatikan ketujuh lapisan langit itu!

.

MATAHARI MENGELILINGI BUMI!

SETIAP SIANG HARI, MATAHARI SELALU MENGELILINGI BUMI!

SETIAP SIANG HARI, MATAHARI SELALU MENGELILINGI BUMI!

Kewajiban kita selaku Muslim sejati adalah wajib menafi’kan teori manusia yang telah ada yang menyatakan bahwa bumi itu mengelilingi matahari!

Sesungguhnya matahari itu mengelilingi bumi di setiap siang hari, karena setiap malam harinya sang matahari sedang bersujud di bawah ‘arsy Allah.

Abu Dzar Ra berkata bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad Rasulullah Saw pernah bersabda: “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi (terbenam)?” Mereka berkata: “Alloh dan Rasul-Nya-lah yang lebih mengetahui?” Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya matahari ini pergi beredar (terbenam) sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy (singgasana Allah), lalu dia (matahari) bersujud. Dia (matahari) tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang (terbit)!’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia beredar sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang (terbit)!’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya (timur), kemudian dia beredar sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan kepadanya: ‘Hai matahari, bangunlah, terbitlah dari arah barat!’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah Saw bersabda (yang artinya): “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan didalam masa imannya (yakni terbitnya matahari dari barat adalah ketika hari kiamat tiba)!”. (Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Bukhari nomor: 4802; dan nomor: 3199; dan nomor: 7424; dan nomor: 7433; dan Muslim nomor: 159 -dan ini lafazhnya, Ath-Thayyalisi dalam Musnadnya nomor 460, Ahmad dalam Musnadnya nomor: 5/145; dan nomor: 152; dan nomor: 165; dan nomor: 177; dan Abu Dawud nomor: 4002; dan Tirmidzi nomor: 3227; dan Nasa’i dalam Sunan Kubra nomor: 11430; dan Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah nomor: 4292, dan nomor: 4293; dan lain sebagainya. Seluruhnya dari jalur sanad Ibrahim bin Yazid at-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar).

.

Abu Dzar Ra mengatakan: “Ketika aku sedang duduk berdua-duan bersama Rasulullah Saw di masjid, pada saat itu hari sudah mulai malam. Kemudian Nabi Saw bersabda: ‘Hai Abu Dzar, tahukah kamu, kemanakah matahari ini terbenam?’ Aku menjawab: ‘Hanyalah Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui akan hal itu!’. Dan Nabi Saw bersabda: ‘Sesungguhnya matahari ini terbenam dan setelah itu dia bersujud di bawah ‘Arsy Allah. Itulah makna dari Qs Yasin: 38′. Dan Nabi Saw melanjutkan sabdanya: ‘Sesungguhnya tempat peredaran matahari adalah berada di bawah ‘Arsy Allah (singgasana Allah)!’”. (Hadits Shahih didalam Kitab Shahih Muslim; Bab: Tafsir Qur’an).

.

Masih merupakan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifariy RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari itu terbenam dan dia bersujud di bawah ‘arsy Allah. Hampir-hampir saja matahari tidak lagi diizinkan lagi untuk terbit. Maka terbitlah dia dari arah barat!”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Subhanallah!, Mahasuci Allah!, rupanya penyebab malam hari itu gelap disebabkan karena sang matahari sedang bersujud kepada Allah -’Azza Wa Jalla-.

Dan tak pernah kita sangka ternyata lokasi ‘arsy Allah dengan lokasi planet bumi ini sangat berdekatan, karena kenapa? Karena proses terbenamnya matahari itu berjalan secara perlahan-lahan, sedangkan setelah terbenam sang matahari langsung sudah berada lagi di bawah ‘arsy Allah sambil bersujud kepada Allah Tabaraka Wa Ta’ala.

Berarti di bawah tanah bumi ini adalah ‘arsy Allah!

Subhanallah!

.

MATAHARI TERBENAM KE DALAM BUMI!

MATAHARI TERBENAM KE DALAM LUMPUR!

MATAHARI TERBENAM KE DALAM LUMPUR!

Betapa indahnya ajaran agama Islam itu, ilmu Astronomi pun dibahas panjang lebar didalam syari’at Islam.

Tahukah Antum sekalian bahwasanya langit yang sering kita lihat itu adalah atap bagi bumi sebagaimana atap rumah yang kokoh yang tidak ada retak-retak sedikit pun?…

Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?”. (Qs Qaf: 6).

Jadi langit itu adalah atap bagi Planet Bumi ini hingga pada akhirnya matahari yang sedang menyinari bumi akan terbenam ke dalam bumi ini jikalau malam telah datang.

Allah Ta’ala berfirman: “Hingga apabila dia (Dzulkarnain) telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan ummat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’!”. (Qs Al-Kahfi: 86).

Kita pikir secara logika, lumpur itu adalah sesuatu yang berada di permukaan bumi, sedangkan Allah menerangkan bahwa matahari itu memang terbenam ke dalam lupur hitam.

Subhanallah!, Mahasuci Allah!, inilah firman yang benar dan sungguh mengajak kita untuk berfikir, ternyata selama ini matahari itu terbenam ke dalam lumpur, berarti setiap malam hari matahari itu sedang berada di dalam tanah bumi.

.

BUMI LEBIH DULU TERCIPTA DARIPADA LANGIT! 

Allah Ta’ala berfirman: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia berkehendak (menuju) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu!”. (Qs Al-Baqarah: 29).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa!’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati!’.” (Qs Fushilat: 11).

USIA BUMI LEBIH TUA DARIPADA USIA LANGIT (USIA ALAM SEMESTA)!

USIA BUMI LEBIH TUA DARIPADA USIA LANGIT (USIA ALAM SEMESTA)! 

Berarti bumi dahulu yang diciptakan barulah langit diciptakan setelah bumi tercipta!

.

ALAM SEMESTA TERCIPTA HANYA MEMBUTUHKAN WAKTU ENAM RIBU TAHUN! 

Sesungguhnya banyak sekali dalil-dalil Islam yang membahas mengenai penciptaan alam semesta (yakni langit dan bumi) ini hanya enam ribu tahun saja.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Tuhan-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta ‘alam!”. ﴾Qs Al-A’raf: 54).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui tentang Dia (Tanyakanlah kepada Muhammad)!”. (Qs Al-Furqaan: 59).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. (Qs As-Sajdah: 4).

ALAM SEMESTA TERCIPTA HANYA MEMBUTUHKAN WAKTU ENAM RIBU TAHUN!

ALAM SEMESTA TERCIPTA HANYA MEMBUTUHKAN WAKTU ENAM RIBU TAHUN!

Pada kata ‘Masa’ didalam ayat tersebut yang dipakai adalah kata “Ayyam/Ayyamin” yang jikalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia terjemahannya adalah “Hari”.

Jadi menurut ajaran agama Islam, penciptaan langit dan bumi (penciptaan alam semesta) hanya membutuhkan waktu enam hari saja.

Namun sesungguhnya para ‘alim ulama’ berbeda pendapat tentang tafsir kata “Ayyam/Ayyamin” yang terdapat didalam ayat tersebut, apakah ayyam/ayyamin/hari disini adalah hari menurut manusia ataukah hari menurut Allah, dan ternyata pendapat yang benar dan pendapat yang telah masyhur mengenai perhitungan hari disini adalah hari menurut Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs As-Sajdah: 5).

.

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs Al-Hajj: 47).

Jadi kata ‘Ayyam/Ayyamin/Hari’ disini ialah ribuan tahun, jadi satu masa itu berarti seribu tahun, karena sesungguhnya satu hari menurut Allah, maka seribu tahun menurut perhitungan kita.

Jadi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah Ta’ala menciptakan alam semesta (menciptakan langit wal bumi) hanya memerlukan waktu enam masa, dan enam masa disini berarti hanya enam ribu tahun saja.

.

SEMUA BENDA-BENDA LANGIT DICIPTAKAN DARI ASAP!

Yaa akhi / yaa ukhti, sebenarnya semua benda langit tercipta dari asap!

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati maupun terpaksa!’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati!’”. (Qs Fushilat: 11).

SEMUA BENDA LANGIT (TERMASUK BINTANG AND PLANET) TERCIPTA DARI ASAP!

SEMUA BENDA LANGIT (TERMASUK BINTANG AND PLANET) TERCIPTA DARI ASAP!

Kebanyakan kaum Muslimin mempercayai bahwa bintang-bintang di langit tercipta dari Hidrogen dan Helium, padahal sungguh tidak ada dalilnya baik didalam Al-Qur’an Al-Karim maupun Assunnah Ash-Shahih yang menyatakan bahwa bintang-bintang tercipta dari Hidrogen dan Helium.

Sebenarnya, bintang-bintang; matahari; bulan; planet-planet; dan semua benda langit yang ada di langit diciptakan oleh Allah dari asap!

.

BULAN MEMILIKI CAHAYA SENDIRI!

BULAN MEMILIKI CAHAYA TERSENDIRI!

BULAN MEMILIKI CAHAYA TERSENDIRI!

Kita lebih banyak mempercayai teori-teori kufur yang menyatakan bahwasanya bulan itu hanyalah pantulan dari cahaya matahari, padahal sama sekali tidak ada dalilnya yang

menyatakan bahwa bulan itu diciptakan Allah sebagai pantulan dari matahari.

Jadi kewajiban kita-lah (Selaku Muslim sejati) untuk menafi’kan segala hal yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Assunnah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui!”. (Qs Yunus: 5).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (Qs Al-Furqaan: 61).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit yang bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”. (Qs Nuh: 15-16).

Didalam kedua ayat diatas Allah Swt benar-benar menegaskan kepada kita semua bahwa matahari dan bulan itu sama-sama mempunyai cahaya tersendiri, sebagaimana bintang-bintang kecil di langit, semuanya bersinar sebab mereka memiliki cahaya sendiri.

Bulan dan matahari bersinar, sebab mereka memiliki cahaya sendiri!

Allah Ta’ala menciptakan matahari sinarnya terang benderang, sedangkan bulan sinarnya lebih redup daripada matahari; dan berdasarkan kedua ayat diatas, bulan itu tidak pernah memantulkan cahaya matahari, sebab bulan memiliki cahaya tersendiri.

.

MATAHARI SELALU MENGKEJAR-KEJAR BULAN!

Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya!”. (Qs Yaa Siin: 40).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. (Qs Ar-Rahmaan: 5).

MATAHARI MENGKEJAR-KEJAR BULAN!

MATAHARI MENGKEJAR-KEJAR BULAN!

Yaa akhi / yaa ukhti, melihat dari nas kedua ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa selama ini di langit, matahari dan bulan selalu berkejar-kejaran, sehingga terjadilah siang dan malam akibat pengkejaran matahari terhadap bulan.

.

LETAK BULAN DAN MATAHARI LEBIH JAUH KE BUMI DARIPADA LETAK BINTANG-BINTANG KE BUMI!

Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit yang bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan di dalamnya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”. (Qs Nuh: 15-16).

BULAN DAN MATAHARI LEBIH JAUH DARIPADA BINTANG-BINTANG DAN PLANET-PLANET!

BULAN DAN MATAHARI LEBIH JAUH DARIPADA BINTANG-BINTANG DAN PLANET-PLANET! 

Jadi berdasarkan ayat diatas, Allah menciptakan tujuh lapis langit, dan Allah menciptakan matahari dan bulan di dalam langit (Baca: Di tengah-tengah langit).

Jadi bulan dan matahari itu beredar di dalam suatu tingkat langit yang sama yakni di dalamnya (di dalam langit), bisa kita lihat dari ayaat ini kalau ternyata menurut Qur’an bulan itu bukanlah di langit yang ke-1, maka bisa jadi bulan itu berada di tingkat langit ke-3 atau ke-4.

Sebab langit yang ke-1 dan langit yang ke-2, dihuni oleh bintang-bintang dan planet-planet, bukan oleh matahari dan bulan.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menghias Sama’ad-Dunya (langit yang paling bawah) dengan hiasan, yaitu bintang-bintang (Planet-planet)!”. (Qs Ash-Shaffat: 6).

AWAN HUJAN!

AWAN HUJAN!

Bintang-bintang dan planet-planet itu berada di sama’ad dunya (langit dunya / langit yang paling bawah), bisa jadi bintang-bintang dan planet-planet itu berada di lapisan langit yang kesatu dan kedua.

Sedangkan matahari dan bulan ditempatkan oleh Allah Ta’ala di dalam langit (Baca: Di tengah-tengah langit), bisa jadi matahari dan bulan ditempatkan oleh Allah di lapisan langit yang ketiga atau keempat.

Lantas benda langit apa yang menghuni lapisan langit yang ke-5; ke-6; dan ke-7?…

Sesungguhnya benda langit yang menghuni langit yang ke-5; ke-6; dan ke-7 adalah awan yang berfungsi sebagai saringan hujan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Ashim, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sesungguhnya ‘Arsy sebelumnya berada di atas air. Setelah Allah menciptakan langit ke-7, ‘Arsy itu ditempatkan di langit yang ke-7. Dia menjadikan awan sebagai saringan untuk hujan. Apabila tidak dijadikan seperti itu, tentu bumi akan tenggelam terendam air!”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim).

Jadi ternyata, matahari dan bulan (jikalau dari planet bumi) letaknya lebih jauh daripada bintang-bintang dan planet-planet.

Dan tentu saja letak awan lebih jauh lagi daripada letak matahari dan bulan; serta bintang-bintang dan planet-planet.

.

SETIAP HARI MATAHARI SELALU DISIRAM PAKE SALJU! 

Dari Abu Umamah RA; Nabi Muhammad Saw bersabda: “Kepada matahari diutus sembilan Malaikat. Setiap harinya mereka menghujani matahari dengan salju. Seandainya matahari tidak demikian, niscaya tiada sesuatupun yang terkena sinar matahari melainkan pasti terbakar!”. (Hadits Shahih Riwayat Thabrani melalui Abu Umamah).

MATAHARI!

MATAHARI!

Kebanyakan kaum Muslimin yang fasiq selalu beranggapan bahwa di atas planet bumi ini ada suatu lapisan yang bernama Lapisan Ozon, lapisan Ozon ini berfungsi untuk melapisi bumi supaya tidak terlalu panas tersentuh oleh sinar matahari.

Padahal itu hanyalah teori kufur yang diada-adakan oleh para ilmuwan fasiq, tidak ada satupun lapisan Atmosfer atau lapisan ozon di atas planet bumi ini, sebab Allah dan Rasul-Nya tidak pernah berkata bahwa di atas planet bumi ini ada suatu lapisan yang bernama lapisan Ozon dan lapisan Atmosfer.

Semua teori orang fasiq itu hanyalah kedustaan dan kebohongan belaka, sebab penyebab matahari sinarnya tidak terlalu panas menyengat, itu bukan karena adanya lapisan ozon, tapi itu karena Allah mengutus sembilan orang malaikat yang selalu bertugas untuk mnghujani matahari dengan salju yang sangat dingin.

Rasulullah Saw-lah yang benar, bukanlah ilmuwan kafir yang benar!!!

.

PLANET BUMI INI BERBENTUK CAKRAM!

Allah Ta’ala berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Qs Az-Zumar: 5).

PLANET BUMI INI BERBENTUK CAKRAM!

PLANET BUMI INI BERBENTUK CAKRAM!

Para pentakwil Al-Qur’an dengan bodohnya mereka mentakwilkan kata Takwir yang diterjemahkan sebagai Menutupkan dengan menyatakan bahwa planet bumi ini berbentuk bulat.

Padahal jika dikaji lagi, pemahaman agama yang benar, tidak ada satupun dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menyatakan bahwa planet bumi ini berbentuk bulat.

Memang ayat itu menerangkan bahwa bentuk planet bumi ini bulat, namun bulat yang dimaksud bukanlah bulat seperti bola, tetapi bulat yang berbentuk cakram.

Malah yang ada, Allah Swt benar-benar menegaskan bahwa bumi ini datar.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)”. (Qs Adz-Dzariyat: 48).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. (Qs Al-Hijr: 19).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya”. (Qs Ar-Ra’d: 3).

Allah menghamparkan dan membentangkan bumi, berarti dapat disimpulkan bahwasanya bentuk planet bumi ini memang bulat, namun bulat yang dimaksud bukanlah bulat seperti bola, tetapi bulat berbentuk cakram.

Bumi ini berbentuk bulat, namun bumi ini datar (terhampar dan terbentang), berarti planet bumi ini memang berbentuk cakram.

.

MATAHARI BUKAN BINTANG!

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala di bawah ini, yaa akhi / yaa ukhti!

Allah Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (Qs Al-Furqaan: 61).

MATAHARI BUKAN TERMASUK BINTANG!

MATAHARI BUKAN TERMASUK BINTANG!

Lagi-lagi kaum Muslim yang fasiq menganggap bahwa matahari itu adalah bintang, padahal sama sekali tidak ada dalilnya didalam Al-Qur’an Al-Karim wal Hadits Shahih.

Namun mereka malah lebih mempercayai teori orang kafir yang menyatakan bahwa matahari adalah bintang besar, sebagai pusat tata surya kita.

Padalah Allah Ta’ala didalam Qs Al-Furqaan: 61, Allah membedakan penyebutan kepada gugusan-gugusan bintang; matahari; dan bulan, sebab jikalau memang matahari adalah bintang besar, maka sudah pasti Allah Swt akan berfirman kepada Nabi-Nya di dalam kitab-Nya bahwa Matahari adalah bintang besar.

Tapi sejauh ini, ana (Penulis) tidak menemukan satupun dalil menyatakan bahwa matahari adalah bintang besar.

Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa matahari bukanlah bintang, dan tidak ada kaitannya sedikitpun antara matahari dengan bintang, sebab Allah dan Rasul-Nya tidak memberikan dalil dan hujjah sedikitpun.

.

METEOR BERFUNGSI SEBAGAI ALAT PELEMPAR SYAITAN! 

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan-syaitan (Para jin kafir) itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka dia dikejar oleh suluh api yang cemerlang (Dikejar-kejar meteor)!”. (Qs Ash-Shaffat: 6 – 10).

ALLAH SWT MENCIPTAKAN METEOR (BINTANG JATUH) TIDAK LAIN HANYALAH UNTUK MENIMPUK SYAITAN (HANTU / JIN KAFIR) YANG SEDANG TERBANG KE ATAS LANGIT!

ALLAH SWT MENCIPTAKAN METEOR (BINTANG JATUH) TIDAK LAIN HANYALAH UNTUK MENIMPUK SYAITAN (HANTU / JIN KAFIR) YANG SEDANG TERBANG KE ATAS LANGIT!

Sesungguhnya tafsir Qs Ash-Shaffat: 6-10 adalah, bahwa syaitan-syaitan (para jin kafir) itu suka naik dan terbang ke atas langit, untuk mendengarkan pembicaraan para malaikat di atas langit.

METEOR MENEMBAK SYAITAN (HANTU OR JIN KAFIR)!

Jadi Allah Ta’ala itu suka berkata-kata tentang ramalan dan sesuatu yang akan terjadi setelah detik ini.

Ketika Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat (Misalnya): “Hai malaikat, hari ini, atau hari esok, atau hari lusa, atau hari selanjutnya, akan terjadi ini dan itu di daerah ini dan itu!”. 

Mendengar firman Allah tersebut, para malaikat langsung jatuh pingsan di atas langit.

Pertama kali malaikat yang bangun adalah Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Mika’il; dilanjutkan kepada Israfil; lalu Izra’il, kemudian para malaikat ini berbincang-bincang tentang firman dan rencana Allah tersebut.

Mendengar suara malaikat yang sedang berbincang-bincang di langit itu, syaitan-syaitan (para jin kafir / hantu-hantu) selalu terbang ke atas langit untuk mengintip pembicaraan para malaikat tersebut.

Setelah syaitan-syaitan itu tau apa saja yang sedang dibacarakan oleh para malaikat, maka syaitan-syaitan kembali lagi turun ke muka bumi, kemudian memberitahukan hal tersebut kepada para dukun dan peramal yang sedang meramalkan apa yang terjadi setelah hari ini.

Mengapakah kadang-kadang para peramal itu suka salah meramalkan?…

Itu disebabkan karena syaitan-syaitan yang sedang naik ke atas langit itu tidak berhasil naik ke langit untuk mendengarkan ucapan para malaikat di atas langit, sebab para syiatan (para jin kafir) ini tertimpa oleh bintang jatuh (meteor) yang masuk ke planet bumi.

Maka ramalan yang dibawa oleh si peramal itu meleset karena syaitan (jin kafir) yang suka mencari tahu berita itu tidak berhasil naik ke langit karena keburu di lempar oleh meteor.

Allah Ta’ala sengaja menciptakan meteor hanyalah untuk melempar syaitan yang ingin terbang ke atas langit untuk mendengarkan obrolan para malaikat di atas langit.

Itulah tafsir Qs Ash-Shaffat: 6 – 10 yang sebenarnya!!!

.

BENTUK BINTANG ITU SANGAT KECIL DAN DI HARI KIAMAT SEMUA BENDA LANGIT AKAN BERJATUHAN KE MUKA BUMI!

Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila bintang-bintang berjatuhan”. (Qs At-Takwiir: 2).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan”. (Qs Al-Infitha: 2).

Ketahuilah, nanti di hari kiamat, bintang-bintang (bukan hanya satu bintang, tetapi banyak sekali bintang) akan berjatuhan dan berguguran ke atas muka bumi ini.

Ketahuilah, yaa akhi / yaa ukhti, apabila bintang-bintang jatuh bertaburan dan berserakan ke muka bumi, berarti bentuk bintang itu sangat kecil sekali dan benar-benar lebih kecil daripada bentuk planet bumi!

SEMUA BENDA LANGIT (TERMASUK BINTANG) ITU SANGAT KECIL, DAN NANTI DI HARI KIAMAT, SEMUANYA AKAN BERJATUHAN KE MUKA BUMI INI!

SEMUA BENDA LANGIT (TERMASUK BINTANG) ITU SANGAT KECIL, DAN NANTI DI HARI KIAMAT, SEMUANYA AKAN BERJATUHAN KE MUKA BUMI INI! 

Lagi-lagi orang Muslim yang fasiq beranggapan bahwa bintang-bintang di langit itu bentuknya sangat besar, atau mungkin ada yang besarnya lebih besar daripada bentuk planet bumi ini.

Padahal ketahuilah, sama sekali tidak ada dalilnya bahwa bintang-bintang (serta planet-planet) di langit itu bentuknya sangat besar.

Lagi-lagi Muslim-Muslim yang fasiq lebih mempercayai teori orang kafir daripada ayat Al-Qur’an Al-Karim sendiri.

Ketahuilah, yaa akhi / yaa ukhti, sudah Allah terangkan didalam Qs At-Takwiir: 2 dan didalam Qs Al-Infitha: 2, bahwa sebenarnya bentuk bintang-bintang di langit itu sangat kecil, sebab nanti di hari kiamat, mereka semua akan berguguran jatuh ke atas muka bumi.

Tidaklah mungkin bintang-bintang jatuh berserakan ke atas muka bumi ini, jika ternyata bentuk  bintang lebih gede daripada bentuk planet bumi ini.

Jadi jelaslah sudah bahwa bentuk bintang-bintang itu sangat kecil, dan nanti di hari kiamat mereka akan jatuh berserakan ke atas muka bumi ini!

.

PENYEBAB TERJADINYA GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN! 

Yaa akhi / yaa ukhti, sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua kebesaran Allah, Allah Ta’ala berkuasa atas mereka berdua!

Tahukah Antum sekalian apakah penyebab terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan?…

Sesungguhnya terjedinya gerhana matahari dan gerhana bulan itu disebabkan karena Allah Ta’ala sedang menakut-nakuti hamba-hamba-Nya (Manusia).

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kedua ayat tersebut Allah membuat rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seorang manusia. Karena itu bila kalian melihatnya, shalat dan berdoalah kepada Allah sampai hilang yang menakutkan kalian itu (gerhana matahari atau gerhana bulan)!”. (Hadits shahih riwayat Muslim didalam Kitab Shahih Muslim No.1516).

GERHANA MATAHARI!

GERHANA MATAHARI!

Banyak sekali orang-orang Muslimin yang fasiq menganggap bahwa terjadinya gerhana matahari itu disebabkan karena bulan sedang berada di tengah-tengah antara matahari dan bumi, sehingga sinar yang sedang menyinari bumi tertutup oleh bulan.

Dan banyak sekali orang-orang Muslimin yang fasiq menganggap bahwa terjadinya gerhana bulan itu disebabkan karena bayang-bayang bumi yang menutupi sinar matahari yang sedang menyinari bulan, sebab bulan dianggap tidak memiliki cahaya sendiri dan hanya pantulan dari sinar matahari, sehingga bulan hilang cahayanya.

Padahal sama sekali itu semua tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Assunnah, apakah Allah Swt pernah berfirman dan Nabi Muhammad Saw pernah bersabda bahwa terjadinya gerhana matahari karena bulan sedang menutupi matahari, dan gerhana bulan itu karena bayang-bayang bumi yang menutupi sinar matahari yang menyinari bulan?…

ISLAM AND ALAM SEMESTA (LANGIT AND BUMI)!

Sama sekali, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memberikan dalil dan hujjah seperti itu, jadi otomatis teori kafirun semacam itu jangan dipercaya!

Sebenarnya, penyebab terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan karena memang Allah Ta’ala sedang ingin menakut-nakuti hamba-hamba-Nya, yaitu manusia yang tinggal di muka bumi ini, sesuai dalil hadits shahih diatas!

Apa yang dimaksud bahwa Allah Ta’ala sedang menakut-nakuti hamba-Nya?…

Sesungguhnya salah satu tanda-tanda Kiamat Kubro (Kiamat Besar) adalah terjadinya gerhana, baik itu gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Dari Abu Musa: “Ketika terjadi gerhana matahari, Rasulullah Saw terperanjat ketakutan, kalau-kalau saat itu akan terjadi hari kiamat”. (Shahih Bukhari Nomor 167).

Jadi penyebab terjadinya gerhana matahari maupun gerhana bulan itu disebabkan karena Allah Ta’ala sedang menakut-nakuti manusia, yakni ditakuti-takuti bahwa ketika itu akan terjadinya kiamat kubro, sebab salah satu tanda-tanda kiamat adalah terjadinya gerhana.

Oleh karenanya, Rasulullah Saw terperanjat ketakutan dengan adanya gerhana, maka Beliau Saw mensyari’atkan kepada ummatnya untuk melaksanakan sholat gerhana sampai gerhana itu hilang!

Dari Fatimah, bahwa Asma berkata: “Pada masa Rasulullah Saw pernah terjadi gerhana matahari. Aku datang menemui ‘Aisyah yang ketika itu sedang sholat dan aku bertanya: ‘Ada apa dengan orang-orang, kenapa mereka melakukan sholat?’ ‘Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya lagi: ‘Tanda kebesaran Allah?’ ‘Aisyah menjawab: ‘Ya’. Rasulullah Saw berdiri lama sekali (dalam sholat) hingga kepalaku pusing, lalu aku ambil qirbah (tempat air dari kulit), meletakkannya di sampingku. Aku siram kepala atau wajahku dengan air. Ketika selesai sholat, matahari telah muncul kembali. Kemudian Rasulullah Saw berkhutbah kepada kaum muslimin. Beliau memuji dan menyanjung Allah. Lalu bersabda: ‘Selanjutnya. Apa yang belum pernah aku lihat, telah dapat kulihat di tempatku ini, termasuk syurga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku, bahwa kalian akan menerima ujian di dalam kubur yang hampir menyerupai fitnah atau seperti fitnah Masih Dajjal, aku tidak tahu apa ia sebenarnya’. Asma melanjutkan: ‘Seseorang di antara kalian didatangkan dan ditanya: ‘Apa yang engkau ketahui tentang orang ini (apa yang kau ketahui tentang Rasulullah Saw)?’ Orang yang beriman akan menjawab: ‘Dia adalah Muhammad utusan Allah, yang datang kepada kami dengan membawa bukti dan petunjuk. Lalu kami menyambut dan mematuhinya. (Itu dikatakannya sebanyak tiga kali)’. Kemudian kepadanya dikatakan: ‘Benar! Kami memang tahu bahwa engkau beriman kepadanya. Tidurlah baik-baik!’. Sedangkan orang munafiq atau ragu-ragu akan menjawab: ‘Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu kuikuti saja berkata seperti itu””. (Shahih Muslim No. 1509).

GERHANA BULAN!

GERHANA BULAN!

Didalam hadits shahih diatas, ketika Rasulullah Saw selesai mengerjakan sholat gerhana, Beliau Saw langsung bersabda tentang ‘alam kubur serta fitnah dajjal.

Ini memberikan gambaran kepada kita semua bahwa memang salah satu tanda-tanda kiamat adalah terjadinya gerhana.

Maka tidaklah heran jikalau Nabi Muhammad Rasulullah Saw terperanjat ketakutan ketika terjadinya gerhana, dan tidaklah heran jika Nabi Muhammad Saw mensyari’atkan ummatnya untuk mengerjakan sholat gerhana serta berdoa yang khusyuk dikala terjadinya gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Lantas bagaimanakah proses terjadinya gerhana?…

Yaa akhi / yaa ukhti, Allah Ta’ala meletakkan matahari dikala siang, dan meletakan bulan dikala malam, dan matahari dan bulan memiliki tempat peredaran masing-masing.

Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya!”. (Qs Yaa Siin: 40).

.

Allah Ta’ala berfirman: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. (Qs Ar-Rahmaan: 5).

Tapi ketika terjadinya gerhana, Allah Ta’ala mempertemukan antara matahari dan bulan, sehingga keduanya berkumpul.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan matahari dan bulan dikumpulkan”. (Qs Al-Qiyaamah: 9).

Jadi ketika nanti di hari kiamat, matahari dan bulan itu akan dikumpulkan oleh Allah Ta’ala. inilah yang kita maksud dengan terjadinya gerhana, dan salah satu tanda-tanda kiamat adalah terjadinya gerhana, entah itu gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Jadi seperti inilah pemahaman astronomi yang benar, yakni astronomi Al-Qur’an dan Assunnah! 

Wallahu a’lam bi shawwab. 

 

h1

BERLAKU BAIKLAH KETIKA MUSLIM MENJADI MINORITAS, DAN BERLAKU KASARLAH KETIKA MUSLIM JADI MAYORITAS!

4 Februari 2013

BERLAKU BAIKLAH KETIKA MUSLIM MENJADI MINORITAS, DAN BERLAKU KASARLAH KETIKA MUSLIM JADI MAYORITAS! 

ALLAH SWT!

ALLAH SWT! 

Yaa Akhi / Yaa Ukhti, kali ini ana akan menerangkan kepada Antum sekalian tentang ajaran Islam wa syari’at Islam yang menegaskan bahwa, kita harus berlaku baik ketika kita sedang lemah, dan kita pun wajib berlaku kasar ketika sedang kuat!

Ketahuilah, yaa ummat Muhammad, sesungguhnya yah seperti itulah Islam -Rahmatan Lil ‘Alamin-, apabila dia lemah, maka dia baik, sedangkan apabila dia kuat, maka dia agresif wal kekerasan-lah yang ditegakkan didalam syari’atnya.

Hal seperti ini, kita wajib mencontoh sebagaimana sifat Nabiyullah, Muhammad Ar-Rasulillahi -Shallallahu ‘Alayhi Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Salam- yang ketika Beliau -Shallallahu ‘Alayhi Wa Salam- sedang lemah (Sedikit pengikutnya), maka Beliau selalu berlaku baik kepada kaum kafirin wal musyrikin (Contoh: Umar bin Al-Khattab pernah menentang keras Rasulullah namun tidak pernah dibunuh oleh Rasulullah, sebab dikala itu Rasulullah belum banyak pengikutnya).

Namun apabila HARIMAU AND MANUSIA! Rasulullah sudah menjadi kuat (Banyak pengikutnya), maka Beliau selalu berlaku keras kepada siapapun termasuk kepada kaum kafirin wal musyrikin (Contoh: Ka’ab bin Al-Asyraf pernah mengejek Rasulullah, sehingga Rasulullah membunuhnya melalui tangan Muhammad bin Salamah, sebab dikala itu Rasulullah sudah banyak pengikutnya).

Jadi simpelnya adalah!:

“Ketika Rasulullah -Shallallahu ‘Alayhi Wasallam- sedang lemah (sedikit pengikutnya), maka Rasulullah selalu berlaku baik kepada siapapun termasuk kepada kaum kafirun.

Namun apabila ketika Rasulullah -Shallahu ‘Alayhi Wassalam- sedang kuat (banyak pengikutnya), maka Rasulullah selalu berlaku keras; kasar; wal galak kepada siapapun termasuk kepada kaum kafirun (orang non Muslim)”.

.

Yaa akhi / yaa ukhti, sesungguhnya hal semacam ini telah banyak dipraktekkan oleh kebanyakan kaum Muslimin di muka bumi ini.

Contoh!:

Di negara-negara atau di daerah-daerah minoritas Muslim, maka banyak kaum Muslimin wal Muslimah yang selalu berlaku baik kepada sesama mereka, bahkan berlaku baik pula kepada kaum kafirun.

Bisa Antum lihat di negara-negara kafir seperti di Indonesia; Amerika; Eropa; wa Kanada, sebab disana Muslimnya sedikit wa bercampur dengan kaum kafirun, maka kaum Muslim disana selalu berlaku baik.

Namun di negara-negara atau di daerah-daerah mayoritas Muslim, maka banyak sekali terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh sesama kaum Muslimin wal Muslimah, apalagi terhadap kaum kafirun, maka banyak sekali kaum Muslim yang menghunuskan pedangnya kepada kaum kafir.

Bisa Antum lihat di negara-negara Islam seperti di Arab Saudi, di sana pembangunan gereja dilarang keras!

.

KESIMPULAN!:

Yaa akhi / yaa ukhti, jadi pada postingan kali ini, ana akan menegaskan kepada Antum sekalian bahwasanya!:

“Yaa Muslimin wal Muslimah wal Mu’minin wal Mu’minah, selagi Antum jadi minoritas, maka berlaku baiklah kepada non Muslim Kafirun (QS Al-Kafirun: 6). Namun selagi Antum jadi mayoritas, maka berlaku kasarlah kepada non Muslim Kafirun serta paksalah mereka agar mereka mau masuk Islam (QS At-Tawbah: 28), dan apabila mereka tetep tidak mau masuk Islam, maka paksalah mereka agar mereka bersedia membayar pajak Jizyah wal pajak Kharaj (QS At-Tawbah: 29)!”.

Sekian yang dapat ana sampaikan pada postingan kali ini.

Wallahu’alam bishowwab.

Wassalam.

h1

APA MATA PENCAHARIAN RASULULLAH SAW?…

4 Februari 2013

APA MATA PENCAHARIAN RASULULLAH SAW?…

Assalamu ‘alaykum wa rahmatullahi ta’ala wa barakatuh. 

Wahai para pembaca yang Budiman, banyak sekali kaum Muslim yang mengatakan bahwa mata pencaharian Rasulullah SAW adalah berdagang. Na’am!, Ya!, Ana juga percaya bahwa mata pencaharian Rasulullah SAW adalah berdagang.

Ibnu Ishaq berkata: “Sesungguhnya Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau mengkontrak para lelaki untuk menjalankan hartanya dan bekerjasama dengan akad Mudhorobah dengan mereka atas kesepakatan upah tertentu. Orang-orang Quraisy adalah kaum pedagang. Ketika Khadijah mendengar kejujuran ucapan Nabi Muhammad SAW, besarnya sifat amanat dan kemuliaan akhlaqnya, Khadijah RA mengirimkan utusan untuk menawari Beliau SAW mengelola hartanya menuju Syam menjadi pedagang. Khadijah RA memberi beliau kompensasi yang paling menguntungkan dari semua kompensasi yang pernah diberikan kepada para pedagang. Misi dagang itu ditemani orang Khadijah RA yang bernama Maisaroh. Maka Rasulullah SAW menerima tawaran bisnis tersebut dan keluar untuk mengelola harta Khadijah dan Maisaroh ikut keluar menemani Nabi SAW hingga sampai di negeri Syam!”. (Sirah Nabawiyah karya Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, vol.1 hlm 187-188).

NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW!

NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW!

Tapi wajib Antum ketahui, yaa akhi / yaa ukhti, sesungguhnya Rasulullah SAW berprofesi sebagai pedagang itu hanyalah ketika Beliau SAW masih muda, yakni sebelum menikah dengan Khadijah RA.

Namun setelah Rasulullah SAW menikah dengan Siti Khadijah RA, maka Rasulullah SAW tidak lagi berprofesi sebagai pedagang!
Lalu apa mata pencaharian Rasulullah SAW untuk menghidupi ribuan istri-istrinya itu?
Baiklah ana akan bahas pada postingan ini!

Yaa akhi / yaa ukhti, ketahuilah setelah peristiwa Rasulullah SAW berdagang ke Negri Syam, maka Khadijah RA menikah dengan Beliau SAW. Tidak lama kemudian, beliau diangkat menjadi nabi dan rasul. Kemudian Beliau SAW berjuang menyampaikan risalah kenabian hingga Khadijah RA wafat. Tidak lama sesudah Khadijah RA wafat, Rasulullah SAW pun berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Di Madinah, beliau memfokuskan dirinya menjalankan tugas-tugas kenabian sekaligus menjadi kepala negara yang mengurusi urusan rakyatnya. Kemudian Allah SWT mewajibkan jihad (perang untuk menegakkan syari’at Islam), dan memberi Beliau SAW rizki dari sebagian Ghanimah (harta rampasan) dari peperangan-peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin.

Allah -’Azza Wa Jalla- telah berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang , maka sesungguhnya seperlima untuk Allah dan untuk Rasul-Nya!”. (QS Al-Anfal: 41).

Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa setelah Jihad diwajibkan, Allah memberinya rizki dari pintu Jihad.

Dari Ibnu ‘Umar RA, dia berkata bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus oleh Allah dengan pedang hingga manusia mau menyembah Allah dan tidak ada lagi yang disekutukan. Rizki ku dijadikan di bawah bayang-bayang tombakku!”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad).

Diriwayahkan dari Ibnu ‘Umar RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya mata pencaharian ku ada di bawah bayang-bayang tombak ku, dan barangsiapa yang tidak menaati perintahku, maka mereka akan dihinakan dengan membayar Jizyah!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari: 88).

Para Mufassir telah berkata: “‘Di bawah bayang-bayang tombak ku’ disini maksudnya adalah Barang jarahan atau Harta rampasan perang yang diambil oleh Rasulullah SAW dari para kaum kafir!”.

Kehalalan Ghanimah (Barang jarahan / Harta rampasan perang) bagi Rasulullah SAW memang diantara keistimewaan dan kekhususan beliau SAW yang tidak diberikan kepada nabi-nabi yang lain. Semua nabi dan rasul Allah diharamkan untuk memakan harta Ghanimah, kecuali Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Beliau SAW dihalalkan untuk memakan harta Ghaniman, karena memang itulah mata pencahariannya.

Jabir bin ‘Abdullah -Radhiyallahu ‘Anhuma- berkata bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun dari nabi-nabi sebelumku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang dari ummatku mendapati waktu sholat hendaklah ia sholat. Dihalalkan harta rampasan untukku. Nabi-nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya, sedangkan aku (Muhammad) diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikan (hak) syafa’a!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari).

Sebelum Rasulullah SAW diutus, Harta Ghanimah diharamkan bagi ummat-ummat terdahulu. Semua Ghanimah yang didapatkan disambar api yang diturunkan Allah dari langit yang kemudian menghabiskannya.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Harta rampasan perang itu tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelum kalian karena dulu langsung dilalap api yang turun dari langit”. (Hadits Shahih Riwayat At-Tirmidzi).

Kami berkata kepada ‘Umar bin Al-Khattab -Radhiyallahu ‘Anhuma-: “Wahai ‘Amirul Mu’minin (Wahai pemimpin Islam), berilah kami wejangan!”. Maka Beliau -Radhiyallahu ‘Anhuma- pun berkata: “Sesungguhnya aku memberikan wejangan kepada kalian untuk mematuhi setiap perintah Allah (yang dibuat dengan para Ahlul Dzimmah) karena itulah syari’at nabi mu (syari’at Muhammad) dan itulah sumber mata pencaharian mu (yakni pajak Jizyah dari para Ahlul Dzimmah (Kafir Dzimmi)). (Hadits Shahih).

Yaa akhi / yaa ukhti, ketahuilah, sesungguhnya selain harta Ghanimah, mata pencaharian Rasulullah SAW yang lain adalah harta Fay’. Sebenarnya Fay’ juga semakna dengan Ghanimah.
Cuman perbedaannya adalah!:

- Ghanimah = Adalah harta rampasan yang diperoleh setelah dilakukan peperangan.

- Fay’ = Adalah harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan.

Allah -Ta’ala- telah menerangkan di dalam Al-Qur’an Karim bahwa Harta Fay’ adalah salah satu hak Rasulullah SAW.

Allah SWT telah berfirman: “Apa saja Fay’ (harta rampasan) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, maka itu adalah untuk Allah, dan untuk Rasul-Nya!”. (QS Al-Hasyr: 7).

Sekian yang dapat ana sampaikan pada postingan ini. Bila ada kekurangan yang telah ana sampaikan, ana minta ma’af, sebab manusia itu tidak lufut dari khilaf, sesungguhnya hanya Allah-lah yang Maha Sempurna.

Wallahu’alam bishawwab.

 

h1

PETIR ADALAH MALAIKAT!

4 Februari 2013

PETIR ADALAH MALAIKAT!

PETIR ADALAH MALAIKAT!

PETIR ADALAH MALAIKAT!

Allah Ta’ala berfirman: “Dan guruh bertasbih memuji Allah, dan para malaikat (bertasbih) karena takut kepadaNya. Allah mengirim petir lalu menimpakannya kepada siapa yang dikehendakiNya, sedangkan mereka membantah tentang Allah, dan Dialah yang sangat keras siksaNya.” (Surah Ar Ra’du 13: 13).

Al-Baidawi berkata: “Ibnu Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW ditanyai mengenai petir. Jawabnya: ‘Itu adalah malaikat yang diberi kuasa terhadap awan. Dia telah melilitkan balutan api yang sekalian mengendarai awan dan para malaikat, dengan rasa gentar terhadap Allah.’” 

At-Tirmidzi mengutip Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa: “Orang-orang Yahudi datang pada Nabi Muhammad SAW dan berkata: ‘Ceritakanlah pada kami tentang petir. Apakah itu?’ Beliau SAW menjawab: ‘Petir adalah salah satu malaikat yang diwenangkan kepada awan. Dia melilitkan balutan api berkendaraan awan sesuai dengan kehendak Allah.’ Mereka bertanya: ‘Suara yang terdengar itu sesungguhnya apa?’ Dia berkata: ‘Itu adalah tegurannya kepada awan, dimana mereka harus berhenti ketika diperintahkan bagi mereka.’ Kata mereka: ‘Kau telah mengatakan kebenaran!’”.

 

h1

BAGAIMANAKAH BENTUK ALLAH SWT ITU?…

4 Februari 2013

BAGAIMANAKAH BENTUK ALLAH SWT ITU?…

BAGAIMANAKAH BENTUK ALLAH TA'ALA ITU?...

BAGAIMANAKAH BENTUK ALLAH TA’ALA ITU?… 

BAGAIMANAKAH WUJUD ALLAH TA'ALA ITU?...

BAGAIMANAKAH WUJUD ALLAH TA’ALA ITU?…

Wahai para pembaca yang Budiman, disini ana sama sekali tidak membahas ‘aqal wal logika, namun yang ana bahas disini hanyalah dalil-dalil dari Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin diantara Antum sekalian ada yang bertanya-tanya, seperti apakah bentuk Allah?! Oleh karenanya Insya Allah didalam postingan ini akan ana sajikan bagaimana sebenarnya bentuk Allah Swt menurut dalil-dalil dari Allah war Rasul-Nya!:

.

BEGINILAH WUJUD ALLAH SWT YANG SEBENARNYA!

BEGINILAH WUJUD ALLAH SWT YANG SEBENARNYA!

- Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘arsy-Nya (di atas Singgasana-Nya)! 

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Tuhan-mu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan-mu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (Qs Yunus: 3).

Sesungguhnya setiap hari Allah Swt selalu berada di atas ‘arsy-Nya (Singgasana-Nya) sesuai dalil Qs Yunus: 3. Jadi maksudnya adalah, dahulu kala ketika langit wal bumi (baca: alam semesta) sebelum diciptakan, maka Allah Ta’ala sama sekali tidak memiliki tempat. Namun setelah enam hari kemudian Allah Ta’ala bergerak untuk menciptakan langit wal bumi, maka terciptalah langit wal bumi wa seketika itu pula tercipta ‘arsy Allah (singgasana Allah) yang berfungsi sebagai tempat tinggal Allah!.

- Seseorang yang berada di dataran tinggi, maka dia akan lebih dekat dengan Allah Ta’ala ketimbang mereka yang berada di dataran rendah!

Sebagaimana dalilnya: “Antara langit dengan langit di atasnya adalah lima ratus tahun perjalanan, dan jarak antara langit dengan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan, antara langit yang ke tujuh dengan kursiy adalah lima ratus tahun perjalanan, antara Kursiy dengan air adalah lima ratus tahun perjalanan, dan ‘Arsy berada di atas air, dan Allah berada di atas ‘Arsy. Tidak ada satupun dari amal perbuatan kalian yang tersamar dihadapan-Nya!”. (Hadits Shahih Riwayat Darimi; Ibnu Khuzaimah; Thabrani; Baihaqi; dan Al-Khathib, Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Ra).

Dalil ini adalah sebagai wahyu yang telah menjelaskan kepada segenap manusia mengenai jarak antara langit dan bumi dan ‘alam-’alam yang lainnya. Jadi jaraknya adalah!: Permukaan bumi >>> Langit dunya = 500 tahun perjalanan. Langit dunya ( lapisan langit yang kesatu)  >>> langit kedua >>> = 500 tahun perjalanan. Langit kedua >>> Langit ketiga = 500 tahun perjalanan. Langit ketiga >>> langit keempat = 500 tahun perjalanan. Langit keempat >>> langit kelima = 500 perjalanan. Langit kelima >>> Langit keenam = 500 tahun perjalanan. Langit keenam >>> Langit ketujuh = 500 tahun perjalanan. Langit ketujuh >>> Kursiy Allah = 500 tahun perjalanan. Kursiy Allah >>> Air dan juga ‘Arsy Allah = 500 tahun perjalanan. Sedangkan Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang Mulia. Jadi dapat dipastikan bahwa kurang lebih manusia bisa bertemu dengan Allah Ta’ala harus melewati kurun waktu selama 4500 tahun perjalanan untuk sampai ke atas langit dan ke atas ‘arsy Allah untuk bertemu wa bertamu kepada Allah Ta’ala, sang Tuhan semesta ‘alam. Dan wajib diketahui pula, kalimah ‘tahun perjalanan’ yang disebutkan didalam hadits di atas adalah tahun perjalanan unta, karena semasa Rasulullah Saw hidup, kendaraan adalah unta. Jadi simpelnya adalah, untuk sampai kepada Allah Ta’ala kita dibutuhkan jarak tempuh 4500 tahun perjalanan unta dari permukaan bumi terbang menuju ‘arsy Allah (singgasana Tuhan) yang terletak di atas langit yang ketujuh. Dan karena Allah Ta’ala bertempat di atas, maka dapat dipastikan bahwa seseorang yang sedang berada di dataran tinggi lebih dekat jaraknya kepada Allah Ta’ala ketimbang seseorang yang sedang berada di dataran rendah.

- Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘arsy-Nya mirip seperti bulan!

Didalam “Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah” dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm, disitu dijelaskan:

“Allah Maha Tinggi diatas makhluk-Nya dan Allah Swt bersama mereka dimana saja mereka berada dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan, sebagaimana Allah tuturkan yang demikian itu dalam firmanNya: ‘Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu (wa huwa ma’akum) di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Surah Al-Hadid: 4)’. Bahkan bulan merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah, yang termasuk diantara makhluk-Nya yang paling kecil yang terdapat di langit. Dan bulan ini bersama musafir (orang dalam perjalanan) dimana saja dia berada, serta yang bukan musafir. Dan Allah berada (bersemayam) diatas ‘Arsy-Nya, Allah mengawasi makhluk-Nya dan Allah memperhatikan (perbuatan) mereka, meneliti (gerak-gerik mereka), mengintai mereka, dan seterusnya dalam pengertian RububiyahNya.”

Dari dalil di atas menyatakan bahwasanya Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘arsy itu seperti halnya bulan. Jikalau Anda sekalian ingin tau Allah, maka perhatikanlah bulan di langit! Bulan itu bertempat di langit, namun dia bersama kita, walaupun kita berjalan ke perkotaan; ke perkampungan; ke puncak gunung; ke puncak bukit; ke tengah lautan luas; ataupun ke pemukiman penduduk, namun bulan selalu bersama-sama dengan kita semua. Begitu juga dengan Allah Swt yang bertempat di atas ‘arsy-Nya, namun Dia Swt selalu bersama kita dimana pun kita berada.

- Allah Ta’ala mempunyai bentuk!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki batasan (bentuk) dan tidak ada yang mengetahui bentuk-Nya kecuali Dia sendiri. Demikian pula tempat-Nya memiliki batasan (bentuk), yaitu bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘arsy (Singgasana Allah yang terletak di atas langit yang ketujuh) di atas seluruh lapisan langit. Maka keduanya ini (Allah dan tempat-Nya) memiliki bentuk dan batasan!”. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm didalam Muwafaqat Sharih Al-Ma’qul, j. 2, h. 29).

- Wujud Allah Ta’ala mirip seperti wujud Nabi Adam As!

Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam As berdasarkan bentuk-Nya!”. (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).

Para Mufassir (Ahli tafsir) telah berkata: “… berdasarkan bentuk sang Maha Rahman (Bentuk Allah)!”. 

- Allah Ta’ala memiliki ruh! 

Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila Aku (Allah) telah menyempurnakan kejadiannya (penciptaan Nabi Adam), dan telah meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud!”. (Qs Al-Hijr: 29).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya ruh Kami (Ruh Allah), dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat!”. (Qs At-Tahrim: 12).

Sudah sangat jelas didalam dalil-dalil di atas menerangkan bahwa Allah itu memiliki ruh. Dalil di atas jelas menerangkan bahwa ruh Nabi Adam As (nenek moyang seluruh manusia) dan ruh Nabi ‘Isa Almasih As adalah ruh Allah yang dihembuskan (baca: ditiupkan) ke dalam jasad Nabi Adam As dan ke dalam jasad Nabi ‘Isa Almasih As. Jadi bisa dipastikan bahwa ruh Nabi Adam As war ruh Nabi ‘Isa Almasih As adalah ruh Allah (ruh Allah /roh Allah / arwah Allah / jiwa Allah / Allah’s Spirit / Allah’s soul) yang menempel di dalam jasad Nabi Adam As dan di dalam jasad Nabi ‘Isa Almasih As. Kita semua udah tau bahwa Nabi Adam As adalah nenek moyang seluruh manusia. Jadi bisa dipastikan bahwa ruh kita (ruh manusia) adalah ruh Allah, karena ruh Nabi Adam As adalah ruh Allah sebagaimana dalil yang telah dijelaskan di atas.

- Allah Ta’ala memiliki pembatas yaitu langit! 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahumullah- berkata: “Semua manusia, baik dari orang-orang kafir maupun orang-orang mukmin telah sepakat bahwa Allah Ta’ala bertempat di langit, dan bahwa Dia diliputi dan dibatasi oleh langit tersebut, kecuali pendapat al-Marisi dan para pengikutnya yang sesat. Bahkan anak-anak kecil yang belum mencapai umur baligh apabila mereka bersedih karena tertimpa sesuatu maka mereka akan mengangkat tangan ke arah atas berdoa kepada Tuhan mereka yang berada di langit, tidak kepada apapun selain langit tersebut. Setiap orang lebih tahu tentang Allah dan tempat-Nya dibanding orang-orang Jahmiyyah”. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm didalam Muwafaqat Sharih al-Ma’qul, j. 2, h. 29-30).

- Allah Ta’ala mempunyai wajah!

Allah Ta’ala berfirman: “Tiap-tiap sesuatu pasti akan binasa kecuali wajah Allah!”. (Qs Al-Qashash: 88).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah!”. (Qs Al-Baqarah: 272).

Nabi Muhammad Saw berdoa kepada Allah Ta’ala: “Dan aku memohon kenikmatan memandang wajah-Mu (wajah Allah) serta kerinduan untuk menemui-Mu!”. (Hadits Riwayat An-Nasa’i dalam Ash-Shughra (1305), disahihkan Al-Albani didalam Takhrij As-Sunnah: 424, lihat Fathu Rabbil Bariyah, hal. 57).

Madzhab Hanbali dan semua ulama’ Salafushalih (Leluhur Islam) telah sepakat bahwasanya, jikalau Allah Ta’ala, sang Tuhan semesta ‘alam memiliki Wajah (Muka Allah), maka Dia Swt pun memiliki dua mata (kedua mata Allah); mulut (Mulut Allah); bibir (kedua bibir Allah); gusi (Gusi Allah); sinar bagi wajah-Nya (sinar yang memancar dari wajah Allah); dua tangan (tangan kiri dan tangan kanan Allah); jari-jari (jari-jari Allah); telapak tangan (telapak tangan Allah); jari kelingking (kelingking Allah); jari jempol (jempol Allah), dada (dada Allah); paha (paha Allah); dua betis (betis-betis Allah); dan dua kaki (kedua kaki Allah), sedangkan Allah Ta’ala tidak memiliki kepala, karena tidak ada dalil yang menyatakan bahwasanya Allah Ta’ala itu memiliki kepala.

- Allah Ta’ala memiliki pantat! 

Dari ‘Abdullah bin Khalifah dari ‘Umar Ra, dia berkata: “Jika (Allah) duduk di atas singgasananya, maka terdengarlah darinya suara ‘Kret Kret’ seperti suara yang biasa keluar dari kursi yang masih baru.” 

Jikalau Allah Ta’ala bisa duduk, maka bisa dipastikan bahwa sebenarnya Allah Ta’ala itu memiliki pantat sebagaimana manusia. Karena mana mungkin Allah Swt akan duduk jikalau Dia tidak memiliki pantat.

- Allah Ta’ala mempunyai pinggang! 

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim, ia berpegang kepada pinggang ar-Rahman (Pinggang Allah). Allah berfirman kepadanya: ‘Diamlah!’. Ia menjawab: ‘Ini adalah kesempatan berlindung kepada-Mu dari pemutusan’. Allah berfirman: ‘Apakah kamu tidak rela Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?’. Ia menjawab: ‘Ya, ya Tuhanku’. Allah berfirman: ‘Itu untukmu’”. Abu Hurairah Ra berkata: “Bacalah kalau kamu mau: ‘Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?’”. (Hadits Shahih Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Ra, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1696, dan Mukhtashar Shahih Muslim no. 1764, shohih bukhari no. 4455, bab 2945 Surah Muhar).

Sesuai dalil di atas, sesungguhnya para Salafushalih (Leluruh Islam) telah bersepakat bahwa Allah Ta’ala itu memang mempunyai pinggang yang dinamai dengan ‘Pinggang Ar-Rahman’. Maksud dari kalimah Pinggang Ar-Rahman adalah Pinggang Yang Maha Rahman / Pinggang Yang Maha Pengasih. Salah satu nama Asma’ul Husna Allah adalah Ar-Rahman (Yang Maha Rahman / Yang Maha Pengasih). Jadi simpelnya adalah, Allah Ta’ala juga memiliki pinggang.

- Allah Ta’ala memiliki tangan kiri dan tangan kanan!

Allah Ta’ala berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada (Nabi Adam) yang telah Aku ciptakan dengan Kedua Tangan-Ku (Kedua Tangan Allah). Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (Qs Shad: 75).

Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan mereka-lah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), bahkan Kedua Tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki!”. (Qs Al-Ma’idah: 64).

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda: “Mereka menemui Adam dan berkata: ‘Wahai Adam, engkau adalah Ayahanda manusia, Allah telah menciptakan engkau dengan Tangan-Nya, meniupkan ruh ke dalam dirimu, dan Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, maka mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Tuhan-mu!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim).

Jelas sekali didalam ketiga dalil di atas menyebutkan bahwa Allah Ta’ala memiliki dua tangan yakni tangan kiri dan tangan kanan. Dan Allah Ta’ala pun menciptakan Nabi Adam As dengan kedua tangan-Nya.

- Allah Ta’ala terikat arah kiri dan kanan!

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr Ra bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat ‘adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah Ta’ala.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim).

Di dalam hadits shahih di atas diterangkan bahwa orang-orang yang berbuat ‘adil, mereka akan berada di sebelah kanan Allah. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa Allah Ta’ala terikat arah kiri dan kanan. Dan dari dalil di atas bisa ditarik kesimpulan pula bahwa Allah Ta’ala itu akan berada di sebelah kiri orang-orang yang berbuat ‘adil.

- Allah Ta’ala mempunyai lima jari! 

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada satu buah hati pun kecuali dia berada di antara jari-jari Allah Yang Maha Rahman!”. (Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal IV/182. Sunan Ibnu Majah I/72, Mustadrak Al-Hakim I/525. Al-Ajiri, Asy-Syari’ah hal. 317, Ibnu Mandah, Ar-Rad).

Seorang biarawan Yahudi berkata: “Nanti pada hari kiamat, sesungguhnya Allah meletakkan langit di atas satu Jari-Nya, dan seluruh bumi di atas satu Jari-Nya yang lain, semua gunung di atas satu Jari-Nya yang lain, pohon dan sungai di atas satu Jari-Nya yang lain, dan semua makhluk di atas satu Jari-Nya yang lain. Kemudian Allah menggetarkannya dan berfirman: ‘Akulah sang raja! Akulah raja!’”. Maka Rasulullah Saw tertawa sebagai pertanda Beliau Saw membenarkan ucapan biarawan Yahudi tersebut. (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).

Dilihat dari kedua dalil di atas, ternyata memang benar bahwa Allah Ta’ala itu mempunyai jari-jari di tangan-Nya. Dan apabila kita perhatikan lagi dalil di atas, itu menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki lima jari (kelima Jari Allah). Karena pada hari kiamat, nanti Allah akan menyimpan langit di Jari-Nya yang kesatu, kemudian planet bumi akan disimpan di Jari-Nya yang kedua, kemudian gunung-gunung disimpan di Jari-Nya yang ketiga, kemudian pohon-pohon dan sungai-sungai disimpan di Jari-Nya yang keempat, dan kemudian semua makhluk-Nya disimpan di Jari-Nya yang kelima. Jadi bisa dipastikan bahwa memang Allah Ta’ala mempunyai lima jari di tangan-Nya (Kelima Jari Allah).

- Allah Ta’ala mempunyai mata dan telinga! 

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di goa); kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit dan di bumi. Alangkah terang Penglihatan-Nya dan alangkah tajam Pendengaran-Nya; tak ada seorang pun pelindung bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-nya didalam menetapkan suatu keputusan’.” (Qs Al-Kahfi: 26).

Didalam Qs Al-Kahfi: 26 diatas menerangkan bahwa Penglihatan Allah itu terang dan Pendengaran Allah itu tajam. Mata adalah indera untuk melihat (Penglihatan), dan telinga adalah indera untuk mendengar (Pendengaran). Menurut dalil tersebut mengatakan bahwa Allah Ta’ala mempunyai Penglihatan dan Pendengaran, jadi bisa disimpulkan bahwa Allah Ta’ala itu memiliki Mata dan Telinga.

- Allah Ta’ala memiliki kaki! 

Dari Said Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas Ra, dia berkata: “Kursiy adalah tempat kedua telapak kaki Allah, dan ‘Arsy tidak seorang pun yang dapat mengira-ngira keagungannya”. 

Mana mungkin Allah Ta’ala memiliki telapak kaki apabila Allah Ta’ala tidak memiliki kaki. Jadi bisa dipastikan bahwa Allah Ta’ala memiliki kaki (kaki Allah) sekaligus memiliki telapak kaki (telapak kaki Allah) pula.

- Allah Ta’ala memiliki betis! 

Rasulullah Saw bersabda: “Pada hari Tuhan kami (Allah Ta’ala) menyingkapkan betis-Nya, maka seluruh Mukminin dan Mukminah bersujud kepada-Nya. Dan tinggal-lah setiap orang yang sujud di dunya karena riya’ dan sum’ah”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari no: 4635).

Sesungguhnya dalil hadits shahih di atas menceritakan mengenai peristiwa hari kiamat di mana seluruh ummat Islam bersujud kepada Allah Ta’ala ketika Allah menyingkapkan betis-Nya. Oleh karenanya, berdasarkan hadits shahih di atas, Allah Ta’ala juga memiliki betis, yakni Betis Allah.

- Allah Ta’ala memiliki fisik sebagaimana manusia! 

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Ra yang berkata Rasulullah Saw bersabda: “Aku melihat Tuhan-ku (Allah Ta’ala) dalam bentuk pemuda ‘Amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”. (Hadits Shahih Riwayat Al-Baihaqi didalam Asmaa’ Was Shifaat no 938; Riwayat Ibnu Adiy dalam Al-Kamil 2/260-261; Riwayat Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55).

- Nabi Muhammad Rasulullah Saw duduk berduaan dengan Allah Ta’ala!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm berkata: “Nabi Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya!”. (Majmu’ Fatawa, j. 4, h. 374).

Allah Swt di atas ‘arsy-Nya tidaklah sendirian, karena Dia Swt selalu ditemani oleh ruh Rasulullah Saw yang sedang duduk di sebelah Allah.

- Allah Ta’ala turun ke langit dunya setiap tengah malam! 

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Rabb kita (Tuhan kita) turun ke langit dunya (langit yang ke satu) pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni!’”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari: 1145 dan Muslim: 758).

Allah setiap hari tinggal dan bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Namun setiap tengah malam, Allah pergi dari ‘arsy-Nya untuk turun ke langit dunya yang bertujuan untuk menyurvei siapa saja yang sedang melaksanakan sholat malam (contoh: Sholat Tahajud). Wajib diketahui bahwa ‘arsy Allah (singgasana Allah yang sebagai tempat kediaman Allah) itu lokasinya adalah berada di atas langit yang ke tujuh. Sedangkan langit dunya adalah langit yang kesatu yang menurut bahasa kita adalah ‘lapisan atmosfer’ atau bisa juga ‘luar angkasa’ atau ‘antariksa’. Jadi setiap hari Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Sedangkan setiap tengah malam, Allah menyurvei hamba-Nya untuk melihat siapa saja yang sedang melaksanakan sholat malam. Allah menyurvei hamba-Nya (manusia) dengan cara turun dari ‘arsy menuju ke langit dunya (lapisan atmosfer / luar angkasa / antariksa).

- Allah Ta’ala turun ke langit dunya serupa dengan seseorang yang baru turun satu tingkat dari atas mimbar! 

Ibnu Bathutah pernah bercerita: “Saya pernah menghadiri ceramahnya (ceramah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm) pada hari Jum’at ketika beliau sedang memberi pelajaran di hadapan umum di atas mimbar Jami’. Banyak pelajaran yang disampaikannya saat itu, diantaranya beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah turun ke langit dunya serupa dengan turunnya saya ini!’. Kemudian beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm) turun satu tingkat di jenjang mimbar!”. (Ibnu Bathutah didalam Rihlahnya hal. 112-113).

Beginilah cara turunnya Allah dari atas ‘arsy menuju ke langit dunya di setiap tengah malam!.

- Kalo Allah Ta’ala berkehendak, niscaya Dia Swt akan bersemayam di atas punggung nyamuk! 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm berkata: “Jika Allah berkehendak, pastilah Dia bersemayaam di atas punggung seekor nyamuk lalu ia terbang membawa-Nya dengan kekuasan dan kelembutan pengaturan-Nya!”. (Kitab At-Ta’sîs Fi Ar-Raddi ‘Alâ Asaas At-Taqdîs: 1/568. Kitab Asaas At-Taqdîs adalah karya Imam Fakhruddîn Ar-Razi Rhm, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah).

Berdasarkan dalil di atas mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Saking kuasanya, jika Dia berkehendak, pastilah Dia akan bersemayam di atas punggung seekor nyamuk untuk menunggangu si punggung nyamuk tersebut. Ketika nyamuk itu terbang kesana kemari, maka Allah Ta’ala juga tetap hinggap di atas punggung nyamuk tersebut, berdasarkan dalil di atas!

- Allah Ta’ala akan cemburu jikalau Dirinya tidak disembah! 

Asma’ binti Abu Bakar Ra meriwayatkan, bahwa suatu saat ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah Ta’ala!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Syarah Muslim li an-Nawawi [9/28]).

Abu Hurairah Ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya (daripada rasa cemburu yang dimiliki oleh manusia)!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Syarah Muslim li an-Nawawi [9/29]).

Abu Hurairah Ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan untuknya”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Syarah Muslim li an-Nawawi [9/28]).

‘Abdullah bin Mas’ud Ra meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada satupun sosok yang lebih menyukai pujian kepada dirinya dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Allah pun memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih punya rasa cemburu dibandingkan Allah, dikarenakan itulah maka Allah pun mengharamkan perkara-perkara yang keji (Karena Allah Maha Pencemburu)!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Syarah Muslim li an-Nawawi [9/27]).

Salah satu kemahakuasaan Allah adalah memiliki rasa sifat pencemburu yang sangat besar. Sesungguhnya Allah itu Tuhan Yang Maha Pencemburu. Allah Yang Maha Pencemburu selalu merasa cemburu ketika melihat ada seorang manusia yang tidak mau menyembah-Nya. Jadi jikalau kita tidak mau membuat Allah Ta’ala merasa cemburu kepada kita, maka pujilah dan sembahlah Dia, karena sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar merasa senang ketika diri-Nya dipuja dan dipuji oleh kita (selaku hamba-Nya) sesuai keempat hadits shahih yang telah ana tuliskan di atas bahwa Allah itu Tuhan Yang Maha Pencemburu!.

- Allah Ta’ala juga bisa tertawa! 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk ke syurga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah Ta’ala berfirman kepadanya: ‘‘Pergilah kamu, masuklah ke dalam syurga (jannah)!’ Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa syurga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata: ‘Wahai Tuhan-ku, aku dapati syurga telah penuh.’ Allah Ta’ala berfirman kepadanya: ‘Pergilah, masuklah kamu ke syurga.’.” Nabi Muhammad Saw bersabda: “Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa syurga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata: ‘Wahai Tuhan-ku, aku dapati syurga telah penuh.’ Allah Ta’ala berfirman kepadanya: ‘Pergilah, masuklah kamu ke syurga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunya dan sepuluh lagi yang sepertinya’ atau ‘Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunya’.” Nabi Muhammad Saw bersabda: “Orang itu pun berkata: ‘Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’.” Ibnu Mas’ud Ra berkata: “Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah Saw tertawa sampai tampak gigi taringnya!”. Periwayat berkata: “Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni syurga yang paling rendah kedudukannya”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Ibnu Mas’ud Ra pun tertawa, lalu berkata: ‘Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’ Mereka menjawab: ‘Mengapa engkau tertawa?’. Beliau menjawab: ‘Demikian itulah tertawanya Rasulullah Saw. Ketika itu mereka (para shahabat) bertanya: ‘Mengapa anda tertawa, wahai Rasulullah?’. ‘Disebabkan tertawanya Tuhan semesta ‘alam tatkala orang itu berkata: ‘Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta ‘alam?’. Lalu Allah berfirman: ‘Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Maha kuasa melakukan segala sesuatu yang Aku kehendaki’.’”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim, lihat Syarah Muslim [2/314-315]).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rhm berkata: “Para salaf telah bersepakat menetapkan ‘tertawa’ ada pada diri Allah (Allah Ta’ala juga bisa tertawa). Oleh sebab itu wajib menetapkannya (untuk diimaninya) tanpa menyelewengkan maknanya, tanpa menolaknya, tanpa membagaimanakan sifatnya. Itu merupakan tertawa yang hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala.” (Lihat Syarah Lum’at al-I’tiqad, hal. 61).

Telah bercerita kepada ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Allah tertawa terhadap dua orang dimana yang satu membunuh yang lainnya namun yang satu berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Kemudian Allah menerima taubat orang yang membunuhnya lalu diapun (berperang) hingga mati syahid!”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari).

KESIMPULAN!:

SETIAP TENGAH MALAM, ALLAH SWT SELALU TURUN DARI ATAS 'ARSY-NYA KE LANGIT DUNYA!

SETIAP TENGAH MALAM, ALLAH SWT SELALU TURUN DARI ATAS ‘ARSY-NYA KE LANGIT DUNYA! 

ALLAH TA'ALA!

ALLAH TA’ALA!

Wahai para pembaca yang Budiman, seperti inilah sebenarnya wujud-wujud dan bentuk-bentuk Allah Ta’ala sang Tuhan semesta ‘alam.

Jadi pada postingan kali ini kesimpulannya adalah!:

1] Allah Ta’ala memiliki tempat kediaman (‘Arsy);
2] Allah Ta’ala itu berada di tempat yang paling tinggi (‘Arsy), dan seseorang yang berada di dataran tinggi lebih dekat jaraknya dengan Allah Ta’ala ketimbang orang yang berada di dataran rendah;
3] Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘arsy mirip seperti bulan;
4] Allah Ta’ala mempunyai bentuk;
5] Wujud Nabi Adam As (Wujud manusia) tercipta sebagaimana wujud Allah;
6] Allah Ta’ala juga mempunyai ruh;
7] Allah Ta’ala memiliki pembatas;
8] Allah Ta’ala memiliki wajah;
9] Allah Ta’ala memiliki pantat;
10] Allah Ta’ala mempunyai pinggang;
11] Allah Ta’ala memiliki tangan kiri dan tangan kanan;
12] Allah Ta’ala terikat arah kiri dan kanan;
13] Allah Ta’ala mempunyai lima jari;
14] Allah Ta’ala mempunyai mata dan telinga;
15] Allah Ta’ala memiliki kaki;
16] Allah Ta’ala memiliki betis;
17] Allah Ta’ala memiliki fisik sebagaimana manusia;
18] Nabi Muhammad Rasulullah Saw duduk berduaan dengan Allah Ta’ala;
19] Allah Ta’ala turun ke langit dunya setiap tengah malam;
20] Allah Ta’ala turun ke langit dunya serupa dengan seseorang yang baru turun satu tingkat dari atas mimbar;
21] Kalo Allah Ta’ala berkehendak, niscaya Dia Swt akan bersemayam di atas punggung nyamuk;
22] Allah Ta’ala akan cemburu jikalau Dirinya tidak disembah;
23] Allah Ta’ala juga bisa tertawa!

Seperti inilah bentuk dan wujud Allah sebagaimana apa yang telah ana terangkan dengan dalil-dalil yang telah benar!

Semoga bermanfa’at!

Wassalam! 

 

h1

PERINTAH RASULULLAH SAW KEPADA PEREMPUAN UNTUK MENYUSUI PRIA DEWASA!

4 Februari 2013

PERINTAH RASULULLAH SAW KEPADA PEREMPUAN UNTUK MENYUSUI PRIA DEWASA!

PERINTAH RASULULLAH SAW KEPADA PEREMPUAN UNTUK MENYUSUI PRIA DEWASA!

PERINTAH RASULULLAH SAW KEPADA PEREMPUAN UNTUK MENYUSUI PRIA DEWASA! 

Hadits Rasulullah Saw mencatat bagaimana Nabi Muhammad Rasulullah Saw mengijinkan dilakukannya praktik yang mungkin tidak terlintas di dalam benak mu, yakni wanita dewasa untuk menyusui pria-pria dewasa yang bukan anaknya. Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW, ada seorang pria yang sangat terusik oleh anak angkatnya karena anak angkatnya tinggal di rumah yang sama dimana istrinya bebas berkeliaran tanpa memakai kerudung. Hadits shahih berikut ini menceritakannya secara terperinci.

‘Aisyah RA menceritakan bahwa Sahla binti Suhail menemui Rasul Allah Saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku melihat pada wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kekesalan) ketika Salim (yang adalah seorang anak angkat ku) masuk ke dalam (rumah kami)”, dan kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Susuilah dia (Susuilah Salim)!”. Wanita itu berkata: “Bagaimana mungkin saya harus menyusuinya karena Salim adalah seorang pria dewasa?”. Rasulullah Saw tersenyum dan bersabda: “Aku sudah tahu bahwa Salim adalah seorang pria muda”. ['Amr telah membuat tambahan ini didalam riwayatnya: "Bahwasanya Salim berpartisipasi didalam Perang Badr". Dan didalam riwayat Ibnu 'Umar Ra (perkataannya adalah): "Rasulullah Saw tertawa"]. (Sahih Muslim Jilid 8, Nomor 3424; and Jilid 8, Nomor 3425).

‘Aisyah Ra meriwayatkan bahwa Salim, budak Abu Hudhaifa yang telah dimerdekakan, tinggal dengannya dan keluarganya dalam rumah mereka. Ia (yaitu anak perempuan Suhail) menemui Rasul Allah SAW dan berkata: “Salim telah mencapai usia ‘Aqil Baligh seperti halnya pria dewasa, dan dia mengerti apa yang pria dewasa mengerti, dan dia masuk ke rumah kami dengan bebas. Aku melihat ada sesuatu (yang mendatangkan kemarahan) di kalbu Abu Hudhaifa”. Dan Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Susuilah dia dan kamu akan menjadi haram baginya, dan (kemarahan) yang dirasakan Abu Hudhaifa di dalam kalbunya akan hilang!”. Ia pulang dan berkata: “Kemudian aku menyusui Salim, dan apa (yang ada) di dalam kalbu Abu Hudhaifa (yakni dapat mendatangkan kemarahan) itu menghilang”. (Shahih Muslim Jilid8, Nomor 3427).

Ummu Salama berkata kepada ‘Aisyah Ra: “Seorang pria remaja di ambang pubertas datang kepadamu. Bagaimanapun juga, aku tidak suka dia mendatangiku, dan ‘Aisyah Ra berkata: “Tidakkah engkau melihat dalam diri Rasulullah Saw sbuah teladan untukmu?” Ia juga berkata: Istri Abu Hudhaifa berkata: “Wahai Rasulullah, Salim datang kepadaku dan sekarang dia sudah dewasa, dan ada sesuatu yang (membuat marah) dalam pikiran Abu Hudhaifa mengenai dia”, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Susuilah dia (sehingga ia menjadi anak asuhmu) (anak susu mu), dan dengan demikian dia dapat datang kepadamu (dengan bebas)!”. (Shahih Muslim Jilid 8, Nomor 3428).

Zainab binti Abu Salama menceritakann: Aku mendengar Ummu Salama, istri Rasulullah Saw berkata kepada ‘Aisyah: “Demi Allah, aku tidak suka terlihat oleh seorang pria remaja yang telah melewati masa pengasuhan”, dan ia (‘Aisyah) berkata: “Mengapa demikian? Sahla binti Suhail menemui Rasulullah Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku bersumpah demi Allah bahwa aku melihat di wajah Abu Hudhaifa (tanda-tanda kemarahan) saat Salim masuk (ke dalam rumah)’, dan Rasulullah Saw menjawab: ‘Susuilah dia.’ Ia (Sahla binti Suhail) berkata: ‘Dia berjanggut’. Tetapi Nabi Muhammad Saw bersabda lagi: ‘Susuilah dia, dan itu akan menghilangkan (ekspresi kemarahan) yang ada di wajah Abu Hudhaifa!’. Ia berkata: (Aku melakukannya) dan, demi Allah, aku tidak lagi melihat (tanda-tanda kemarahan) di wajah Abu Hudhaifa’!”. (Muwatta’ Malik Jilid 30, Nomor 3018).

Yahya menceritakan kepadaku dari Malik dari nafi bahwa Safiyyah binti Abi Ubayd mengatakan kepadanya bahwasanya Hafsah sang Ummul Mukminin mengutus Asim ibnu Abdullah ibnu Sad kepada saudarinya, Fatima binti Umar bin al-Khattab, agar disusuinya sepuluh kali sehingga ia dapat masuk untuk melihatnya. Ia melakukannya, sehingga ia dapat masuk untuk menemuinya (perempuan itu). (Muwatta Malik Jilid 30, Nomor 30212).

Yahya menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab bahwa dia ditanyai mengenai menyusui orang yang lebih tua. Dia berkata: “‘Urwah bin az-Zubayr memberitahuku bahwa Abu Hudhayfah bin Utbah ibn Rabi’a, salah seorang shahabat Rasulullah SAW yang hadir di Badar, mengadopsi Salim (yang disebut Salim, mawla dari Abu Hudhayfa) seperti Rasulullah Saw mengadopsi Zayd bin Haritha. Dia menganggapnya sebagai putranya, dan Abu Hudhayfa menikahkannya dengan saudara perempuan dari saudara laki-lakinya, Fatima binti Walid bin Utba bin Rabi’a, yang pada waktu itu ada di antara orang-orang yang hijrah pertama. Dia adalah salah seorang wanita lajang yang terbaik dari kaum Quraisy. Ketika Allah Yang Maha Terpuji menurunkan dalam kitab-Nya apa yang diwahyukan-Nya mengenai Zayd bin Haritha: ‘Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu’ (Qs 33: 5) orang-orang dalam posisi ini ditelusuri kembali kepada para bapa mereka. bila ayahnya tidak diketahui, mereka ditelusuri kepada maula mereka”. (Muwatta Malik Jilid 30, Nomor 30212).

Sahla binti Suhail yang adalah istri Abu hudhaifah, dan seorang dari suku Amar bin Luayy, menemui Rasulullah Saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, Kami menganggap Salim sebagai anak dan dia masuk ke rumah ku untuk melihatku ketika aku sedang tidak berkerudung. Kami hanya mempunyai satu kamar, jadi apa pendapatmu mengenai situasi ini?”, Rasulullah Saw bersabda: “Susuilah Salim lima kali, maka Salim akan menjadi muhrim mu!”. Ia kemudian memandangnya sebagai anak asuh. ‘Aisyah Ummul Mu’minin Ra mengambil hal itu sebagai contoh untuk pria manapun yang ia inginkan agar dapat menemuinya. Ia memerintahkan saudarinya, Ummu Kultsum binti Abu Bakar Siddiq Ra dan putri-putri saudara laki-lakinya untuk menyusui pria manapun yang ia inginkan untuk menemuinya. Para istri Nabi Saw menolak membiarkan siapapun menemui mereka dengan cara menyusui seperti itu. Mereka berkata: “Tidak! Demi Allah, menurut kami apa yang diperintahkan Rasulullah Saw untuk dilakukan Sahla binti Suhail hanyalah sebuah pelepasan berkenaan menyusui Salim. Tidak! Demi Allah, tidak seorangpun boleh mendatangi kami dengan menyusui seperti itu!”. Inilah yang dipikirkan oleh para istri Rasulullah Saw mengenai menyusui orang yang lebih tua. (Muwatta Malik Jilid 30, Nomor 30213).

Yahya menceritakan kepadaku dari Malik bahwa Abdullah bin Dinar berkata: “Seorang pria menemui Abdullah bin ‘Umar ketika aku bersamanya di suatu tempat dimana penghakiman diberikan dan menanyainya tentang menyusui orang yang lebih tua. Abdullah bin ‘Umar menjawab: ‘Seorang pria menemui Umar bin al-Khattab dan berkata: ‘Aku mempunyai seorang budak perempuan dan aku biasa berhubungan badan dengannya. Istriku pergi kepadanya dan menyusuinya. Ketika aku menemui gadis itu, istriku mengatakan padaku agar berhati-hati, karena ia telah menyusuinya!’ Umar mengatakan kepadanya untuk memukuli istrinya dan menemui budak perempuan itu karena persaudaraan melalui menyusui hanyalah melalui menyusui yang lebih muda’!”. (Muwatta Malik Jilid 30, Nomor 30214).

Yahya menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa’id bahwa seorang pria berkata kepada Abu Musa Al-Ashari: “Aku minum susu dari payudara istriku dan susu itu masuk ke dalam perutku”. Abu Musa berkata: “Aku hanya berpendapat bahwa ia haram bagimu”. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Lihatlah pendapat apa yang kau berikan kepada orang itu”. Abu Musa berkata: “Lalu apa pendapatmu?” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Persaudaraan melalui menyusui hanya ada dalam dua tahun pertama”. Abu Musa berkata: “Janganlah kau tanyai aku apapun sedangkan orang terpelajar ini ada di antara kamu!”. (Muwatta Malik Jilid 30, Nomor 30214).

.

KESIMPULAN!:

TIADA ILAH YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH. DAN MUHAMMAD BIN 'ABDULLAH ADALAH RASUL ALLAH!

TIADA ILAH YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH. DAN MUHAMMAD BIN ‘ABDULLAH ADALAH RASUL ALLAH! 

Marilah kita menyimpulkan seluruh dalil-dalil shahih yang ada!

Nabi Muhammad Rasulullah Saw memerintahkan seorang wanita yang sudah menikah untuk menyusui anak adopsi suaminya, walaupun faktanya anak laki-laki itu telah mencapai usia ‘aqil baligh.

1] Siti ‘Aisyah Ra mengambil hal ini sebagai sarana agar ia dapat menyusui laki-laki yang ia inginkan untuk mempuyai jalan masuk kepadanya;

2] Siti ‘Aisyah Ra menasehati saudarinya dan keponakan-keponakan perempuan nya untuk melakukan hal yang sama sehingga mengijinkan pria-pria untuk menemui mereka;

3] Istri-istri Rasulullah Saw menentang praktik ini, mengklaim bahwa Rasulullah Saw merintahkan hal ini hanya untuk Sahla;

4] Oranglain seperti ‘Umar dan Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa kekerabatan dibatasi dengan menyusui seorang anak selama dua tahun pertama. Setelah itu, susu hanya menjadi makanan bagi anak;

5] ‘Umar bin Khattab Ra memerintahkan seorang pria untuk memukuli istrinya karena telah menyusui seorang budak perempuan dengan tujuan menjadikan budak perempuan itu haram bagi suaminya!

Maka apapun penafsiran ‘Aisyah; ‘Umar; dan Ibnu Mas’ud terhadap perintah Rasulullah Saw, itu semua hanyalah penafsiran belaka, karena sesungguhnya ‘Aisyah; ‘Umar; and Ibnu Mas’ud adalah manusia biasa yang ada benar dan salahnya.

Namun yang wajib dicamkan adalah, faktanya Nabi Muhammad Rasulullah Saw memerintahkan seorang wanita untuk menyusui seorang pria muda, dan ini adalah praktik yang harus diamalkan oleh kaum Muslimah (Perempuan Muslim)!

h1

KEMATIAN RASULULLAH SAW!

4 Februari 2013

KEMATIAN RASULULLAH SAW!

KUBURAN NABI MUHAMMAD SAW!

KUBURAN NABI MUHAMMAD SAW!

Rasulullah Saw wafat pada tahun 632 Masehi, pada umur 62 tahun. Kematiannya diakibatkan karena pengaruh racun yang dimakannya di Khaibar 3 tahun sebelumnya, jadi selama 3 tahun Rasulullah Saw berkutat dengan racunnya tersebut, berjuang mati-matian agar dapat lepas dari pengaruh racun yang menggerogoti tubuhnya.

Khaybar adalah sebuah daerah yang ditempati oleh masyarakat Yahudi. Dua bulan sebelum penyerangannya di Khaibar, Rasulullah SAW bersama 1500 pengikutnya yang taat berangkat untuk melakukan Umrah (ibadah haji minor) di Mekkah. Akan tetapi karena mereka merasa takut kepada para kaum muslimin kalau-kalau para kaum Muslimin melakukan kekacauan, maka orang Mekkah tidak memperkenankan Nabi Muhammad Rasulullah Saw dan ummatnya untuk masuk ke kota Mekkah Al-Mukaromah dan memaksa mereka berkemah di tempat yang bernama Hudaibiyah yang letaknya tak jauh dari Mekkah Al-Mukaromah. Ketika di sana, akhirnya Rasulullah Saw membuat perjanjian bersama kaum Quraisy untuk berdamai selama 10 tahun dan kaum Quraisy akan mengijinkan Rasulullah Saw masuk ke Mekkah mulai tahun berikutnya untuk melaksanakan ibadah Haji dengan para ummat Rasulullah Saw. Perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Hudaibiyah.

Setelah menandatangani perjanjian ini, Rasulullah Saw dan ummatnya meninggalkan Mekkah. Namun gara-gara Perjanjian Hudaybiyah itu menyebabkan para kaum Muslimin tidak bisa berjihad di jalan Allah, maka Nabi Muhammad Rasulullah Saw sadar bahwa dia harus terus-menerus menumpas and membasmi orang kafir. Saat itu terjadi kemarau hebat di Madinah Al-Munawaroh. Lalu di perjalanan pulang ke Madinah itu, Beliau Saw memutuskan untuk melakukan serangan mendadak terhadap kaum Yahudi. Karena semua Kaum Yahudi di sekitar Madinah hartanya telah dirampas dan dimusnahkan, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah orang-orang Yahudi yang tinggal di Khaybar.

Untuk meyakinkan dan menyenangkan para ummat Rasulullah Saw ini, maka Allah Ta’ala menurunkan Surah Al-Fath; ayaat 20.
Allah Ta’ala berfirman: “Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus!”. (Qs Al-Fath: 20).

Sekitar 6 minggu kemudian Rasulullah Saw memimpin tentaranya dan menyerang Kaum Yahudi di Khaybar. Akhirnya masyarakat Khaybar menyerah, Nabi Muhammad Saw memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak-anak disekap secara terpisah. Melihat tragedi ini, suku Al-Aus memohon agar Nabi Muhammad Rasulullah Saw memperlakukan mereka dengan ringan. Rasulullah Saw mengusulkan agar Sa’d bin Mu’adh, diberi tugas untuk menentukan hukuman dan mereka setuju.

Kemudian Sa’d bin Mu’adh berkata: “Aku putuskan bahwasanya mereka yang laki-laki harus dibunuh dan anak-anak serta kaum wanitanya harus diambil menjadi tawanan!”. Lantas Rasulullah Saw bersabda kepada Sa’d bin Mu’adh: “Wahai Sa’d, kau tepat sekali! Engkau telah menjatuhkan keputusan untuk mereka dengan putusan (yang menyerupai) keputusan Allah!”. (Shahih Bukhari: 52: 280).

Akhirnya sekitar 600-800 lelaki Yahudi dipenggal disana. Nah, setelah Khaybar ditaklukkan oleh kaum Mukminin, seorang perempuan Yahudi yang bernama Zainab binti Harits mempersiapkan makan malam untuk Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Tanpa diketahui oleh para Kaum Muslim, wanita Yahudi ini telah menaburi racun di daging domba yang disajikan untuk makan malam. Rasulullah Saw memakan sebagian daging domba itu dan Beliau Saw wafat karena racun tersebut setelah tiga tahun kemudian.

.

KETIKA NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW DIRACUN!

Berikut ini akan kami sajikan beberapa dalil-dalil yang telah shahih seputar kisah Rasulullah Saw wafat karena diracun oleh wanita Yahudi.

Rasulullah Saw dan para shahabat-shahabatnya makan daging kambing itu. Daging kambing itu berkata: “Aku diracuni!”. Dia (Muhammad) berkata kepada para shahabatnya: “Tahan tanganmu! Karena daging ini telah mengatakan kepadaku bahwa dirinya diracuni!” Mereka lalu membuang daging-daging kambing itu dari tangannya, tapi Bisyr bin Bara’ wafat. Rasulullah Saw meminta agar ia (wanita Yahudi tersebut) dihadapkan kepadanya dan Beliau Saw bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Ia menjawab: “Aku ingin tahu apakah kau benar-benar seorang nabi Allah ataukah bukan. Jikalau memang benar kau itu seorang nabi Allah, maka racun ini tidak akan melukaimu, dan jikalau kau ternyata hanya seorang raja (bukan nabi Allah), maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu!”. Rasulullah Saw mengeluarkan perintah dan ia pun dihukum mati. (Ibnu Sa’ad didalam Kitab At-Tabaqat Al-Kabir; Jilid 2; 249).

Rasulullah memanggil Zaynab binti Harits dan bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu melakukan hal seperti ini?” Zaynab binti Harits menjawab: “Kau telah melakukan sesuatu kepada kaum ku. Kau telah membunuh ayahku; pamanku; suamiku, dan aku berkata kepada diriku sendiri: ‘Jikalau kau (Muhammad) adalah benar-benar seorang nabi, niscaya kaki depan mu itu akan memberitahumu’, dan juga aku telah berkata: ‘Jikalau kau (Muhammad) hanya seorang raja (alias hanya seorang nabi palsu), maka kami akan mengenyahkanmu.’” Rasulullah Saw hidup sampai tiga tahun sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga Beliau Saw wafat. Selama sakitnya Beliau Saw selalu berkata: “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun) yang kumakan di Khaibar dan aku menderita (kesakitan) beberapa kali (dari akibat racun itu), tapi sekarang kurasa tiba saatnya batang nadiku terputus.” (Ibnu Sa’ad didalam Kitab At-Tabaqat Al-Kabir; Jilid 251; 252).

Diriwayatkan oleh Abu Huraira: Beliau Saw bertanya: “Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau Saw bertanya: “Mengapa kau lakukan itu?” Mereka menjawab: “Kami ingin tahu, apakah kau ini pembohong atau bukan. Dan kalau kau (Muhammad) memang pembohong, maka kami akan menyingkirkanmu. Namun jika kau memang benar-benar seorang nabi, maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.” (Shahih Bukhari 53: 394).

Ketika Rasulullah Saw beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab binti Harits, istri Sallam bin Mishkam (seorang Yahudi yang dibunuh oleh kaum Muslimin), menyajikan baginya sebuah daging kambing bakar. Sebelumnya ia telah bertanya, bagian kambing manakah yang paling disukai Rasulullah Saw dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu ia membubuhi bagian itu dengan racun, dan ia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu ia menghidangkan daging kambing itu. Ketika daging kambing itu disajikan di hadapan Rasulullah Saw, Beliau Saw mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi Beliau Saw tidak menelannya. Di sebelah Rasulullah Saw ada Bisyr bin Bara’ bin Marur dan dia sama seperti halnya Rasulullah Saw yakni sama-sama mengambil bagian daging kambing itu. Akan tetapi Bisyr menelan daging kambing itu ketika Rasulullah Saw memuntahkan daging kambing itu dan bersabda: “Tulang ini memberitahuku bahwa dia diracuni.” Rasulullah Saw bertanya kepada Zaynab binti Harits: “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Zaynab binti Harits menjawab: “Bagaimana kau telah memperlakukan kaum ku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata: ‘Jika dia (Muhammad) memang benar-benar seorang nabi Allah, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja (bukan nabi Allah), maka aku akan dapat menyingkirkannya!’”. Rasulullah Saw mengampuninya. Dan Bisyr wafat karena daging kambing yang dimakannya itu. (Tabari 8; 123; 124).

Jadi ceritanya adalah, ketika Rasulullah Saw akan makan malam, maka seorang wanita Yahudi yang bernama Zaynab binti Harits mempunyai dendam membara kepada Rasulullah Saw dan para kaum Muslimin karena suaminya yang bernama Sallam bin Mishkam itu mati dibunuh oleh tentara Islam.
Karena Zaynab binti Harits dendam, maka ia akan mengetes kebenaran yang ada pada diri Rasulullah Saw denganb cara meracuni Rasulullah Saw. Pikirnya adalah: “Jika memang benar Muhammad Saw itu nabi Allah, maka Rasulullah Saw akan kebal terhadap racun itu!”.

Sebelumnya Zaynab binti Harits telah menanyakan dulu bagian daging kambing yang disukai oleh Rasulullah Saw dan ia diberitahu bahwa Rasulullah Saw suka dengan bagian kaki depannya. Setelah diketahui, maka bagian kaki depan daging kambing itu ia taburi racun, sengaja agar Rasulullah Saw memakan racun tersebut.

Rasulullah Saw duduk untuk menyantap hidangan makan malam dan di sebelah Rasulullah Saw duduk Bisyr bin Bara’.
Ketika Rasulullah Saw mengunyah daging kambing tersebut, maka daging kambing tersebut berbicara kepada Rasulullah: “Hai Rasulullah, aku ini diracun!”, maka Rasulullah Saw memuntahkan daging kambing itu. Namun ketika Rasulullah Saw mengunyah daging kambing itu, Bisyr bin Bara’ malah sudah menelannya, hingga akhirnya Bisyr bin Bara’ wafat.

Setelah Rasulullah Saw memuntahkan daging kambing itu, maka Rasulullah Saw memanggil Zaynab binti Harits dengan berkat: “Kenapa kamu melakukan hal ini (Meracuniku)?”, maka Zaynab binti Harits menjawab: “Aku melakukan ini karena aku ingin tahu bukti. Jikalau kau (Muhammad) benar-benar seorang nabi Allah, niscaya racun itu tidak akan melukaimu. Namun jikalau kau (Muhammad) adalah nabi palsu, niscaya aku akan mengusirmu!”.

Rasulullah Saw memang terbukti sebagai rasul Allah, maka racun tersebut tidak melukainya karena Beliau Saw dilindungi oleh Allah Swt. Namun karena Rasulullah Saw adalah seorang manusia biasa, maka tetap saja ada reaksi dari adanya racun di tubuh Rasulullah Saw tersebut hingga akhirnya Beliau Saw wafat setelah tiga tahun kemudian.

Dan Rasulullah Saw tidaklah merasa dendam kepada Zaynab binti Harits walaupun ia telah meracuninya, Rasulullah Saw telah memaafkannya. Namun tetap Zaynab binti Harits dihukum mati karena sebagai hukum Qishash atas perbuatannya meracuni Bisyr bin Bara’ hingga dia wafat.

Dan setelah Rasulullah Saw diracun tersebut, maka Beliau Saw sering berbekam untuk berobat.

.

KEADAAN RASULULLAH SAW MENJELANG KEMATIANNYA!

Diriwayatkan dari ‘Aisyah: “Didalam penderitaan karena penyakit Rasulullah Saw yang mengakibatkannya meninggal dunia, Rasulullah Saw selalu bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, aku (Muhammad) merasa sakit karena aku memakan daging kambing beracun yang kumakan di Khaybar, dan saat ini aku merasakan urat nadiku bagaikan dipotong oleh racun itu’!”. (Shahih Bukhari: 59: 713).

Dari Ibnu Sa’ad: “Sesungguhnya selama Beliau Saw sakit, Nabi Muhammad Saw melafalkan ‘Al-Mu’awwadhatayn’ (Surah Al-Falaq; dan Surah An-Naas), dan meniupkan udara ke atas tubuhnya sambil menggosok-gosok wajahnya. (Ini adalah usaha untuk sembuh).” (Ibnu Sa’ad didalam Kitab Thabaqat Al-Kabir: 263).

Rasulullah Saw jatuh sakit dan dia (yakni Jibril) berdoa baginya sambil berkata: “Bismillah (Dengan nama Allah) aku berdoa untuk mengusir semua yang melukaimu dan menangkal semua yang dengki padamu dan dari semua mata yang jahat dan Allah akan menyembuhkanmu!”. (Ibnu Sa’ad didalam Kitab Ath-Thabaqat Al-Kabir: 265).

Sesungguhnya, ketika Rasulullah Saw merasa sakit, Beliau Saw meminta Allah agar Allah menyembuhkannya. Tapi karena penyakitnya yang menyebabkan Beliau Saw wafat, Beliau Saw tidak lagi berdoa untuk minta kesembuhan; Beliau Saw biasa berkata: “Wahai jiwa, apa yang terjadi denganmu sehingga kau mencari perlindungan di setiap tempat perlindungan?”. (Ibnu Sa’ad didalam Kitab Thabaqat Al-Kabir: 322).

.

KISAH WAFATNYA RASULULLAH SAW!

Di saat-saat terakhirnya Nabi Saw semakin menderita, Beliau Saw biasa menarik selimut untuk menutupi mukanya; tapi ketika dia merasa tak nyaman, dia menyingkirkannya dari wajahnya dan Beliau Saw bersabda: “Laknat Allah bagi orang-orang Yahudi dan Kristen yang membuat kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat keramat!”. (Ibnu Sa’ad didalam Kitab Thabaqat: 322).

Lalu penyakit Nabi Muhammad Saw bertambah buruk dan Beliau Saw menderita sakit hebat. Beliau Saw bersabda: “Siramkan air tujuh kantung kulit dari sumur-sumur yang berbeda ke atas tubuhku sehingga aku bisa ke luar bertemu ummatku dan memerintahkan mereka!”. Kami membantunya duduk di sebuah baskom tempat mandi milik Hafsah dan Umar dan kami menyiramkan air ke atasnya sampai Beliau Saw menjerit: “Cukup!, cukup!” Lalu beberapa istrinya mengelilinginya ketika pamannya (Abbas) ada bersamanya, dan mereka setuju untuk memaksanya minum obat. Abbas berkata: “Biar kupaksa dia!” tapi merekalah yang kemudian melakukannya. Ketika Beliau Saw sembuh, Beliau Saw bertanya mengenai siapa yang memperlakukannya seperti itu. Ketika para istrinya berkata padanya itu adalah perbuatan pamannya, Beliau Saw berkata: “Ini adalah obat-obatan yang dibeli para wanita dari negara sana”, dan Beliau Saw menunjuk arah Abyssinia (Ethiopia). Ketika Beliau Saw bertanya kepada para istrinya: “Mengapa mereka melakukan hal itu”, pamannya menjawab: “Kami khawatir kau akan menderita birsam” Rasulullah Saw menjawab: “Itu adalah penyakit yang tidak akan diberikan Allah kepadaku. Tidak ada seorang pun yang berkunjung ke rumah ini sampai mereka dipaksa makan obat ini, kecuali pamanku.” Maimunah (salah seorang istri Nabi Muhammad Saw) dipaksa untuk makan obat itu meskipun dia sedang puasa karena sumpah Rasulullah Saw sebagai hukuman atas apa yang mereka perbuat padanya. (Ibnu Hisyam didalam Sirah Nabawiyah: 679).

Ummu Bisyr datang kepada Nabi Saw diwaktu Nabi Saw sedang menderita sakit dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat demam seperti ini.” Nabi Saw berkata kepadanya: “Jika cobaan kita dua kali lipat beratnya, maka pahala kita di jannah (di syurga) pun menjadi dua kali lipat pula. Apa yang orang-orang katakan tentang penyakitku?” Dia (Ummu Bisyr) menjawab: “Mereka bilang itu birsam”. Karena itu Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak akan membuat Rasul-Nya menderita seperti itu (birsam) soalnya itu tanda kemasukan setan, tapi (rasa sakitku adalah akibat) daging kambing yang kumakan bersama-sama dengan anak laki-laki mu. Racun itu telah memotong urat nadiku!”. (Ibnu Sa’ad didalam Kitab Thabaqat Al-Kabir: 680).

‘Aisyah berkata: “Rasulullah Saw wafat di pelukanku saat giliranku (disaat jatahnya ‘Aisyah bersama Muhammad). Aku tidak berbuat kesalahan apapun terhadap oranglain. Adalah karena ketidaktahuanku dan usia mudaku sehingga Rasulullah wafat di pelukanku!”. (Ibnu Hisyam didalam Sirah Nabawiyah: 682).

Dan ketika Rasulullah Saw akan wafat, Beliau Saw bersabda: “Ya Allah, ampunilah aku; kasihanilah aku; dan hubungkanlah aku dengan Rafiqul ‘Ala (Teman Yang Maha Tinggi)!” Setelah itu rebahlah dia. (Sahih Bukhari: 59: 715).

Dan setelah Rasulullah Saw wafat, maka Abu Bakar berkata: “Wahai saudara-saudaraku sekalian, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sekarang Muhammad sudah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup!” Sambil membacakan ayaat Allah: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad dari Islam)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur!”. (Qs Ali ‘Imran: 144).

 

h1

SYAITAN NONGKRONG DI DALAM LUBANG HIDUNG KETIKA MALAM!

4 Februari 2013

SYAITAN NONGKRONG DI DALAM LUBANG HIDUNG KETIKA MALAM!

Dari Abu Hurairah Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika di antara kamu sekalian bangun dari tidur, hendaklah berwudhu dan memasukkan air ke lubang hidung lalu dikeluarkan sebanyak 3 kali, sesungguhnya syaitan bermalam di lubang hidung!”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Alasan syaitan bermalam di lubang hidung disebabkan karena jauhnya lubang hidung dari nilai dan sentuhan ibadah, beda dengan mata sebagai alat untuk memandang ciptaan Allah yang berupa langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (Qs Adz-Dzariyat; ayaat 21). (Ibid, hal.204).

Telinga sebagai alat untuk mendengarkan dzikir dan ayaat-ayaat Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (Qs Az-Zummar; ayaat 18).

Maka dari itu, syaitan selalu nongkrong di dalam hideng ketika malam ketika manusia sedang tertidur! 

 

h1

SALAH SATU KENIKMATAN DAN KEINDAHAN ISLAM ADALAH MENGANJURKAN LELAKI UNTUK MENIKAHI ANAK KECIL YANG BERUMUR ENAM TAHUN!

4 Februari 2013

SALAH SATU KENIKMATAN DAN KEINDAHAN ISLAM ADALAH MENGANJURKAN LELAKI UNTUK MENIKAHI ANAK KECIL YANG BERUMUR ENAM TAHUN! 

SYEKH PUJI ADALAH MUSLIM SEJATI, SEBAB DIA MENIKAHI ANAK KECIL!

SYEKH PUJI ADALAH MUSLIM SEJATI, SEBAB DIA MENIKAHI ANAK KECIL!

USTADZ ABI FAJRY FAISOL TANTOWI!

USTADZ ABI FAJRY FAISOL TANTOWI! 

By: Ustadz Abi Fajry Faisol Tantowi! 

Di sini ana (Penulis) ingin menberitahukan bahwasanya Islam itu amat Nikmat wa Indah, betapa bodohnya orang kafir itu, apalagi ummat Nasrani wa ummat Yahudi.

Islam itu nikmat banget, boleh memiliki isteri lebih dari satu, boleh mengawini anak yang masih kecil, masabodoh orang-orang kafir (orang-orang non Muslim) mau bilang apa terhadap Muslim, namun yang jelas sungguh nikmat bermain cinta dengan anak kecil itu.

Wal artikel di bawah ini ialah salah satu bukti bahwa kita boleh mengawini anak kecil. Sesungguhnya ana pengaggum Syekh Puji RHM (Rahimahumullah = Semoga Allah merahmatinya!).
Dan saat kita mati, kita akan disediakan oleh Allah -’Azza Wa Jalla- bidadari-bidadari cantik yang akan melayani kita setiap saat, dan kita boleh melakukan apapun kepada bidadari-bidadari tersebut. Subhanallah!, Mahasuci Allah!, betapa nikmatnya ajaran Islam itu.

Didalam Hadits shahih berikut, Nabi Muhammad Rasulullah SAW menceritakan secara rahasia pada ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW bermimpi tentang ‘Aisyah sebelum meminta ayahanda ‘Aisyah RA (Abu Bakar Siddiq RA) untuk memperistrinya. (Shohih Bukhari: 9140).

Diriwayahkan oleh Ummul Mu’minin, ‘Aisyah: Nabi Allah SAW berkata padaku: “Kau ditampakkan padaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam kain sutra, dan aku berkata padanya: ‘Singkapkan dia!’, dan lihatlah, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri): ‘Jikalau ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’ Maka kau ditunjukkan padaku, malaikat membawamu dengan sehelai kain sutra, dan aku berkata (pada malaikat): ‘Singkapkan dia!’, dan terlihat tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri): ‘Jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi’!’. (Shahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomor 90).

‘Aisyah RA berkata: “Ketika Rasulullah SAW menikahiku, ibu ku datang kepadaku dan membawaku masuk ke dalam rumah Rasulullah SAW dan tidak ada yang mengagetkanku selain kedatangan Rasulullah Saw kepadaku ketika di pagi hari.” (Shahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomor 151).

‘Aisyah RA berkata: “Aku biasa bermain dengan boneka-boneka ku di depan Nabi Muhammad SAW dan teman-teman perempuan ku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasulullah SAW masuk ke dalam (tempat tinggal ku) mereka lalu bersembunyi, kemudian Rasulullah SAW memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka-boneka atau bentuk-bentuk yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab ‘Aisyah saat itu masih kecil (anak kecil), belum mencapai usia pubertas)!”. (Fathul Bari halaman 143, Volume 13).

‘Aisyah RA melaporkan bahwa Rasulullah SAW menikahinya ketika ia berusia tujuh tahun, dan ia (Muhammad) membawanya ke rumahnya sebagai pengantin ketika ia berusia sembilan tahun, dan boneka-boneka nya dibawanya, dan ketika ia (Rasulullah) wafat, ia (‘Aisyah RA) berusia delapanbelas tahun. (Kitab Shahih Muslim Buku 008, Nomor 3327).

Dinyatakan ‘Aisyah sang Ummul Mu’minin RA: “Rasulullah Saw menikahiku ketika aku berusia enam atau tujuh tahun. Ketika kami tiba di Madinah, beberapa wanita datang, (Menurut Bishr: Ummu Ruman datang) kepadaku ketika aku sedang bermain ayunan. Mereka memandangku; mempersiapkanku; dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke hadapan Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW tinggal bersamaku sebagai suami istri ketika aku (Siti ‘Aisyah RA) berusia sembilan tahun”. (Kitab Sunan Abu Dawud Buku 41, Nomor 4915; and Nomor 4915; and Nomer 4915).

Diriwayatkan dari ‘Ursa: “Rasulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar Siddiq RA mengenai pernikahan Rasulullah SAW dengan ‘Aisyah RA. Abu Bakar RA berkata: ‘Tapi aku adalah saudara mu.’ kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Kamu memang saudara ku dalam agama Allah dan Kitab-Nya, tapi ia (‘Aisyah RA) adalah halal bagiku untuk kunikahi!”. (Shahih Bukhari. Volume 7. Buku 62. No. 18).

Abu Bakar RA sebenarnya tidak salah karena dalam tradisi bangsa Arab persaudaraan walaupun saudara angkat sama artinya dengan saudara kandung. Demikian juga dengan anak angkat. Adalah tabu mengawini anak saudara angkat atau isteri anak angkat menurut moral bangsa-bangsa Arab pada waktu itu.
Nabi Muhammad SAW sendiri pun menolak saat ditawari untuk menikah dengan putri Hamzah (yang juga adalah saudara angkat sepeti halnya Abu Bakar RA) dengan alasan bahwa putri Hamzah adalah keponakan angkatnya (seperti halnya ‘Aisyah juga adalah keponakan nya)!

.

BEBERAPA HIKMAH YANG BISA DIPETIK DARI POSTINGAN INI!

'AISYAH RA DINIKAHI OLEH RASULULLAH SAW KETIKA BERUMUR 6 TAHUN, KEMUDIAN DISETUBUHI SETELAH BERUMUR 9 TAHUN. (SUMBER: KITAB SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM)!

‘AISYAH RA DINIKAHI OLEH RASULULLAH SAW KETIKA BERUMUR 6 TAHUN, KEMUDIAN DISETUBUHI SETELAH BERUMUR 9 TAHUN. (SUMBER: KITAB SIRAH NABAWIYAH IBNU HISYAM)! 

Sesungguhnya ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari postingan ini, di antaranya!:

1] Mencontohkan mengawini anak kecil berusia 6 tahun dan menidurinya pada usia 9 tahun. 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA: Bahwa Nabi saw menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan dia melakukan hubungan pernikahan itu ketika ia berusia sembilan tahun. (Hisyam mengatakan: “Saya diberitahu bahwa ‘Aisyah tinggal bersama Rasulullah SAW selama sembilan tahun (yaitu sampai Rasul SAW wafat)”). (Shahih Bukhari).

‘Aisyah ra berkata: “Rasulullah Saw menikah ketika aku berusia enam tahun, dan aku dirawat di rumahnya ketika aku berusia sembilan tahun.” (Shahih Muslim; Bab: Pernikahan; Nomor: 3310).

2] Menyatakan bahwa lezatnya ‘Aisyah RA yang berumur 9 tahun secara fisik, seperti tharid (hidangan roti dan daging), tidak ada bandingannya. 

Diriwayatkan dari Abu Musa RA: “Rasul Allah SAW berkata: ‘Banyak di antara pria mencapai (tingkat) kesempurnaan tetapi tidak ada di antara wanita mencapai tingkat ini kecuali Asiyah (istri Fir’aun), dan Maryam (binti ‘Imran). Dan tidak diragukan lagi, keunggulan ‘Aisyah daripada wanita lain adalah seperti keunggulan Tharid (yaitu hidangan daging dan roti) daripada makanan lain’.” (Shahih Bukhari; 623).

3] Menganjurkan untuk mengawini anak-anak perawan yang masih kecil (masih sangat kecil) sehingga bisa meraba-raba mereka dan bermain-main dengan mereka. 

NABI MUHAMMAD SAW MENIKAHI 'AISYAH RA KETIKA NABI MUHAMMAD SAW BERUMUR 53 TAHUN, SEDANGKAN 'AISYAH RA BERUMUR 6 TAHUN!

NABI MUHAMMAD SAW MENIKAHI ‘AISYAH RA KETIKA NABI MUHAMMAD SAW BERUMUR 53 TAHUN, SEDANGKAN ‘AISYAH RA BERUMUR 6 TAHUN!

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah RA, dan dia berkata: “Ketika aku menikah, Rasulullah SAW bersabda kepadaku: ‘Apa tipe wanita yang telah kau nikahi?’ aku menjawab: ‘Aku telah menikahi seorang janda.’ Beliau SAW bersabda: ‘Mengapakah engkau tidak mau menikahi perawan, padahal kau jauh lebih nikmat dengan para perawan dan engkau bisa dengan mudah bermesraan dengannya?’ Rasulullah SAW bersabda lagi: ‘Mengapa kau tidak menikahi seorang gadis kecil sehingga kau bisa bermain-main dengannya dan kau selalu bersamanya?’. (Shahih Bukhari; Bab: Nikah; Nomor: 017).

Menurut hadits-hadits shahih berikut ini, Siti ‘Aisyah RA dinikahi Rasulullah SAW ketika Rasulullah SAW berusia lima puluh dua tahun, sedangkan ‘Aisyah RA berusia enam tahun, namun karena di saat itu ‘Aisyah RA masih terlalu kecil, maka Rasulullah SAW mulai menggaulinya di saat ‘Aisyah berusia sembilan tahun.

‘Aisyah RA (Radhiyallahu ‘Anha = Semoga Allah meridhoinya) berkata: “Rasulullah SAW menikahiku ketika aku berusia tujuh tahun (Dari jalur periwayatan lain, Sulaiman berkata: Atau enam tahun). Dan Beliau SAW melakukan hubungan denganku ketika aku berumur sembilan tahun”. (Sunan Abu Dawud; Jilid 2; Nomor 2116).

Dikisahkan dari ‘Aisyah RA; bahwa Nabi SAW menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan dia melakukan hubungan intim pernikahan itu ketika ia berusia sembilan tahun, dan kemudian mereka berdua tetap tinggal bersama-sama selama sembilan tahun (yaitu sampai Rasulullah SAW wafat). (Shahih Bukhari; 64).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra; bahwa Nabi SAW menikahinya ketika ia berusia enam tahun dan dia melakukan hubungan pernikahan itu ketika ia berusia sembilan tahun. Hisham mengatakan: “Saya diberitahu bahwa ‘Aisyah RA tinggal bersama Rasulullah SAW selama sembilan tahun (yaitu sampai kematiannya). Apa yang kamu ketahui mengenai Al-Qur’an adalah diimani oleh kalbu!”. (Shahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomor 65).

Diceritakan oleh ‘Ursa: “Rasulullah SAW menulis (kontrak kawin) dengan ‘Aisyah RA ketika ia berusia enam tahun dan melakukan hubungan intim dengannya ketika ia berusia sembilan tahun dan Beliau SAW tinggal dengannya selama sembilan tahun (yaitu sampai tibanya kematian Rasulullah SAW).” Shahih Bukhari Volume 7, Buku 62, Nomor 88).

Dikisahkan oleh Abu Hisyam: “Khadijah RA meninggal tiga tahun sebelum Rasulullah SAW berangkat ke Madinah. Beliau SAW tinggal di sana selama dua tahun atau lebih, dan Beliau SAW menikahi ‘Aisyah RA ketika ‘Aisyah RA berusia enam tahun, dan pernikahannya disempurnakan ketika ia berumur sembilan tahun.” (Shahih Bukhari Volume 5, Buku 58, Numor 236).

Apakah yang dimaksud kalimah “Pernikahannya disempurnakan” itu berarti melakukan hubungan intim (Kikuk-kikuk)? Jawabannya tentu saja, Ya!.

‘Aisyah RA pada usia 9 tahun itu sudah haid, maka hal ini tidak dapat dipastikan kebenarannya karena menurut hadits-hadits yang shahih pada usia tersebut ‘Aisyah RA masih belum haid.
Dari sumber hadist yang sahih, kita bisa melihat bahwa pada usia sembilan tahun saat digauli, Aisyah RA masih belum aqil baligh. Bahkan dari hadits-hadits tersebut pada usia sekitar 14-15 tahun saat perang Khaybar, ‘Aisyah Ra masih belum haid karena masih bermain dengan boneka. Didalam hukum syari’at Islam yang ketat pada zaman Rasulullah SAW, bermain boneka hanya diperbolehkan bagi anak-anak kecil yang belum aqil baligh saja. Jadi kesimpulannya, ‘Aisyah RA belum aqil baligh pada usia sembilan tahun saat digauli, bahkan pada usia 14-15 tahun pun saat perang Khaybar ia belum haid.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “Aku biasa bermain dengan boneka ku di hadapan Rasulullah SAW, dan teman-teman perempuan ku pun selalu bersama-sama bermain boneka denganku. Ketika Rasulullah SAW datang dan masuk (ke tempat tinggal ku), maka mereka (teman-teman perempuan ku) bersembunyi, tetapi Rasulullah SAW memanggil mereka untuk bergabung dan bermain denganku. (Bermain dengan boneka dan sejenisnya itu hukumnya haram, tetapi didalam hal ini ‘Aisyah RA diizinkan sebab ‘Aisyah saat itu masih kecil, dan ia belum mencapai usia pubertas (‘Aqil baligh)).” (Fathul Bari halaman 143; Jilid 13).

.

KESIMPULAN!

Subhanallah!, Mahasuci Allah!, inilah ajaran Islam yang sangat benar, kita sebagai kaum Muslimin diperbolehkan untuk mengawini dan menikahi anak kecil yang masih sangat kecil.

Semoga dari postingan ini kita semua bisa memahami lebih lanjut mengenai keindahan ajaran Islam dan hukum syari’at Islam, Islam memang agama yang indah dan nikmat.

Sungguh banyak bukti-bukti tentang keindahan dan kenikmatan Allah -Tabaraka Wa Ta’ala- kepada ummat Muhammad -’Alayhi Shalatu Wa Salam-, dan salah satunya adalah Muslim laki-laki diperbolehkan untuk selalu menikahi anak kecil yang berumur enam tahun (6 tahun), sebagaimana Nabi Muhammad SAW sang utusan Allah SWT yang telah menikahi ‘Aisyah RA yang di saat itu ‘Aisyah RA masih berusia enam tahun.

Yaa akhi Muslimin, mulai dari detik ini, marilah kita bersama-sama untuk selalu menikahi anak kecil yang berumur enam tahun, itulah salah satu nasihat dari ana kepada Antum sekalian!

Dan puji syukur kita hanya kepada Allah -Ta’ala-, sang Tuhan semesta ‘alam, beserta Shalawat dan Salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah -SAW- dan kepada para anggota keluarga nya dan kepada para shahabat nya dan kepada seluruh ummat nya hingga hari kiamat, dan semoga kita selalu mendapatkan bimbingan dan ridho Allah serta syafa’at dari Rasulullah -SAW-!

Amin!

Wassalam!

h1

NIKMATNYA MELAKUKAN ‘AZL!

4 Februari 2013

NIKMATNYA MELAKUKAN ‘AZL!

NIKMATNYA BER'AZL!

NIKMATNYA BER’AZL!

Mengenai masalah ‘Azl, telah masyhur pendapat para ‘ulama yaitu, ‘Azl itu diperbolehkan bagi pria.

Apakah yang dimaksud dengan ‘Azl?…

Sesungguhnya ‘Azl adalah praktek hubungan seksual yang dibenarkan menurut ajaran agama Islam, Al-’Azl (‘Azl) artinya adalah Senggama terputus (Coitus Interruptus).

‘Azl adalah praktek seksual, yakni pria boleh mengeluarkan air maninya (spermanya) di luar vagina isteri nya.

Arti ‘Azl ialah mencabut setelah memasukkan penisnya dari vagina untuk mengeluarkan mani di luar vagina. (Fathul Baari (IX/305)). 

Mengenai hal ini terdapat sejumlah hadits shahih sebagai dalil-dalil dan hujjah-hujjah dari Rasul Allah SAW, di antaranya!:

1] Diriwayatkan dari Jabir RA, dia telah mengatakan: “Kami ber’azl (Kami selalu melakukan ‘Azl) pada masa Rasulullah SAW (Shallallahu ‘Alayhi Wasallam)!”. (Shahih Bukhari pada no. 5207 pada kitab Nikah; and Shahih Muslim pada no. 1440 pada kitab Nikah). 

2] Diriwayatkan dari Jabir RA (Radhiyallahu ‘Anhu), dia telah mengatakan: “Kami ber’azl pada masa Rasulullah SAW, sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an masih diwahyukan.” (Shahih Bukhari pada no. 5209 pada kitab Nikah; dan Shahih Muslim pada no. 1440 pada kitab an-Nikah). 

3] Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia telah berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW, lantas dia mengatakan: ‘Aku mempunyai sahaya perempuan, dan aku biasa melakukan ‘azl darinya, sedangkan aku menginginkan sesuatu seperti yang diinginkan laki-laki. Kaum Yahudi mengklaim bahwa ‘azl adalah penguburan kecil terhadap bayi hidup-hidup.’ Maka Rasulullah Saw bersabda: ‘(Artinya) Kaum Yahudi berdusta. Seandainya Allah berkehendak untuk menciptakannya, maka mereka tidak mampu menolaknya’!”. (Sunan Tirmidzi pada no. 1136; dan Sunan Abu Dawud pada no. 2173 pada kitab Nikaah; dan Musnad Ahmad pada no. 11110 dengan sanad yang shohih). 

KITAB HADITS SHAHIH!

KITAB HADITS SHAHIH!

4] Diriwayatkan dari Jabir Ra bahwasanya seseorang datang kepada Rasulullah Saw seraya mengatakan: “Aku mempunyai sahaya perempuan, ia pelayan kami dan yang menyirami pohon kurma kami. Aku biasa menggaulinya, dan aku tidak suka jika ia hamil.” Maka, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Lakukanlah ‘Azl darinya, jikalau engkau suka. Sebab, akan datang kepadanya apa yang telah ditentukan baginya.” Orang ini pun melakukannya. Beberapa waktu kemudian, dia datang kepada Nabi Muhammad Saw seraya mengatakan: “Sahaya perempuan ku telah hamil.” Nabi Muhammad Saw mengatakan: “Aku telah mengabarkan kepadamu bahwa akan datang kepadanya apa yang telah ditentukan baginya.” (Shahih Muslim  pada no. 1439 pada kitab Nikah; dan Sunan Abu Dawud pada no. 2173 pada kitab Nikaah; dan Sunan Ibnu Majah pada no. 89 pada kitab Muqaddimah; dan Musnad Ahmad pada no. 13936). 

5] Diriwayatkan dari Jabir RA, dia berkata: “Kami ber’azl pada masa Rasulullah Saw, lalu hal itu sampai (terdengar) kepada Nabi Allah Saw, dan Beliau Saw tidak melarang kami untuk ber’azl.” (Shahih Muslim). 

.

KESIMPULAN!:

Wahai segenap pembaca yang budiman, betapa ajaran Islam itu hingga masalah bercinta dan berhubungan seksual pun diterangkan dan dijelaskan oleh hukum syari’at Islam!

Tidak ada satupun ajaran Islam yang di dalamnya sia-sia dan tidak bermanfa’at sedikitpun kecuali semuanya dengan kebenaran dan kebaikan bagi semesta ‘alam, sesungguhnya Islam adalah Rahmatan Lil ‘Alamin.

Karena telah dianjurkannya bagi kita (bagi kaum pria) untuk ber’azl (melakukan ‘azl), maka mulai dari sekarang, kalian boleh dan boleh untuk ber’azl dengan perempuan!

Sekian!

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.